
Sofia sudah menyampaikan keinginan Bram pada Dewi. Gaun yang di beli oleh Bram pun sudah Dewi terima. Dewi akui, papanya cukup mengerti tentang fashion. Bahkan tanpa Dewi dan Bram sadari, mereka memiliki selera yang sama dalam memilih pakaian.
Dewi pun memutuskan untuk memberikan kesempatan pada ayah kandungnya itu. Minggu ini, ia berencana akan menghabiskan waktu bersama Bram.
Pagi hari, Dewi sudah mempersiapkan diri untuk bertemu ayahnya. Jantungnya berdegup kencang, hingga membuatnya berulang kali menarik dan menghembuskan nafas perlahan.
Ia begitu gugup setelah sekian lama tak bertemu Bram secara langsung. Apalagi, mengingat perlakuannya pada Bram terakhir kali. Sungguh, itu bukanlah hal yang pantas ia lakukan sebagai seorang anak pada orangtuanya. Saat itu, Dewi pun merasa bersalah pada Bram.
Dewi menuju lobi apartemen. Di sana, Bram sudah menunggunya. "Pa..." sapa Dewi dengan canggung.
Bram mengusap kepala Dewi dengan lembut. Ia bahagia mendapatkan kesempatan untuk menebus kesalahannya pada putri tercintanya. Mereka melangkah masuk ke mobil.
"Kita mau kemana sayang?" tanya Bram begitu pria itu duduk di belakang kemudi.
"Terserah papa saja." Dewi masih merasa ada kecanggungan di antara mereka.
Bram memutar otaknya memikirkan destinasi yang di sukai putrinya itu. Pasalnya, ia tidak begitu mengetahui apa yang menjadi hobi ataupun kesenangan putrinya. Ia merutuki kebodohannya yang tak menanyakannya pada Sofia sebelumnya.
"Kau suka olahraga?" tanyanya lagi.
Dewi menatap Bram kemudian mengangguk. "Iya." jawabnya kemudian.
"Apa itu?"
"Sepatu roda, sepeda, berkuda..." sebut Dewi. Bram menatap tak percaya pada putrinya.
"Berkuda? Sungguh? Apa mamamu yang mengajari?"
"Hmmm..." jawab Dewi seraya menganggukkan kepalanya.
Olahraga yang biasa ku lakukan bersama Sofia. Bram tersenyum.
"Oke kalau begitu."
Bram akhirnya menuju salah satu daerah yang memiliki arena berkuda. Empat puluh lima menit mereka lalui tanpa pembicaraan sedikitpun. Hingga mereka tiba, Bram dan Dewi melangkah memasuki arena itu.
Petugas menyambut kedatangan Bram yang memang sering datang ke tempat itu. Bram menuju loker miliknya dan membukanya. Di sana, ada pakaian khusus milik Sofia dulu ketika mereka menghabiskan waktu di arena itu. Bram memberikannya pada Dewi.
Dewi menerima pakaian itu dan berganti di toilet. Ia terkejut mendapati pakaian itu sangat pas di tubuhnya. Setelahnya, ia kembali ke arena. Bram sudah siap dan menunggu putrinya itu. Bram terpana melihat putrinya. Putrinya terlihat cantik dan elegan dalam balutan busana khusus berkuda itu.
Ia teringat dengan masa lalunya kembali. Wajah yang juga terlihat sama dengan seorang wanita di masa lalunya. Wanita yang mendampinginya, kemudian ia sakiti.
Penyesalan, kini memenuhi rongga dadanya. Tatapannya berubah sendu pada gadis di hadapannya.
Berulang kali dewi mengibaskan jemarinya, namun tak jua menyadarkan Bram dari lamunannya. Berulang kali pula Dewi memanggilnya, Bram seakan tak mendengarnya.
Bram tersentak saat Dewi menggenggam tangannya. Bram kembali pada kesadarannya. Kemudian ia tersenyum.
"Papa kenapa tadi?" tanya Dewi. Saat ini, mereka tengah menuju kandang kuda dan memilih kuda yang akan mereka tunggangi.
"Tidak ada. Hanya terkenang masa lalu." ucapnya seraya tersenyum masam.
"Pak Bram, selamat datang. Sudah lama bapak tidak datang." Bram tersenyum.
