My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Sembunyi



Bram dalam perjalanan kembali ke ibukota. Pandangannya tak lepas dari amplop yang di berikan Dewi tadi. Surat putusan cerai dari pengadilan.


Sofi benar-benar sudah memutuskan untuk meninggalkannya. Tidak ada lagi harapan baginya untuk kembali. Semua kini sudah berakhir.


Bram termenung, pikirannya kembali melayang pada permintaan Rianti beberapa waktu lalu. Ingatannya kembali ke masa puluhan tahun lalu.


Memang benar, dulu ia meminta Rianti menikah dengannya hanya untuk memperoleh keturunan. Bahkan tanpa adanya rasa cinta di hatinya untuk Rianti. Hanya ada rasa simpati saat itu.


Bagaimana dengan sekarang? Bram terus menggali perasaannya. Mencari tahu rasa yang tersimpan untuk Rianti. Apakah ia sudah jatuh cinta padanya, atau rasa simpati saja yang masih ada?


Berkali-kali Bram menghela nafas. Sekali lagi ia mengakui, hanya cinta pada Sofia yang ia rasa. Benarkah ia tak pernah sedikitpun mencintai Rianti?


Pikirannya terasa buntu. Bram memijat pangkal hidungnya. Masalah yang seakan mendera terus menerus, membuat kepalanya terasa begitu pening.


Ia memutuskan untuk tak bertemu Siapapun untuk saat ini. Ia menyuruh supir pribadinya, mengantarkannya ke villa pribadi miliknya. Villa itu sebelumnya di persiapkan untuk Sofia dan Dewi. Namun, belum sempat villa itu di berikan, pernikahannya sudah berakhir.


Bram sendiri masih tak tahu, apakah villa itu akan tetap di berikan pada sofia atau tidak.


Bram tiba di villa yang luas, dengan hamparan bunga di depan dan belakang villa, pemandangan bukit yang menghijau menyambut kedatangannya. Suasana sejuk terasa menentramkan hatinya.


Villa yang terletak sedikit terpencil itu, hanya di ketahui dirinya dan supir pribadinya. Tidak ada orang lain yang tahu mengenai villa itu.


Bram merasa perlu menyendiri untuk beberapa saat. Berpikir dengan matang, sebelum ia mengambil keputusan untuk hubungannya dengan Rianti.


Bram mematikan semua komunikasi dan meminta mang Joni tinggal di sana bersamanya. Ia tidak ingin ada gangguan sedikitpun.


Sofi, baru ku sadari pentingnya hadirmu dalam hidupku. Padahal, kau sempat menghilang dari hidupku sekitar lima tahun tanpa kabar sedikit pun. Saat itu, aku tidak merasa sesepi ini. Bukan karena adanya Rianti di hidupku, aku tidak mengerti sepenuhnya tentang hatiku. Tapi sekarang, setelah surat perceraian kita sudah di sahkan oleh pengadilan, mengapa hatiku merasa sangat kesepian? Mengapa justru aku tidak ingin bertemu Rianti? Mengapa aku lebih memilih menyendiri seperti ini?


Bram menatap kosong pada halaman villa yang di tanami berbagai bunga.


••••••


Sore hari di ibukota, Genta mengiringi langkah Brian yang berjalan menuju lift. Brian berniat kembali ke rumah dan beristirahat.


Di lift, ponsel Genta berdenting pertanda pesan masuk. Genta mengambil benda pipih itu dan membuka pesan masuk yang ternyata di kirimkan oleh sang adik.


Kiara


Ka, Dewi lagi sedih banget. Coba kakak hibur. Dari tadi, Kia sudah coba. Tapi Dewi masih sedih juga.


Genta mengernyit membca pesan itu. Sedih? Kenapa?


Pria itu memutuskan melakukan panggilan telepon tepat setelah pintu lift terbuka.


Tut... Tut... Tut....


"Halo kak." Kiara menjawab panggilan Genta.


"Ada masalah apa?" tanya Genta langsung pada inti pembicaraan.


"Dewi, baru kasih pak Bram surat putusan pengadilan. Tapi, setelah itu dia sedih terus. Aku harus gimana?" tanya Kiara bingung.


