My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Bantuan Daniel



Jasmine menggila mendapat kenyataan jika usahanya kembali gagal. Ia berteriak histeris dan menghancurkan semua barang yang ada di kamarnya.


Daniel sang ayah yang mendengar keributan itu, mendatangi kamar putrinya dan memeluknya.


"Tenang nak. Ayah akan membantumu." ucap Daniel menenangkan Jasmine. Jasmine menangis sesenggukan.


"Kau, pasti akan menikah dengan pria itu. Pria yang kau cintai." Daniel membelai rambut Jasmine dengan sayang.


"Aku tidak ingin gagal lagi ayah." ucapnya di sela isak tangisnya.


"Ayah tahu. Kau sudah menyingkirkan adik tiri mu dengan baik. Maka sekarang, ayah akan membantumu mendapatkan pria itu." perlahan, Jasmine jatuh tertidur. Daniel merebahkan tubuh Jasmine di ranjangnya. Di pandangnya wajah putrinya itu.


Daniel kembali pada ingatannya dulu. Dimana dirinya mencoba mendekati Rianti, untuk menjodohkan Brian dan Jasmine. Sejak kecil, Jasmine sudah mengenal Brian dan menyukainya.


Dulu, Bram menentang ide Daniel, karena Brian dan Jasmine masih terlalu kecil untuk di jodohkan. Dengan gigih, Daniel mendekati Rianti untuk melancarkan rencananya.


Daniel dengan senang hati membantu putrinya untuk di jodohkan dengan Brian. Dari segi kejayaan, Daniel masih jauh berada di bawah keluarga Bram.


Namun, rencananya di tolak oleh Bram. Akhirnya, Daniel memutuskan menikahi seorang janda kaya raya untuk menaikkan status sosialnya. Pria itu tak pernah mencintai wanita itu.


Dari situlah, Jasmine memiliki seorang adik perempuan bernama Patricia. Saat mereka memasuki universitas, mereka melihat Brian. Jasmine yang memang sudah mengenalnya, mendekati Brian lebih dulu.


Sayangnya, Brian jatuh cinta pada adik Jasmine. Patricia yang lebih akrab di sapa Cia. Jasmine tidak bisa menerima itu hingga ia menangis pada sang ayah.


Daniel pun, lebih membela Jasmine. Beberapa kali, Daniel menghukum Cia karena gadis itu dekat dengan Brian. Dan dengan kejamnya, Jasmine membuat Cia mengakui hal yang tidak seharusnya di akuinya.


Brian yang mendengar pengakuan Cia, merasa kecewa dan meninggalkan Cia. Setelah itu, Brian hidup dalam luka yang di torehkan Cia padanya. Jasmine puas melihat Cia dan Brian tak lagi bersama.


Daniel kembali tersadar saat Jasmine mengigau kan nama Brian. "Brian... Aku mencintaimu Brian... Brian..." igaunya.


"Brian, kau tidak bisa menolak putriku." gumamnya.


Daniel keluar dan menutup pintu kamar Jasmine. Ia mengeluarkan benda pipih dari saku celananya dan menghubungi seseorang. Tak lama, panggilan itu terjawab.


"Buatkan aku janji untuk bertemu dengan Brian secara privasi bagaimana pun caranya." Daniel menutup telepon setelah mengatakan hal itu.


••••••


Janji sudah di buat, Brian dan Daniel, akan melakukan pertemuan hanya berdua di sebuah restoran. Brian tak memberitahu Genta tentang pertemuan itu. Ia berniat ingin menyelesaikan urusan Jasmine sendiri dan secepatnya.


"Om.." sapa Brian ketika ia tiba di hadapan Daniel. Daniel tersenyum


"Kau sudah dewasa. Aku pikir, kau melupakan Jasmine?" Brian tersenyum ramah.


"Mana mungkin aku mungkin aku melupakan om dan Jasmine. Kalian yang membantuku mengenal siapa Cia yang sebenarnya." ucap Brian tulus.


"Ya, om sungguh minta maaf atas nama Cia. Om sungguh malu padamu. Kau begitu tulus mencintai Cia, tapi om sangat kecewa ketika tahu, Cia tidak tulus padamu. Sekali lagi maaf." raut wajah Daniel, menunjukkan penyesalan yang begitu dalam.


"Bukan salah om. Apalagi, Cia hanya anak tiri om. Jadi wajar, om tidak tahu sifat aslinya."


