
Usai acara wisuda, Genta melakukan beberapa sesi foto bersama teman dan dosen-dosen yang sudah mengajarinya. Setelah berfoto dengan mereka, kali ini Genta berfoto bersama keluarganya.
Puas mengambil foto dengan semua anggota keluarganya, Genta mengajak mereka makan bersama di salah satu restoran terdekat. Bukan restoran mahal yang biasa ia datangi bersama dengan atasannya. Hanya restoran kelas menengah.
Genta sangat tahu, jika orangtuanya tidak akan mau makan di tempat yang mahal. Di sinilah mereka akhirnya. Rumah makan lesehan, dengan harga cukup murah dan terjangkau. Meski penghasilan Genta sudah di atas rata-rata, tak membuat dirinya lupa akan asal-usulnya.
Suasana kekeluargaan sangat terasa. Keakraban dan kehangatan keluarga yang di rindukan Genta ketika jauh dari orangtuanya. Begitupun dengan Dewi yang jauh dari ayahnya.
Selesai makan para pelayan segera membereskan meja dari piring kotor. Di atas meja kini tersedia makanan penutup. Cake dan eskrim, sudah tersaji. Sebelum menyantapnya, Genta mengeluarkan kotak beludru berwarna navy dari kantung jasnya.
Para orang tua sudah menampilkan senyum merekah mereka. Hanya Dewi yang belum memperhatikannya. Dewi tengah sibuk melihat ponselnya. Membalas beberapa pesan yang di kirimkan Brian padanya.
Saat tengah asyik berbalas pesan, Genta memegang jemari Dewi. Dewi menatap Genta dan baru melihat kotak itu.
Pikirannya sudah melayang pada pernikahan. Rasa takut dan bahagia, tiba-tiba saja menyatu di dalam hatinya. Rona wajahnya tak bisa ia sembunyikan.
"Dewi Adianna, aku menginginkanmu menjadi pendampingku. Maukah kau menerima diriku? Menerima segala kekurangan dan kelebihan ku?" ucap Genta. Dewi menutup mulutnya tak percaya. Matanya kini berkaca-kaca.
Tak ada kata terucap dari bibirnya. Sementara Kiara sudah mulai meneriakkan kata 'terima'. Dewi mulai menetralkan debaran jantungnya yang tadi sempat berdegup dengan kencang.
"Tapi kak, aku belum lulus sekolah. Aku juga ingin melanjutkan kuliah serta berkarir." Genta tersenyum mendengar penuturan Dewi.
"Kamu tenang saja. Pertunangan kita, akan di lakukan begitu kamu lulus. Sementara pernikahan, setelah kamu selesai kuliah. Aku tidak akan menghalangi karirmu." Dewi tersenyum bahagia. Ia pun mengangguk.
Setelah Dewi mengangguk, Genta memasangkan cincin di jemari Dewi. "Ini sebagai hadiah untuk kamu. Bukan cincin pertunangan." tutur Genta.
Kini hubungan mereka sudah selangkah semakin maju. Hal itu, membuat keluarga yang hadir di sana bertepuk tangan. Kiara segera memeluk Dewi.
•••••••••••
Genta ikut mengantar keluarganya ke apartemen milik Sofia ibu dari Dewi. Tiba di sana, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Genta mengantarkan mereka hingga lobby apartemen.
"Kamu gak mampir dulu sayang?" tanya Sofia.
"Gak ma. Sudah malam. Gak enak juga sama tetangga. Lagi pula, kalian pasti lelah. Lebih baik Genta pulang saja. Besok, Genta ke sini lagi." ucap Genta.
"Ya sudah, kamu bawa saja mobilnya ya." Genta mengangguk.
"Genta pulang dulu ya pak, Bu." Genta mencium punggung tangan bapak dan ibunya.
"Hati-hati ya nak" ucap ibu dan bapaknya.
"Hati-hati kak." ucap Kiara. Genta mengangguk dan mengacak rambut adik kesayangannya.
"Aku pulang dulu ya." pamit Genta pada Dewi. Dewi mengangguk dan tersenyum. Genta mengecup kening Dewi.
Setelah mobil yang di kendarai Genta melaju, mereka semua menuju lift dan unit milik Sofia. Mereka segera membersihkan diri dan mengistirahatkan tubuh lelah mereka.
