
Setelah memasuki Minggu ke enam, Dewi mulai merasakan pusing dan mual. Kebetulan, ia sedang berada di rumah Sofia.
Genta terlihat enggan meninggalkan Dewi. Apalagi, sejak bangun satu jam yang lalu, Dewi sudah memuntahkan isi perutnya.
Genta terlihat khawatir padanya. Beberapa kali, ia harus menyiapkan air hangat untuk di minum Dewi.
"Aku jadi gak tenang mau berangkat kerja." ucap Genta setelah membantu Dewi kembali rebah di ranjang.
"Kak, jauhan. Aku gak kuat cium bau kakak. Kakak tuh bau." ucap Dewi. Dewi menutup hidungnya saat Genta mendekat.
Genta mendesah. Ia sudah beberapa kali mencium bau tubuhnya. Rasanya, tidak ada yang aneh dari dirinya. Ia merasa serba salah jadinya.
"Apa bayi kita tidak suka ayahnya dekat dengan ibunya?" tanya Genta sedih.
"Aku gak tahu. Aku gak pengen kakak dekat-dekat aku sekarang." ucap Dewi.
Dari pintu, Sofia tersenyum kecil menatap menantu dan anaknya yang tengah berdebat karena sensitifnya Dewi belakangan ini. Ia pun mendekati mereka.
"Kamu harus sabar Gen..." ucap Sofia.
Genta dan Dewi melihat kepada Sofia. Genta tersenyum malu pada mertuanya itu.
"Ini namanya ngidam. Tapi hanya akan bertahan beberapa bulan saja. Paling lama, sampai bayi itu lahir." tutur Sofia.
"Kok lama ma?" Genta merasa merana saat ini.
Sofia dan Dewi tertawa melihat wajah Genta yang terlihat lesu. Sofia duduk di pinggir ranjang sebelah Dewi.
"Kalian nikmati saja masa seperti ini. Karena, jika Dewi hamil lagi nanti, belum tentu akan mengalami hal yang sama. Setiap bayi, memiliki bawaannya masing-masing.
"Kalian beruntung, tidak perlu waktu lama untuk memperoleh keturunan. Tidak perlu pengobatan yang melelahkan serta menyakitkan untuk memperolehnya." Sofia mengelus perut Dewi yang masih rata.
"Kalian sudah tahu perjuangan mama kan?" Dewi dan Genta mengangguk.
Dalam hati, Genta merasa bersyukur atas karunia yang di berikan Tuhan pada mereka. Di luar sana, banyak pasangan yang begitu mendamba buah hati, hingga rela menghabiskan banyak uang. Yang sayangnya, hanya terbuang sia-sia. Begitupun dengan mertuanya.
Dewi dan Genta menatap sendu pada Sofia. Sofia melihat sorot mata anak dan menantunya itu. Ia tersenyum menenangkan mereka.
"Jangan sedih, mama gak apa-apa kok." ucapnya.
"Jaga dia baik-baik." ucap Sofia dengan matanya yang menatap perut Dewi.
Dewi mengangguk. Hormon kehamilan, membuatnya lebih sensitif lagi. Kini, airmatanya menetes. Genta seakan lupa jika Dewi tak bisa berada di dekatnya, ia mendekatinya dan mengusap punggung istrinya itu.
Beberapa detik kemudian, Dewi tersadar dan mendorong tubuh Genta. "Kakak...." teriaknya.
Genta tersenyum kaku seraya memegang tengkuknya. Sofia terkekeh melihat pemandangan di hadapannya. Tanpa mereka ketahui, seseorang mendengar semua pembicaraan mereka.
Kini, orang itu memilih pergi dari sana setelah meminta mbok Narti untuk tak mengatakan tentang kehadirannya pada siapa pun.
*****
Pagi ini, Bram bangun sedikit lebih awal dari biasanya. Ia berniat menjenguk putrinya yang sedang berada di apartemen Sofia. Ia bergegas dan segera menuju apartemen Sofia.
Entah mengapa detak jantungnya berdegup dengan ritme di luar dari biasanya. Sebuah firasat menghampirinya. Sepertinya, sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Eh, pak..." sapa mbok Narti dengan hormat. Bram tersenyum.
"Ibu ada mbok?" tanyanya.
"Ada pak. Silahkan masuk." mbok Surti bergeser untuk mempersilahkan mantan suami majikannya masuk.