"Iya pak. Saya sedang sibuk belakangan ini. Bagaimana kabar anda pak Riko?" tanyanya pada petugas itu.
"Saya baik pak. Bapak ingin menunggangi Leo?" tanya petugas itu seraya mengusap kepala kuda putih yang bernama Leo itu.
Bram menganggukkan kepalanya. "Kau mau naik yang ini sayang?" Dewi menyentuh Leo.
Kuda bernama Leo itu terlihat menyukai Dewi. Dewi pun menyukainya. Ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Bram pun meminta pak Riko, memasang pelana di atas punggung Leo. Dewi menggunakan helm keselamatan dan mengusap Leo dengan sayang.
"Bagaimana dengan anda pak?" tanya pak Riko.
"Aku akan menggunakan Artax." tunjuk Bram.
Petugas segera menuju kandang kuda di depannya. Bram mengusap kuda bernama Artax itu. Terlihat kuda itu pun menyukai Bram. Dengan segera, petugas memasang pelana di punggung kuda Artax dan mengeluarkannya dari kandang.
Bram dan Dewi menikmati waktu berkuda mereka. Sesekali, mereka berlomba dalam ketangkasan berkuda. Layaknya penunggang kuda profesional, mereka berpacu dan melewati halang rintang dalam arena itu.
Bram mengajari banyak hal yang belum Dewi ketahui dalam tehnik berkuda. Dewi pun mendengarkan dan mempraktikkannya. Dalam waktu yang terbilang singkat, beberapa tehnik yang di ajarkan Bram, sudah di kuasai Dewi.
Sore pun tiba, Dewi dan Bram menyudahi kegiatan berkuda mereka. Dewi merasakan kehangatan yang memenuhi hatinya. Kehangatan yang selama ini di rindukannya.
Bram yang mengajarinya, merangkulnya, mendengarkannya, mengajaknya menikmati waktu berdua, dan banyak lagi.
Jika saja Tuhan mengizinkan ku untuk egois, aku ingin waktu berhenti di sini. Agar aku bisa menikmati saat-saat ini lebih lama. batinnya.
•••••••
Di pusat perbelanjaan di tengah kota, Jasmine tengah menikmati waktunya untuk berbelanja barang-barang yang di inginkan nya. Tanpa sengaja, seorang gadis dengan kaca mata hitam besar yang menutupi matanya, menabrak tubuh Jasmine.
"Lo gak punya mata?" ucapnya marah. Jasmine melihat gadis itu menggunakan kaca mata hitam.
"Pantas saja. Rupanya dia buta." ejek Jasmine setelah menatap gadis itu dengan intens.
Gadis itu hanya diam dan tak bersuara. Di melihat Jasmine dengan sangat jelas. Tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya.
Setelah menahan amarahnya, ia mulai tersenyum dan meminta maaf. "Maafkan saya." gadis itu pun berlalu meninggalkan Jasmine.
"Kenapa rasanya familiar dengan suara itu?" gumamnya pada dirinya sendiri setelah gadis itu berlalu.
Jasmine pun tak ambil pusing dengan gadis tak di kenalnya itu. Ia melanjutkan hobi berbelanja nya. Berkeliling mencari barang branded yang menjadi incarannya.
Puas berkeliling, Jasmine segera menuju mobilnya. Kemudian, ia melajukan mobil miliknya keluar dari sana. Dari arah belakang, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan dengan sengaja menabrak mobil milik Jasmine. Kemudian, mobil itu segera lari.
Para pengawal yang mengikuti Jasmine, tak sempat memperhatikannya. Hingga Jasmine tak bisa mengendalikan mobilnya yang tertabrak dan menabrak tiang rambu lalu lintas.
Jasmine pingsan dan pelipisnya terluka. Para pengawal segera menghampiri mobil milik Jasmine dan membantunya keluar. Sebagian dari mereka mengejar mobil itu, sebagian lagi, segera membawa Jasmine menuju rumah sakit terdekat. Salah seorang pengawal segera menghubungi Daniel.
Mereka tiba di rumah sakit dan menuju IGD. Baru mereka sadari, jika kaki Jasmine juga di aliri darah. Wajah mereka pucat pasi. Mereka tahu, Daniel pasti akan menghabisi mereka.