
Dewi dan Kiara baru saja keluar dari perpustakaan saat seseorang memanggil Kiara. Dewi dan Kiara pun menghentikan langkah mereka.
"Hai Ki." sapanya.
Kiara mengernyitkan dahinya kala melihat pria itu. Pria yang terlihat seusia mereka. Entah mengapa, Kiara merasa familiar dengan wajah itu.
"Siapa ya?" tanyanya.
Pasalnya, Kiara tak mampu mengingat nama pria ini. Pria itu terkekeh.
"Belum sampai satu tahun tidak bertemu, kamu sudah melupakan aku?" Kiara tersenyum malu.
"Dia itu Randy." bisik Dewi.
Seketika, kedua mata Kiara membola. Ya, Kiara memang sempat melupakan pria ini.
"Maaf ya." ucapnya pelan. Pria itu tersenyum dan mengangguk.
Mereka bertiga berjalan berdampingan dengan Kiara berada di antara Dewi dan Randy. Saling bertukar kabar. Setelahnya Randy meminta ponsel Kiara, hingga Kiara menatap bingung.
ww
"Mana ponsel kamu." pinta Randy.
Kiawwe22ee22a mencoba mencerna ucapan Randy. Randy mengulurkan tangannya, namun Kiara hanya menatapnya. Merasa tak mendapat respon Kiara, Randy mengambil ponsel yang ada di tangan Kiara. Dewi terkekeh melihat kejadian itu.
Entah Kiara menyadari atau tidak tentang pria ini. Randy mengembalikan ponsel Kiara.
"Ini. Aku sudah menyimpan nomorku. Nomor mu pun sudah ku save. Jangan lupa hubungi aku ya." ucap Randy riang.
"Bye cantik." Randy pun berlalu.
Dewi terbahak melihat Kiara mematung. Hingga Dewi sengaja menyenggol lengan Kiara. Kiara terlonjak.
"Kamu wi.. Ngagetin saja." Kiara mengusap dadanya.
"Kamu kenapa?" tanya Dewi dengan menahan tawanya. Kiara hanya menggeleng.
"Aku gak mimpikan?" Dewi menggeleng.
"Kok ada cowok ganteng kaya dia yang deketin aku ya?" tanya Kiara.
"Kamu sadar gak dia suka sama kamu?" Kiara menggeleng cepat.
"Ck.... kalau ada Puspa nih, sudah habis kamu di ledekin dia."
"Please wi, jangan cerita ke Puspa. Ya... ya...." ucap Kiara memohon.
"Oke...." Dewi membuat lingkaran dengan ibu jari dan telunjuknya.
Mereka pun bergegas meninggalkan kampus. Hari ini, Dewi akan mampir ke rumah Genta. Rumah yang di beli Genta untuk kedua orangtuanya dan adiknya.
Saat pertunangan mereka usai dulu, Genta segera memboyong keluarganya untuk tinggal di sana. Tak butuh waktu lama untuk mereka tiba di sana. Rumah dengan gaya minimalis, dan pekarangan yang tidak terlalu besar, namun terlihat asri.
Mereka masuk ke dalam rumah. Kiara membuatkan teh untuk mereka.
"Wi, kenapa kamu gak langsung menikah saja dengan kakak?" tanya Kiara.
Dewi tersenyum seraya menyesap tehnya. "Aku belum siap." jawabnya jujur.
"Menikah itu tidak mudah Ki. Banyak hal yang harus di persiapkan. Bukan hanya dana, atau tempat tinggal. Mental pun harus di persiapkan dengan matang." Dewi dan Kiara menoleh pada sumber suara.
Dewi berdiri dan mencium tangan ibu. Ibu pun tersenyum dan mengusap kepala Dewi dengan sayang. Mereka duduk bersama.
"Apa yang mama kamu alami, pasti sangat menyakitkan. Ibu sangat tahu rasanya." senyum pahit terlihat di wajah ibu.
"Maksud ibu?" tanya kiara.
Ibu kembali mengingat masa lalunya. Ada kegetiran yang terlihat di sana.
"Kalian tahu, bukan tentang kalian berdua. Ada dua keluarga besar yang terlibat di dalamnya. Ibu tahu, mama mu dulu tak mendapat restu dari kakek mu kan?" ibu tersenyum menatap Dewi. Dewi menganggukkan kepala membenarkan ucapan ibu.