"Oh, iya ada apa om mencari ku?" tanya Brian.


"Tidak ada, om hanya merindukanmu." Brian tersenyum.


"Brian, apa kau belum bisa membuka hatimu untuk Jasmine?" Brian menghela nafas dan membuangnya perlahan.


"Maaf om, sejujurnya aku memang belum bisa move on dari Cia. Tapi, aku tidak bisa menerima Jasmine. Di hatiku, Jasmine adalah teman terbaikku. Aku menyayanginya. Tapi hanya sebatas teman." Daniel bersikap tenang dan menundukkan pandangannya.


Ia mencoba meredam kemarahan yang akan terlihat jelas di matanya. Selama beberapa menit, Daniel tak bersuara.


"Sekali lagi, saya minta maaf." Daniel terkekeh.


"Anak muda, jangan terlalu di pikirkan. Om akan bicara pada Jasmine." Daniel menepuk punggung tangan Brian.


Dari kejauhan, Brian tak menyadari kehadiran Sofi. Sofi yang tengah makan siang di restoran yang sama dengan sahabatnya, memperhatikan pria di hadapan Genta.


Sofi merasa pernah bertemu pria itu. Ia mencoba mengingatnya. "Pras, kau kenal pria yang bersama Brian itu?" tanya Sofi pada temannya itu.


Pria bernama pras itu, menoleh ke arah pandang Sofi dan memperhatikan pria itu. Kemudian, bibirnya menyunggingkan senyum.


"Kau lupa, dia adalah mantan suami dari almarhum Cinthya?" Sofia menatap sahabat, sekaligus asistennya itu.


"Chintya..." Sofi mencoba mengingat nama itu.


"Apa maksudmu, Chintya pemilik City furniture?" Pras mengangguk.


"Ya, sekarang sudah berganti nama menjadi Future Furniture." Sofi mengernyit.


"Alasannya, City furniture mengalami kebangkrutan setelah Chintya meninggal lima belas tahun yang lalu. Setelah Daniel menikah dengan janda beranak satu bernama Sarah, dia mengubah nama perusahaannya." jawab Pras saat melihat wajah sahabatnya yang terlihat ingin tahu.


"Jadi, seperti itu. Apa Daniel sama liciknya dengan putrinya?" tanyanya lagi.


"Iya. Tapi, dalam menjalankan bisnis, putrinya lebih bisa di andalkan."


"Brian.." lirih Sofi.


"Kau lucu sekali, kau masih saja peduli pada anak dari mantan madu mu." Pras terkekeh.


"Bagaimanapun, dia adalah orang yang paling peduli padaku dan Dewi saat kami terpuruk." Sofi menghela nafas.


"Pras, bantu aku menjauhkan Brian dari Jasmine putri Daniel." Pras mengernyitkan dahinya dalam.


"Kenapa?"


"Putrinya mungkin tulus mencintai Brian. Tapi Daniel punya niat terselubung." tutur Sofia.


"Tepat sekali." Sofia menatap Pras bingung.


"Daniel, pasti akan membuat anak tiri mu tak berkutik jika putrinya berhasil mendapatkan dia."


"Jika Brian menikah, akankah mereka mengganggunya?" kembali Sofi bertanya.


"Tidak semudah itu, jika Jasmine masih mengincar Brian." Sofi memijit pelipisnya.


Brian pun bangkit berdiri dan meninggalkan tempat itu. Sofi, memperhatikannya hingga Brian tak lagi terlihat. Daniel masih di sana. Sofi mengikuti langkah kakinya yang ternyata berjalan ke tempat dimana Daniel duduk.


Daniel menatap Sofi dari atas hingga ke bawah. "Kau siapa?"tanyanya saat melihat Sofia.


"Jauhi Brian dari putrimu." Daniel menatap Sofia tajam.


Pras hanya menonton pertunjukan di depannya. Ia tersenyum dan menyesap minumannya. Sofi terlihat menahan amarahnya dan berusaha bicara santai.


"Hah.... Kau itu gila ya?" bentak Daniel. Pria itu berdiri dan ingin menampar Sofia.


Tepat saat itu, seorang pria memegang tangannya erat dan memelintir tangannya. Daniel mengaduh merasakan tangannya yang di pelintir. Sofia memejamkan matanya takut.


Seumur hidupnya, ia tidak pernah mendapatkan kekerasan fisik. Akhirnya, Sofia membuka matanya ketika mendengar Daniel mengaduh.