
Cindy menundukkan kepalanya saat melangkah keluar dari ruangan Brian. Jam istirahat sudah berakhir. Jenny, Bagas dan Genta menatap padanya dengan curiga.
"Cin.." panggil Genta.
Cindy tersenyum kaku pada mereka. Kakinya baru akan melangkah meninggalkan mereka, namun gagal karena Genta sudah berdiri di depannya.
"Kenapa pak Brian mengajakmu makan siang bersama?" tanya nya.
Cindy menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar. "Aku juga tidak tahu." apa yang di ucapkan Cindy tak sepenuhnya salah. Dia sendiri juga tidak mengetahui alasan Brian. Jika bukan karena di ancam Brian, Cindy tidak akan berada di sini.
Cindy sempat berpikir untuk tidak datang. Namun, ia takut Brian benar-benar melakukan ancamannya. Jika itu terjadi, teman satu departemennya akan semakin mencurigainya. Hal itu lah yang mendorongnya untuk mengikuti keinginan Brian.
"Yang benar saja, mana ada seorang wanita di ajak makan bersama jika tidak ada alasan? Pekerjaan misalnya?" gerutu Jenny.
"Kenapa kau yang menggerutu, kau cemburu pak Brian tak mengajakmu?" cibir Bagas. Jasmine memukul bibirnya sendiri. Ia lupa sang kekasih ada di dekatnya.
"Tidak kok." jawab Jenny dengan senyum kaku di wajahnya.
"Kami tidak membicarakan pekerjaan." jawab Cindy jujur.
"Jadi?" tanya Genta penasaran.
Cindy mendekati Genta dan melipat tangannya di d***. Ia menatap Genta dengan tatapan menantang.
"Kalau kalian ingin tahu, tanyakan langsung pada bos kalian itu. Aku sendiri tidak tahu alasannya mengundangku makan. Kami bahkan hanya diam saja tanpa bicara." jawabnya kesal.
Cindy segera berbalik dan meninggalkan ketiga orang itu yang membulatkan bibirnya tak percaya. Apa hal seperti itu memang ada? Entahlah mereka pun tak tahu.
Cindy tiba di ruangannya dengan wajah yang di tekuk. Hanna yang bekerja dalam satu departemen, menghampirinya.
"Lo kenapa cin? Kusut banget!?" Cindy terlihat semakin kesal.
Mimpi apa dirinya malam tadi, hingga semua orang membuatnya kesal. Ingin rasanya ia mengumpat semua orang hari ini. Akhirnya, Cindy hanya mengepalkan satu tangannya tanpa berucap. Hana terkejut melihatnya. Ia tahu, Cindy pasti tengah merasa emosi saat ini.
Sore hari jam kerja berakhir, Cindy meregangkan otot nya yang kaku. Setelah ia meredakan emosinya dengan memfokuskan diri, tubuhnya terasa sangat lelah.
Ia pun membereskan mejanya dan bersiap pulang. Selesai membereskan mejanya, ia segera melangkah keluar bersama Hanna sahabatnya.
"Lo tadi siang makan dimana? Kok gue gak lihat Lo di cafetaria?" tanya Hanna.
"Bisa di skip gak pertanyaan Lo itu? Gue gak pengen ingat kejadian siang tadi. Mood gue bisa hancur lagi." Hanna mengernyitkan dahinya.
"Sampai segitunya? Pasti ini berhubungan sama cowok." tebak Hanna. Cindy mendengus kesal. Sahabatnya ini paranormal kah?
"Tebakan gue benar ya?" tanya Hanna dengan seringai dan mata memicing.
"Lo mau jadi sasaran anjloknya mood gue?" tanya Cindy dengan nada semakin kesal.
"Eits.... big no. Mending sekarang kita nongki dulu sebelum pulang. Siapa tahu bisa jadi moodboster buat Lo." Hanna mendorong Cindy dari belakang.
Dengan cepat, Cindy menurunkan rasa kesal yang sempat naik ke permukaan tadi. Mereka mulai membicarakan hal tidak penting untuk meredakan kekesalan itu.
Sambil menunggu lift yang terus penuh, Cindy dan Hanna mencari cafe atau tempat nongkrong yang belum pernah mereka datangi. Mereka memang senang mendatangi tempat-tempat yang tengah di gandrungi kaula muda seperti mereka sejak duduk di bangku SMA.