Bram masuk dan melihat Sofia berjalan masuk ke kamar lain. Sepertinya, itu kamar yang di gunakan putrinya. Ia berjalan perlahan. Namun sedetik kemudian, tubuhnya berdiri kaku. Beruntung, ia tidak berdiri tepat di pintu kamar.
Akhirnya, Bram memutuskan menyembunyikan dirinya di balik tembok. Ia dapat mendengar jelas semua pembicaraan Sofia dengan anak dan menantunya itu.
Hatinya terasa seperti di remas. Sakit, namun tak bisa ia obati. Bram memegang d***nya yang terasa sesak. Bertepatan dengan itu, mbok Narti masuk.
Bram berjalan mendekati mbok Narti. "Mbok, jangan beri tahu siapapun jika saya kesini. Saya mohon." lirih Bram.
Mbok Narti bingung, namun tak ayal ia menganggukkan kepalanya. Terlebih, saat melihat kedua mata Bram yang memerah. Ingin mbok Surti menanyakannya. Namun tak juga ia lakukan.
Saat mbok Narti di sibukkan dengan pemikirannya, Bram segera meninggalkan tempat itu. D***nya terasa makin sesak dan tak terkendali.
Malam harinya, pikiran Bram melayang kembali. Baik ke masa lalu ataupun masa sekarang. Dia merasa malu dengan dirinya. Kembali terngiang di telinganya suara Sofia yang menyayat hatinya.
Mengidam, adalah sesuatu yang tidak pernah ia alami ketika Sofia mengandung Dewi. Ia justru berada jauh dari Sofi kala itu. Kesulitan kah Sofi mengandung Dewi saat itu? Apakah yang di alami Dewi sama persis dengan Sofi dulu?
Pikiran-pikiran itu memenuhi benaknya. Hingga ia mencapai suatu kesimpulan.
Aku sadar, aku sangat tidak layak untuk Sofi. Aku terlalu banyak menyakiti hatinya. Bahkan, aku tidak pantas untuk sekedar mendapat maaf darinya. Sepertinya, aku memang harus mundur mulai sekarang. Maaf Sofi, bukan aku tak lagi menginginkanmu. Tapi kebahagiaanmu bukanlah bersama ku.
Ia kembali ke kamarnya dan mulai merebahkan tubuh lelahnya. Tidak hanya tubuhnya yang merasa lelah, hati dan pikirannya pun ikut merasa lelah. Hingga waktu menunjukkan pukul dua belas malam, Bram belum juga bisa terlelap. Meski pria itu menutup matanya, namun pikirannya masih saja berkelana entah kemana. Tubuhnya pun hanya berguling ke sana kemari.
Pagi hari, mata Bram terlihat lelah. Bawah matanya pun terlihat menghitam. Sampai subuh menjelang, ia tak juga terlelap. Saat ia berhasil di buai mimpi, matahari sudah menelusup melalui tirai kamarnya. Dan membuatnya kembali terjaga.
"Papa kenapa?" tanya Kinanti saat melihat Bram tak bersemangat.
"Tidak apa. Hanya tidak bisa tidur." jawabnya.
"Papa sakit?" Bram menggeleng.
Ia terus mengoles rotinya dengan selai dan melahapnya. Kinanti memperhatikannya. Tak lama, Brian ikut bergabung. Pria yang akan segera memasuki jenjang pernikahan dalam waktu dua Minggu lagi ini, sedang di sibukkan dengan banyaknya pekerjaan sebelum cutinya berlangsung.
"Kamu sudah putuskan akan tinggal dimana setelah menikah nanti?" tanya Bram.
Brian mengangguk. "Kami akan tinggal di apartemen ku pa." jawab Brian.
"Kenapa tidak di sini saja kak?" tanya Kinanti.
"Itu keinginan calon kakak ipar mu." jawab Brian.
"Lebih baik kakak dan kak Cindy tinggal di sini. Aku juga akan segera ke luar negeri." Bram dan Brian menatap Kinanti.
"Dengan siapa?" tanya Bram dan Brian bersamaan.
"Sendiri. Aku sudah mengajukan beasiswa di salah satu universitas di sana dan di terima. Jadi, aku akan melanjutkan S2 di sana." tuturnya.
Bram dan Brian terdiam. Kinanti yang dulu terlihat manja, kini terlihat lebih dewasa.