My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Kesedihan Dewi



Sudah satu bulan sejak Dewi bertemu papanya. Di depan sang mama, Dewi akan terlihat baik-baik saja. Namun, disaat ia melihat teman-temannya bermain dengan sang ayah, Dewi akan merindukan papanya.


Bukan karena Dewi tak mengerti perasaan dan maksud mamanya, namun tidak bolehkah ia merasakan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya? Dewi ingin menanyakan hal itu pada mamanya. Tapi ia tak ingin membuat perasaan mamanya terluka.


Tuhan, Dewi ingin hidup bersama dengan Mama dan papa. Juga dengan kak Brian. Salahkah Dewi meminta hal ini? batin Dewi.


Saat ini, Dewi tengah bermain ayunan di taman. Sore hari, banyak anak-anak yang bermain di temani orang tuanya. Ada rasa iri dalam hati anak itu.


Sofia saat ini, tengah di sibukkan dengan pesanan dari beberapa toko dan pelanggannya. Dewi mengerti akan ke sibukkan mamanya. Karena itu, ia memilih bermain sendiri setelah belajar di temani mbok Narti.


Tanpa ia sadari, Genta yang melewati taman itu memperhatikannya.


Ada apa dengan bocah itu? Biasanya dia terlihat ceria. Tapi belakangan ini dia terlihat muram. Ah.. bukan urusanku. Mungkin karena dia di marahi ibunya. batin Genta.


Genta melanjutkan langkahnya.


•••••••••••


Beberapa hari kemudian, setelah belajar di temani mbok Narti, Dewi datang ke tempat konveksi Sofia di antarkan oleh mbok Narti.


Tiba di sana, Kiara tengah bermain boneka di temani ibunya. Dewi menghampiri mamanya dan meminta izin untuk bermain bersama Kiara.


Setelah Sofia mengizinkannya, Dewi segera ke rumah Kiara bermain bersama.


"Selamat sore Tante, Kiara." sapa Dewi.


"Dewi. Ayo main bersama." ajak Kiara dengan senyuman bahagia. Ibunya turut tersenyum.


"Ayo, sini nak." ibu Kiara menunjukan tempat untuk Dewi bermain.


Dewi pun bermain dengan Kiara. Kali ini, Dewi bisa melupakan sedikit kesedihannya dan kerinduannya pada papanya. Genta yang baru pulang dari sekolah melihat ekspresi ceria lagi dari dirinya. Tanpa ia sadari, sudut bibirnya terangkat.


"Kak Gen, kenapa diam di situ?" tanya Kiara yang melihat Genta diam di tempat.


Genta tersadar dan melangkah masuk.


"Hai kak Genta." sapa Dewi ketika Genta memasuki halaman. Genta tersenyum dan menganggukkan kepala. Setelahnya ia masuk ke dalam rumah.


Mereka melanjutkan bermain. Pukul lima sore, Dewi berpamitan akan pulang. Ia kembali ke dalam konveksi dan menemui mamanya.


"Ma, Dewi pulang ya." pamit Dewi.


"Tunggu sebentar sayang, ini mama sudah selesai. Kita pulang bersama. Mama bereskan dulu ya." ujar Sofia seraya merapihkan meja kerjanya. Dewi mengangguk dan menunggu mamanya selesai.


Selesai merapihkan pekerjaannya, Sofia pamit pada pekerjanya.


"Bu Sarah, tidak usah lembur ya. Sesuai jam kerja saja." ucap Sofia pada salah satu pekerjanya.


"Baik Bu." jawab pekerja yang di panggil Bu Sarah itu.


Dewi dan Sofia pun melangkah pulang. Mereka berpapasan dengan ayah dari Genta dan Kiara.


"Baru pulang pak?" sapa Sofia.


"Iya Bu. Ini sudah mau pulang ya?" balas pak Gunawan.


"Iya pak. Mari pak" pamit Sofia.


"Iya silahkan Bu." pak Gunawan mempersilahkan.


Pak Gunawan membuka depot bakso di dekat pasar. Ia akan pulang, ketika dagangannya sudah habis terjual. Karena rasa yang enak, banyak pembeli yang mampir ke depot pak Gunawan. Hingga pak Gunawan, tak perlu berjualan hingga malam hari jika sedang ramai.