Cindy bersandar menghadap lift. Saat terdengar lift terbuka, matanya menatap lift itu. Sialnya, lift yang terbuka itu adalah lift petinggi. Mata Cindy bersirobak dengan mata Brian.
Cindy sempat menangkap senyum tipis Brian padanya sebelum ia membuang tatapannya. Hanna yang melihat reaksi Cindy pun menengok ke arah lift yang sama. Bertepatan saat itu, lift tertutup.
"Lo punya masalah sama bos?" tanya Hanna dengan berbisik. Cindy hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Terus kenapa Lo buang muka begitu?" tanya Hanna heran.
Fix ini, masalahnya cowok. Tapi kali ini lebih bermutu. ucap Hanna dalam hati. Ia terkikik geli membayangkan sahabatnya bersama dengan bos mereka.
"Jangan ngebayangin yang macam-macam." bisik Cindy di telinga Hanna seraya merangkul tengkuk sahabatnya itu.
Hanna hanya tersenyum jahil padanya. Tak lama, lift karyawan pun berbunyi. Kali ini, mereka bisa mendapat giliran masuk.
Tiba di loby, mereka memutuskan untuk nongkrong di mall yang sering mereka kunjungi. Sudah lama rasanya mereka tidak ke sana. Terakhir kali, adalah saat kelulusan.
Belakangan ini, pekerjaan yang menumpuk membuat mereka lebih memilih fokus pada pekerjaan daripada nongkrong. Minggu pun, mereka gunakan untuk istirahat total.
Hanna meninggalkan mobilnya di kantor dan berniat menginap di rumah Cindy. Mereka terbiasa seperti itu. Sayangnya, rencana mereka harus berantakan karena Brian yang mendekati Cindy.
"Ikut aku." ucap Brian ketika ia tiba di depan Cindy. Cindy mendengus kesal.
Semua karyawan menatap tak percaya melihat kejadian itu. Meski Brian di kenal ramah pada setiap karyawannya, namun untuk bersikap sedekat itu baru kali ini mereka lihat.
Mereka mulai saling berbisik sambil melayangkan pandangan pada Cindy. Hal itu pun tak luput dari penglihatan Genta dan Bagas. Mereka saling pandang.
Cindy pun masuk ke dalam mobil Brian dengan perasaan dongkol dan wajah yang di tekuk. Terlebih lagi, ia harus duduk di sebelah Brian.
Ya Tuhan, mimpi apa gue semalam. Sial banget hari ini... geramnya dalam hati.
"Lo mau ngapain sih deketin gue terus." bahasa Cindy pun mulai terdengar tidak formal pada Brian. Brian menatap tajam pada Cindy.
"Sorry, mood gue sudah terlanjur hancur karena Lo."
"Lagi pula, ini sudah di luar jam kerja. Tidak salahkan?" gumamnya.
"Gue cuma ingin kenal Lo lebih dekat saja." Cindy ternganga tak percaya dengan pendengarannya.
Genta dan Bagas yang duduk di depan pun membulatkan mata mendengar ucapan Brian.
"Pak, anda tidak salah?" tanya Genta.
"Apanya yang salah? Apa salah saya ingin mengenal karyawan saya?" Brian balik bertanya
"Apa begini cara bos ingin mengenal karyawan wanitanya?" cibir Cindy.
"Maaf jika kau tidak suka. Tapi beginilah caraku." jawab Brian.
"Bapak justru terlihat sedang mengejar hati wanita di bandingkan ingin mengenal karyawannya."
Deg..
Cindy akui, ia sempat terpesona pada Brian saat ia menolongnya dulu. Pria itu bahkan bisa mengontrol hasratnya saat itu.
"Benarkah? Tapi menurut saya tidak." jawab Brian.
Cindy mendesah lelah. Sulit baginya mendebat Brian saat ini. Energinya seperti tersedot habis saat melihat Brian lagi.
Brian mengantarkan Cindy ke rumahnya. Mood Cindy, benar-benar sudah di hancurkan oleh pria itu.
πππππππ
Hai gengs π
Jangan lupa like, komen, dan votenya ya......
Thank you gengs....