"Putusan pengadilan?" Brian menoleh mendengar ucapan Genta.


"Iya kak. Dewi bilang, mama Sofi dan pak Bram kali ini benar-benar berpisah." ucapnya lirih.


"Apa?" Genta seakan tak percaya dengan pendengarannya.


Brian mengambil ponsel Genta. Genta yang tak siap, membiarkan Brian mengambil ponsel miliknya.


Tiba di kediamannya, Brian mencari keberadaan papanya Bram.


"Pa.... Papa...." Kinanti yang mendengar suara Brian segera menghampiri.


"Papa belum pulang kak." ucap Kinanti.


Genta berusaha menenangkan Brian dari emosi yang sedang menyulutnya. Brian begitu marah saat mendengar Bram dan Sofia bercerai.


"Tenang pak. Bapak harus tenang." pinta Genta. Brian menatap tajam pada Genta.


"Kenapa kakak cari papa?" tanya Kinanti yang sudah berdiri di depan Brian.


"Kakak ada perlu." jawabnya singkat.


"Brian, Kinanti? Ada apa nak?" tanya Rianti yang tengah menuruni anak tangga.


Brian mendekat menghampiri Rianti. "Ma, apa alasan papa bercerai dengan mama Sofi?" tanyanya to the point.


Rianti tak tahu harus bicara apa. Haruskah ia memberitahu Brian alasan Bram? Wanita paruh baya itu menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Karena papamu, tidak ingin menyakiti mama sofiamu lebih lagi." ungkap Rianti. Brian tertawa sinis.


"Alasan yang klasik. Dengan perceraian, masalah itu akan semakin memburuk. Mama sofi, akan semakin membenci papa." tutur Brian.


"Sayang, mama Sofi mu dan papamu, sudah lama bercerai." Rianti mengusap punggung Brian.


"Jadi mama tidak tahu, jika papa dan mama Sofi baru resmi bercerai?" Rianti membelalakkan matanya tak percaya.


"Mama Sofi yang menceraikannya."


Meski sebenarnya Rianti sudah mengetahui Bram dan Sofi belum bercerai sebelumnya, rasanya menyakitkan ketika tahu jika apa yang di dengarnya adalah kebenaran. Namun Rianti semakin terkejut mendengar kabar perceraian Sofi dan Bram, adalah kehendak Sofi.


Brian yang melihat diamnya Rianti memutuskan menghubungi Bram. Berkali-kali dirinya mencoba menghubungi papanya itu, namun tak juga bisa terhubung. Semua panggilan berada di luar jangkauan.


Brian mengumpat kesal. Rianti sadar, Bram sepertinya tengah lari dari kenyataan. Bertahun-tahun dirinya mendampingi Bram, ia sangat tahu, pria itu akan lari jika masalah itu menyangkut Sofi. Menepikan dirinya sendiri dan menjauh.


Selalu seperti ini mas. Dulu pun seperti ini. Saat mbak Sofi pergi, kau mengurung dirimu di kamar yang di tempati mbak Sofi selama berhari-hari. Sekarang pun kau masih melakukan hal yang sama. Tapi kemana kau?


Brian mencoba mencari Bram ke setiap hotel dan resort. Mungkin saja, Bram papanya ada di sana. Hasilnya, Brian kecewa. Karena Bram benar-benar hilang bak di telan bumi.


Brian sempat merasa senang saat tahu Sofi dan Bram belum bercerai. Namun sesaat kemudian, rasa senangnya berubah menjadi kemarahan, saat ia mengetahui bahwa Sofi dan Bram akhirnya resmi bercerai. Dan kali ini, Sofi sendiri yang memutuskan bercerai.


Akhirnya, Brian menghubungi Sofi untuk memastikan kabar yang di dengarnya itu. Dia masih berharap, bahwa berita itu adalah kebohongan. Sedikitpun Sofi tak menyangkal berita yang di terima Brian.


Harapan, tinggal sebuah harapan. Tak mungkin lagi ia wujudkan.


💐💐💐💐💐


Selamat malam readers ku tersayang.... Terimakasih masih setia dengan novel ku...


Jangan lupa likenya, komennya, dan votenya....🤗


Happy reading all


Love you so much😘


Selamat beristirahat semuanya.....