
Sudah lebih dari satu Minggu Genta berada di desanya. Sudah saatnya ia kembali menjalani aktifitasnya di kota. Selama seminggu terakhir, Genta sudah menghabiskan waktu bersama keluarganya juga gadis yang di cintainya Dewi.
Meski berat, Dewi tetap harus melepaskan Genta kembali ke ibukota. Dewi yakin, Genta akan menjaga hatinya dari godaan wanita lain. Begitupun Genta. Pria itu yakin, gadisnya tidak akan berpaling darinya.
"Besok kakak hati-hati ya." Genta mengangguk.
"Kalau liburan, Dewi ke ibukota ya!?" pinta Genta.
"Kalau itu, Dewi harus bilang ke mama dulu. Karena mama harus ambil cuti. Meskipun mama pemilik butik, mama gak mau seenaknya. Mama bilang harus jadi contoh." tutur Dewi.
"Hmmm.. Ya sudah. Tapi, kalau kamu berlibur ke ibukota, kabarin aku ya." pinta Genta lagi. Dewi mengangguk dan tersenyum manis.
Saat ini mereka tengah berada di taman. Tepatnya, di rumah pohon yang pernah di buat bersama teman-temannya saat kecil.
Untung saja, rumah pohon itu bisa mereka masuki.
ππππ
Sejak pukul tiga dini hari, Bu Dina --ibu dari Genta dan Kiara-- sudah menyiapkan banyak bahan makanan. Selain untuk sarapan bersama, Bu Dina juga menyiapkan bekal untuk Genta bawa.
Genta bisa menyimpannya dalam freezer atau kulkas saja. Menurut penuturan Genta, tempat kostnya memang di fasilitasi dengan kulkas kecil di setiap kamar.
Bu Dina membuat ayam yang sudah di bumbui, dan ikan yang sudah di pindang. Paling tidak, Genta bisa lebih irit untuk beberapa hari ke depan.
"Bu, Genta gak usah bawa banyak bekal begini." Genta masuk ke dapur. Sudah jam lima pagi ketika ia bangun tadi.
Genta berniat untuk lari pagi lebih dulu. Ia akan kembali ke ibukota jam tujuh pagi nanti. Dan ia akan tiba di ibukota pukul dua belas siang.
"Gak apa apa nak. Nanti kamu bisa lebih hemat di sana. Tinggal beli nasi saja. Kalau mau lebih hemat lagi, masak nasi sendiri." ibu Dina tetap pada pendiriannya. Genta hanya tersenyum.
Ia sangat paham pemikiran ibunya.
Ibu tuh pengertian banget deh. Lumayanlah perbaikan gizi. Hehehe.... Meski hanya satu Minggu atau sepuluh hari. Selebihnya makan di cafe atau mi instan. batin Genta sambil memakai sepatu kets nya untuk joging.
"Bu, Genta mau joging dulu ya." pamit Genta.
"Iya nak." jawab ibu.
Ibu kembali sibuk dengan pekerjaannya. Genta sudah mulai melakukan peregangan sebelum lari pagi. Beberapa menit kemudian, Genta memulai joging.
Di tengah keasyikannya joging, tiba-tiba saja Genta teringat pada Cindy. Sepertinya, ia baru menyadari hal itu.
Eh, kok gue ke ingat Cindy ya? Bukannya dia bilang dia lagi liburan di desa ini ya? Tapi, seingat gue, baru ketemu sehari itu saja deh. Terus, hari-hari berikutnya gak pernah ketemu. Seharusnya, kalau dia liburan di sini, gue masih ketemu dia. Argh.. biarin saja. Genta berusaha menghilangkan pikirannya dari Cindy.
Genta terjingkat ketika ada orang yang mengejutkannya.
"Pagi-pagi kok melamun." sapa wanita paruh baya yang masih terlihat muda dan cantik itu.
"Tante..... astaga...." Genta berhenti dan mengusap dadanya karena terkejut. Wanita itu tertawa geli.
"Hahaha.... maaf ya, Tante gak maksud ngagetin kamu." ucapnya seraya menghapus air mata yang tergenang di sudut matanya.
Genta berusaha menenangkan debaran jantungnya yang hampir saja melompat dari tempatnya.