Pagi hari, di apartemen Sofia. Mbok Narti sudah mulai menyiapkan sarapan di bantu oleh Sofia dan bu Asih.
Sementara pak Gunawan tengah menikmati secangkir kopi dan membaca koran. Dewi, Kiara dan Puspa, memilih joging di sekitar apartemen.
Saat akan turun dengan lift, didepan lift sudah ada seorang pria seusia mereka yang juga sedang menunggu. Kiara mengernyitkan dahi memandang pria itu.
Itu, cowok yang waktu itu kan? Setahuku, waktu kemarin ketemu bukan di lantai ini deh. batin Kiara.
"Wi, ingat cerita aku waktu itu gak?" bisik Kiara pada Dewi.
"Tentang cowok yang ketemu kamu di lift?" tanyanya dengan berbisik pula. Kiara mengangguk.
"Kamu ketemu dia?" masih dengan berbisik.
Kiara memberi isyarat dengan matanya menunjuk pria itu. Pria itu tengah fokus dengan ponsel di tangannya. Belum menoleh sedikitpun. Dewi melihat pria itu dan tersenyum.
"Kalian kenapa?" tanya Puspa. Seketika, pria di depan mereka ikut menoleh pada Puspa.
Pria itu mulai menyadari kehadiran mereka. Saat matanya bertemu dengan mata Kiara, membuat pria itu tersenyum. Kiara tersipu dan membalas senyum itu.
"Kamu kenal cowok itu Ki?" Puspa menghampiri Kiara dan berbisik di telinga Kiara.
Kiara hanya menggeleng cepat ke arah Puspa. Puspa menghela nafas kasar. Tak lama lift terbuka. Mereka semua masuk ke dalam lift dan menuju lantai yang sama.
"Kamu mau joging juga?" tanya Puspa pada pria itu. Dewi dan Kiara menatap Puspa dan pria itu bergantian.
"Kamu bicara dengan saya?" tanya pria itu. Kiara terlena hanya dengan mendengar suaranya.
"Iya lah. Emang ada orang lain lagi?" ketus Puspa.
"Jadi cewek jangan ketus-ketus." Dewi menyenggol lengan Puspa dan menegurnya.
"Maaf ya teman aku begitu orangnya." ucap Dewi.
"Gak apa." ucapnya.
"Tinggal di unit berapa?! Kok saya baru lihat?!" tanya pria itu lagi.
"Unit 507." jawab Dewi.
"Oh, unit itu ada yang punya ya. Setahu saya, unit itu tidak pernah ada yang menempati." ucapnya lagi.
"Hanya di tempati saat liburan. Dan kalau ingin berlibur kesini saja." kali ini, Kiara yang menjawab.
"Kenalkan, saya nama saya Randy." pria itu mengulurkan tangan pada Kiara. Dewi sudah menahan senyumnya melihat adegan itu.
Kiara melirik Dewi. Dewi memberi isyarat agar Kiara juga memperkenalkan dirinya. "Kiara." Kiara menyambut tangan pria itu.
"Mereka teman-teman kamu?" tanya Randy. Kiara mengangguk.
"Yang ini calon kakak ipar ku Dewi." tunjuk nya pada Dewi. Dewi tersenyum.
"Yang ini sahabatku Puspa." tunjuk nya pada Puspa. Puspa hanya menganggukkan kepala.
"Salam kenal." ucap Randy pada mereka.
"Tinggal di unit berapa?" tanya Dewi.
"Unit 512." ternyata, unit pria itu berada tepat di depan lift.
Tak lama lift terbuka. Mereka semua keluar bersamaan dan menuju taman apartemen dan mulai pemanasan sebelum joging.
Akhirnya, Kiara dapat bertemu dengan pria yang di sukai nya. Meski masih ada tanya di benaknya yang belum terjawab tentang pria ini. Terlalu malu rasanya jika ia bertanya.
💐💐💐💐💐
Hai readers ku sayang.... Bagaimana kabarnya hari ini. Tetap semangat ya.
Author ucapin thank you so much untuk setiap dukungan kalian. Untuk 🌹, vote, like, dan komen kalian.
Thank you guys....
Happy reading.
I Love you so much....😘