
Waktu terus bergulir. Setelah pernyataan Genta pada Dewi, hubungan mereka semakin dekat. Genta dan Dewi, juga sering menghabiskan waktu bersama. Pria itu pun tak sungkan memberikan perhatiannya.
Saat Dewi bersedih, Genta lah orang pertama yang menghiburnya. Saat Genta tengah gelisah, Dewi yang memberikan ketenangan padanya.
Ya, saat ini mereka sudah saling memberi dan menerima perhatian. Meskipun, Dewi belum mengatakan 'YA' pada pernyataan Genta. Itu, karena permintaan Genta sendiri.
Kini, Genta sudah hampir lulus dari bangku SMA. Ia memutuskan, untuk memberitahu Dewi tentang rencana masa depannya. Setelah menghubungi Dewi, ia segera keluar dari rumah.
"Bu, Genta keluar dulu ya sebentar." pamit Genta pada ibunya.
"Sudah malam Gen, kamu mau kemana?" tanya ibunya dengan raut wajah cemas.
"Sebentar saja kok Bu. Boleh?" ibunya pun mengangguk tanda menyetujuinya.
Genta pun mencium punggung tangan ibunya dan segera menuju taman untuk bertemu Dewi. Tiba di taman, Genta sudah melihat Dewi menunggu.
Ia berjalan perlahan dan menutup kedua mata Dewi dengan telapak tangannya. Dewi tersenyum.Ia sudah mengetahui siapa yang datang.
"Kakak jangan iseng deh." ucapnya. Genta pun melepaskan tangannya dari kedua mata Dewi.
"Kamu tahu saja kalau kakak yang menutup mata kamu." Dewi kembali tersenyum.
"Cuma kakak pria yang berani berbuat itu sama aku. Teman-teman yang lain gak ada." tuturnya kemudian. "Kakak mau bicara apa?" tanya Dewi.
"Beberapa bulan lagi kakak akan segera lulus." Genta menjeda ucapannya.
"Jadi..." tanya Dewi kembali.
"Kakak akan melanjutkan pendidikan kakak ke ibu kota. Kamu setuju tidak?" Genta meminta pendapat dari Dewi.
Dewi terdiam. Ia ingin melarang Genta pergi. Namun, itu berarti ia menghalangi masa depan Genta. Lama ia berpikir. Panggilan Genta pun tak ia respon. Hingga Genta mengguncang pundaknya, barulah Dewi tersadar.
"Kok kamu melamun sih?" tanyanya. Dewi menggeleng.
"Gak kok kak." ucap Dewi.
"Jadi gimana?" tanya Genta kembali pada topik pembicaraan mereka.
"Kenapa kakak tanya aku? Bukankah seharusnya kakak tanya orang tua kakak?"
"Apa kamu tidak marah kakak tinggal?" bukannya menjawab pertanyaan Dewi, Genta justru bertanya kembali pada Dewi.
"Dewi gak apa apa kok kak. Kakak kan di sana untuk meraih kesuksesan. Jadi Dewi akan dukung keputusan kakak." ada yang berdenyut di dalam dadanya. Seakan Dewi tak rela berpisah dari pria ini.
Genta tersenyum.
"Ingat, kakak tunggu jawaban kamu loh. Kakak pasti akan sukses." jawab Genta dengan percaya diri.
"Nantinya, Dewi juga akan ke ibu kota untuk kuliah. Jadi kita pasti bertemu di sana." ucap Dewi. "Kakak pasti akan sulit pulang ke sini ya?"
"Hemm.. Tapi tetap akan kakak usahakan pulang sesering mungkin. Kakak pasti kangen sama kamu." Dewi tertawa.
"Kakak tuh lucu. Harusnya kakak lebih kangen keluarga kakak dari pada kangen Dewi." Genta tersipu. Menurutnya, apa yang di ucapkan Dewi memang benar.
"Iya ya." ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
••••••••••••
Beberapa bulan sudah berlalu. Genta kini telah lulus dari SMA. Saatnya ia akan merantau jauh dari keluarganya. Kembali ke ibu kota, tempatnya dilahirkan. Bertemu orang-orang yang mungkin masih mengenalnya.
Setelah ia mengatakan pada orang tuanya, bahwa ia akan kembali ke ibu kota untuk kuliah dan bekerja. Meski pada awalnya mereka tidak setuju, Genta tetap meyakinkan mereka jika ia akan baik-baik saja. Hingga akhirnya, mereka menyetujuinya. Mereka pun hanya bisa mendoakan kesuksesan untuk anaknya itu.