••••••••••••••


Waktu terus berlalu. Kini Dewi sudah duduk di kelas tiga SD. Ia sudah bersahabat dengan Puspa dan Kiara. Sofia sendiri sudah semakin sibuk. Kini, ia membuka butik di pinggiran kota.


Dewi pun sudah terbiasa mandiri. Usai sekolah, Dewi kembali ke rumah dan berganti pakaian. Kemudian, ia makan siang di temani mbok Narti. Selesai makan, kegiatan Dewi adalah mengerjakan tugas sekolah.


Terkadang, Puspa dan Kiara datang ke rumahnya untuk belajar bersama. Adakalanya, ia yang pergi ke rumah temannya. Namun kali ini, ia belajar sendiri.


Tak dapat di pungkiri, rasa sepi kini melanda dirinya. Sore hari, setelah mandi, Dewi meminta izin mbok Narti untuk bermain di taman.


"Mbok, Dewi main ke taman ya." ucap Dewi.


"Mbok temani ya non?" ucap mbok Narti.


"Gak usah mbok. Dewi sendiri saja." tolak Dewi.


"Non gak pa pa?" tanya mbok Narti khawatir.


"Gak pa pa mbok. Dewi pergi dulu mbok." Dewi tersenyum dan melangkah keluar dari rumah. Mbok Narti ikut tersenyum.


Tiba di taman, Dewi melihat banyak teman-temannya sudah berkumpul. Dewi ikut bergabung bersama mereka.


Satu jam kemudian, teman-temannya mulai pulang satu persatu. Hingga tinggallah Dewi di taman sendiri. Waktu masih menunjukkan pukul lima sore. Dewi melihat jam yang terpajang di rumah pohon yang masih berdiri kokoh di sana.


Dewi pun turun dari rumah pohon dan duduk di ayunan. Di saat seperti ini, Dewi merasa kesepian melanda hatinya. Ia pun melajukan ayunannya dengan kuat. Tanpa terasa, air mata pun mengalir di pipinya. Ia terisak pelan.


Genta yang baru pulang, dari depot bakso orang tuanya, melihat Dewi bermain ayunan dengan rasa khawatir.


"Dewi, kenapa main ayunannya kencang begitu? Kalau jatuh bagaimana?" gumamnya.


Ia pun menghampiri Dewi dan menghentikan ayunan yang di duduki Dewi. Dewi terkejut, dan matanya membola melihat Genta di sampingnya.


Sama dengan Genta yang melihat air mata Dewi.


"Kamu kenapa?" tanya Genta khawatir. "Ada yang ganggu kamu?" tanyanya lagi. Dewi menggeleng. "Kamu boleh kok cerita sama kakak." ucapnya.


Beberapa tahun mengenal Dewi, ia bisa melihat kerapuhan dalam diri anak itu.


"Tapi kak Gen janji jangan kasih tahu mama ya." Genta mengangguk dan tersenyum. "Sama siapapun juga."


"Iya kakak janji. Ini rahasia kita kan?" Dewi mengangguk dan mulai tersenyum. Ia mulai menghapus air matanya.


"Dewi kangen papa. Tapi, papa dan kak Brian ada di luar negeri. Mama rianti juga." Dewi mulai bercerita. Saat itu Brian tengah melanjutkan pendidikannya di luar negeri di temani kedua orang tuanya.


Genta pernah mendengar cerita Dewi, jika Dewi memiliki mama yang lain dan seorang kakak. Mereka berbeda ibu namun, satu ayah. Dewi sendiri, sudah mendengar cerita lengkap dari mamanya. Dan alasan mamanya tidak ingin kembali pada papanya.


Genta sedikit merasa iba pada gadis kecil itu. Ia pun merasakan ada rasa sayang pada Dewi. Entah rasa sayang sebagi apa. Genta membiarkan perasaannya mengalir seperti air.


"Kenapa kamu gak ikut papa kamu saja?" tanya Genta, meski ia tahu jawaban Dewi.


"Kakak tahu kan, Dewi gak mungkin tinggalin mama sendiri. Nanti mama sedih." tepat dugaan Genta.


"Tapi, sekarang kamu yang sedih. Apa itu lebih baik?" tanya Genta kemudian.


"Apa Dewi punya pilihan?" wajah Dewi semakin sendu.


Genta pun merangkul Dewi. Mengurangi sedikit rasa sedih di hati gadis kecil itu meski sebenarnya tak mengurangi. Namun, Dewi merasa nyaman.