"Gak apa apa Tante." Genta menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Perlahan, debaran jantung itu mulai kembali normal.
"Kamu ngelamunin apa sih? Jangan ngelamunin Dewi ya. Biarkan Dewi sekolah yang benar dulu. Nanti baru kamu lamunin. Atau, kamu lamar sekalian." Genta menatap terkejut.
Ya, wanita paruh baya itu adalah Sofia ibu kandung Dewi. Genta tak percaya, bisa mendengar penuturan ibu dari sang kekasih.
"Bukan Dewi yang cerita. Tapi itu feeling Tante sebagai mama." bisik Sofia. Genta menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan menunduk malu.
"Tante itu pernah muda juga. Jadi Tante tahu arti tatapan mata kamu ke Dewi." Genta tersenyum malu tanpa mampu menjawab.
"Kamu gak mau jelasin apa-apa?" Genta terdiam sejenak.
"Maaf kalau Tante marah." ucap Genta. Sofia tersenyum.
"Tante gak marah kok. Tante yakin, kamu bisa menjaga Dewi." Sofia mengusap pundak Genta.
"Jangan panggil Tante ya. Panggil mama saja seperti Dewi." pinta Sofia.
"Hah?" Genta tak bisa mengatakan apapun. Pria itu kehabisan kata-kata.
"Karena Tante sangat setuju kamu jadi calon suami untuk Dewi di masa depan."
Deg.... Genta tak pernah berpikir bisa sampai sejauh itu dengan Dewi. Apa itu mungkin? tanyanya dalam hati.
"Kamu tenang saja, Dewi itu tipikal setia. Bukan 'setiap tikungan ada' ya." Genta tertawa.
"Hahahaha.... Tante bisa saja." saat ini, mereka tengah duduk di bangku taman.
"Sebentar lagi, Dewi pasti ke rumah kamu. Ya sudah, mama pulang ya. Ingat, jangan panggil Tante. Tapi mama." Genta menganggukkan kepala.
"Coba..?" Sofia berdiri dari duduknya.
"Iya ma. Sekalian Genta pamit. Genta akan kembali ke ibukota." Genta berdiri di samping Sofia. Kemudian, ia mencium tangan Sofia.
"Kamu hati-hati ya." Sofia memeluk Genta dengan sayang.
Genta sangat senang. Rupanya, calon ibu mertuanya menyetujui hubungannya dengan Dewi.
Tepat jam enam lebih empat puluh lima pagi, Genta sudah selesai bersiap-siap. Benar apa yang di katakan Sofia, jika Dewi akan datang ke rumahnya. Ia membawa beberapa bekal untuk Genta. Hanya sekedar untuk mengisi perut selama di perjalanan.
Genta menerimanya. Setelah itu, ia berpamitan dengan orang tuanya dan adiknya. Genta memeluk bapak dan ibunya. Tak lupa, ia memeluk Kiara adiknya.
Setelah berpamitan, Genta di antar oleh Kiara dan Dewi ke jalan depan untuk menunggu travel. Tak menunggu lama, travel pun tiba. Sekali lagi, Genta memeluk adiknya dan mencium keningnya.
Kiara menangis. Rasanya, belum puas ia menghilangkan kerinduannya pada sang kakak. Kemudian, ia beralih memeluk Dewi.
"Mama sudah menyetujui hubungan kita. Aku akan menjadi calon suamimu." bisik Genta saat memeluk Dewi. Dewi terbelalak.
Calon suami? Sejak kapan? Mama tahu aku punya hubungan dengan kak Genta?
Genta melepas pelukannya dan mencium kening Dewi. Kiara tersenyum di sela tangisnya. Apalagi saat melihat wajah Dewi yang memerah.
"Sampai jumpa calon istriku." ucap Genta yang terdengar jelas oleh Kiara.
Genta masuk ke dalam travel dan membiarkan Dewi dalam keterkejutannya. Kiara bersorak kegirangan. Hingga travel melaju, Dewi baru tersadar. Ia pun berlari seraya menutup wajahnya. Kiara meledeknya terus menerus dengan kata-kata 'calon kakak ipar'.
πππππππ
Thank you all for your support...
Love youβΊοΈπ