"Bu, pak, Genta berangkat ya." pamitnya.
"Jangan terlalu memaksakan diri ya nak. Kalau memang butuh bantuan bapak, segera hubungi bapak." tutur bapaknya.
"Iya Gen, jaga kesehatan kamu. Sering-sering telepon ya nak. Kalau ada kesempatan pulang, pulang ya. Ibu dan bapak, akan menyempatkan diri mengunjungi kamu." air mata ibu pun luruh.
Genta pun melangkah menuju stasiun. Dalam perjalanannya, ia tak melihat kehadiran Dewi. Apa Dewi tak ingin bertemu dengannya?
Namun ia terkejut ketika tiba di stasiun. Seorang gadis cantik berambut panjang dan berkulit putih, tengah berdiri di depan pintu masuk stasiun. Ia tersenyum dan melangkah pasti menuju sang gadis.
Gadis itu tersenyum menyambut pria yang telah lama di cintainya.
"Kakak kira kamu gak akan nemuin kakak hari ini." Genta menggenggam jemari Dewi lembut.
"Mana mungkin. Kakak hati-hati ya." ucap Dewi. hatinya sangat sedih. Namun i berusaha keras untuk tidak menampakkannya. Ia tak ingin Genta ragu dan akhirnya membatalkan kepergiannya.
"Sudah waktunya masuk." Dewi mengangguk.
"Hati-hati kak." lirihnya. "Ah iya." Dewi berjinjit dan membisikkan sesuatu di telinga Genta. "Tunggu aku. Aku akan datang padamu dan menjawab pernyataan cinta kakak." Genta tersenyum hangat.
Setelah kepergian Genta, air mata yang sejak tadi di tahannya mulai menetes. Dadanya terasa sesak.
Kuat wi. Kak Genta bukan meninggalkanmu. Ia hanya akan meraih cita-citanya. Kamu pun harus lebih rajin lagi belajar. Agar kamu bisa menyusulnya ke ibu kota. Bahkan, kamu pun bisa berkumpul dengan keluarga papamu di sana. Setidaknya, itu yang mama katakan padaku.
Dewi meyakinkan hatinya. Dia yakin, jika Genta akan baik-baik saja.
••••••••••••
Beberapa bulan sudah sejak Genta pergi ke ibu kota. Genta sering berkomunikasi melalui handphone dengan keluarganya juga Dewi.
Dewi sangat merindukan Genta. Sama halnya dengan Genta yang merindukan Dewi.
Saat ini, Genta sudah mendapatkan pekerjaan yang tidak akan mengganggu waktu kuliahnya. Genta bekerja keras untuk membiayai kuliahnya. Ia berusaha mendapatkan beasiswa agar tidak membebani kedua orang tuanya.
Beruntung ia memiliki otak yang cerdas. Hingga harapannya untuk mendapatkan beasiswa terkabul. Untuk biaya kuliah, ia tak lagi memusingkannya.
Kini, hanya tinggal biaya sehari-hari. Bayar kos, dan makan sehari-harinya. Untuk itu, ia mencari pekerjaan yang tidak mengganggu waktu kuliahnya, agar ia dapat mempertahankan beasiswanya.
••••••••••••
Kali ini, Dewi tengah berkomunikasi dengan keluarga papanya.
"Halo kak." jawab Dewi ketika ia mengangkat teleponnya.
"De, gimana kabar kamu?" tanya Brian.
"Aku dan mama baik-baik saja. Kakak masih di luar negeri?"
"Iya, dua tahun lagi kakak akan kembali. Tahun depan, Kinanti, mama dan papa akan kembali lebih dulu."
"Oh ya, akhirnya Dewi bisa ketemu papa lagi." Dewi merasa bahagia mendengar kabar itu.
"Bukannya papa sering datang ke sana?"
"Iya, tapi kan jarang kak. Kalau di sini, Dewi pasti gak perlu nunggu waktu enam bulan baru ketemu papa."
"Hahahaha.... Bisa saja kamu."
"Apa rencana kamu ke depannya?"
"Lulus SMP, aku akan masuk SMA di sini. Setelah itu, aku akan kuliah di ibu kota."
"Kenapa gak dari SMA saja?"
"Mama maunya seperti itu kak."
"Ya sudah. Salam buat mama Sofia ya."
"Oke bos. Salam juga buat papa, mama, dan Kinanti ya."
"Sip."