"Karena itu, ibu dan mamamu memilih merestui hubunganmu dan Genta. Selain karena kalian saling mencintai, ibu dan mamamu punya keyakinan, jika kalian akan bisa saling melengkapi."
"Dengar nak, jika suatu hari Genta menuntut sesuatu yang sulit untuk kau lakukan, ibu katakan dari sekarang tinggalkan dia. Bukan ibu tak menyetujui hubungan kalian. Tapi ibu sangat tahu, di saat kamu tak bisa melakukan hal itu, kamu akan mengalami tekanan batin yang hebat.
"Sama seperti yang di alami mamamu. Dan ibu, tidak akan membela Genta sedikitpun. Karena memang dia sudah melakukan kesalahan. Jangan pernah bertahan hanya karena cinta. Cinta yang sesungguhnya tidak akan pernah memaksakan kehendak pada pasangannya."
Dewi dan Kiara menatap haru pada ibu. Mereka pun memeluk ibu dengan erat.
"Kia terharu. Ibu ternyata sangat bijak." ibu tersenyum.
"Dewi juga. Bangga banget sama ibu." ucapnya penuh haru.
"Kenapa kita jadi melow begini sih. Yuk kita bikin kue. Atau masak saja?" ucap ibu.
"Wah.... Keahlian Dewi semua itu Bu. Masakannya enak, kuenya juga enak." puji Kiara.
Dewi hanya tersenyum mendengar pujian dari Kiara. "Kamu mau aku ajarin? Siapa tahu mau kirim sesuatu untuk seseorang?" goda Dewi.
"Seseorang? Kia mulai tertarik punya pasangan ya?" tanya ibu penuh minat.
"Gak Bu... Kamu apaan sih wi...." mereka tergelak mendengar Kiara yang buru-buru menyangkal pernyataan Dewi.
Mereka pun mulai menyiapkan bahan-bahan yang di perlukan. Baik untuk membuat makan malam, ataupun kue. Kiara yang kurang bisa melakukan kegiatan itu, hanya membantu mengupas, atau memotong sayuran.
Sesekali, mereka menggoda Kiara hingga Kiara merasa sangat malu. Tak berapa lama, bapak pun ikut bergabung. Dewi merasa bahagia berada di tengah keluarga Genta. Kasih sayang dan kehangatan yang di inginkan nya, ada di sana.
"Terimakasih ya pak, Bu. Dewi bersyukur bisa mengenal kalian." ucap Dewi setelah kegiatan masak memasak itu selesai.
"Tidak perlu berterimakasih sayang. Bapak justru sangat senang, karena kamu menjadi bagian keluarga ini. Justru kami yang seharusnya minta maaf. Kami bukan lah dari kalangan orang berada. Tapi, kamu mau menerima Genta apa adanya." ucap bapak sendu.
Dewi memeluk bapak. Dewi sudah menganggap keluarga ini seperti keluarganya sendiri.
Tuhan, terimakasih untuk anugerah ini. Meski mereka bukan keluarga kandungku. Tapi mereka begitu menyayangiku. Terimakasih juga telah memberikan mama yang hebat untukku. Jaga mereka semua, berilah mereka kesehatan, panjang umur, dan bahagia yang berlimpah. Amin.
Dewi menitikkan airmatanya saat doa itu terucap dalam hatinya. Dari lubuk hati terdalam, ia masih berharap Bram kembali pada mamanya. Dan ia, bisa merasakan kasih sayang yang selama ini di rindukannya. Kasih sayang yang hilang dari figur seorang ayah.
Namun ia tahu, mamanya lah yang akan mengambil keputusan nanti. Entah mereka akan bersama, atau tidak.
Tidak salahkan baginya untuk berharap dan meminta hal itu pada Tuhan. Apapun hasil akhirnya nanti, akan ia terima. Semoga saja, harapannya terkabul. Dan Tuhan berbaik hati menjawab doanya.
🌼🌼🌼🌼🌼
Happy reading genks... Terimakasih karena masih setia dengan cerita ku..... Terimakasih buat kalian yang selalu mendukung cerita ini.
Jangan lupa like, komen, dan votenya ya. Bagi yang baru bergabung, rate-nya jangan lupa ya ⭐⭐⭐⭐⭐
Stay safe, stay healthy....
Semoga Corona ini cepat berlalu....
I love you genks.....