My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Extra part: Bimbang



Tanpa terasa hari pernikahan Brian dan Cindy pun tiba. Brian terlihat sangat gagah dan tampan dalam balutan jas putihnya. Serasi dengan gaun yang akan di gunakan Cindy nanti.


Beberapa kali Brian menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Bagas dan Genta masuk ke dalam kamar calon pengantin itu. Mereka terkekeh melihat kegugupan di wajah Brian.


Brian berdecak kesal melihat anak buah sekaligus sahabatnya itu. Ya, Brian memang sudah menganggap mereka layaknya sahabat. Dari merekalah pria itu mendapatkan cara untuk mendekati calon istrinya itu.


"Jangan tertawa. Kalian juga dulu seperti ini." ucapnya ketus.


Kali ini, bukan lagi kekehan. Genta dan Bagas sudah tertawa terbahak melihat reaksi Brian tadi. Setelah tawa mereka mereda, Genta dan Bagas memberikan Brian semangat.


"Santai bro. Ini tahap terakhir untuk mendapatkan cinta dari wanita Lo." ucap Bagas.


"Bukan tahap akhir. Tapi tahap awal." sambung Genta.


"Maksud Lo?" tanya Brian dan Bagas bersamaan.


"Lo gak tahu, setelah ini perjuangan Lo akan lebih berat." Bagas belum mengerti dengan maksud Genta. Begitupun dengan Brian.


Kedua pria itu pun saling bertukar pandang sebelum melemparkan pandangan penuh tanda tanya pada Genta. Genta pun mendesah melihat reaksi mereka. Ia merutuki keb****an Bagas yang tak juga mengerti.


"Lo kan udah sampai ke tahap menjadi seorang ayah. Pasti Lo ngertilah." ucap Genta pada Bagas.


Bagas mulai mengangguk paham dan tersenyum. Ah, rupanya jarang bertemu Genta membuat pemikirannya yang terbiasa satu arah dengan pria itu mulai bercabang. Pasalnya, sejak Dewi hamil, ia membantu sang istri di perusahaan mertuanya.


Itu adalah hadiah dari Sofia untuk mereka. Menyerahkan jabatan CEO pada Dewi. Namun, saat ini Dewi tak bisa menjalankan perannya hingga kursi itu harus di alihkan pada suaminya Genta.


"Baru satu bulan gak kerja bareng gue, sudah gak terkoneksi lagi otak Lo sama otak gue." cibir Genta.


Bagas meringis. "Ya, gimana ya..." Genta hanya menggeleng.


"Jadi, maksudnya apa?" tanya Brian polos.


"Ah, iya. Nanti juga Lo tahu bos. Santai saja." Genta tersenyum.


Saat mereka tengah asyik berbagi cerita, pintu kamar Brian di ketuk. Hingga mereka menghentikan obrolan mereka. Brian meminta orang yang mengetuk kamarnya masuk.


"Kak, sudah waktunya menjemput calon pengantin wanita." Kinanti melongok dari daun pintu.


Brian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Kemudian, menarik nafas sekali lagi dan menghembuskannya.


"Untuk hari ini, gue akan jadi pengawal sekaligus supir Lo." ucap Genta seraya menepuk pundak Brian dan melangkah mendahului Brian.


Brian terkejut mendengar ucapan adik ipar sekaligus sahabatnya itu. Di susul dengan Bagas yang ikut tersenyum dan keluar. Brian pun mengikuti langkah mereka.


Rupanya, baik Bagas maupun Genta ikut dalam mobil pengantin. Brian tersenyum senang sekaligus lega.


*****


Di sinilah mereka sekarang. Berjalan menuju altar untuk mengucapkan janji suci dalam pernikahan.


Cindy terlihat sangat cantik dan anggun. Berdiri berdampingan dengan Brian, membuat setiap mata yang memandang begitu iri dengan pasangan serasi itu.


Upacara sakral itu pun selesai. Kini, mereka tengah melakukan foto bersama dengan keluarga.


Dewi terlihat sangat cantik. Meski jujur saja, ia menahan diri dari rasa mual yang masih menghampirinya.


Sesi foto pun selesai. Kini, semua orang bergegas menuju tempat resepsi di adakan. Mereka menuju salah satu resort terdekat dari kota. Karena Brian dan Cindy, menggunakan konsep outdoor.


Sepanjang acara, Bram seakan menghindari Sofia. Ada saja alasan pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu. Hingga Sofia merasa ada yang salah.


Sofia tersenyum mendapati putrinya yang mengkhawatirkan dirinya. "Tidak apa nak." Sofia mengelus rambut Dewi yang di biarkan tergerai.


Dewi pun tak lagi bertanya. Selera makannya tergugah saat melihat banyaknya cake yang tersaji. Matanya terlihat berbinar.


Genta mengerti tatapan mata dari istri tercintanya itu. Genta menghampiri Dewi.


"Kamu mau makan itu?" tanyanya. Dewi mengangguk antusias.


"Boleh. Tapi, tidak boleh terlalu banyak ya. Makanan yang terlalu manis tidak baik untuk kesehatan kamu dan calon anak kita." lagi, Dewi mengangguk.


Genta mengambilkan beberapa potong cake untuk Dewi dan memberikannya. Dewi mengucapkan terimakasih dan mengecup mesra pipi Genta.


"Aku rela mengambilkan apa pun untuk kamu kalau di upah seperti ini." Genta menunjukkan senyum termanisnya.


Semburat merah terlihat di wajah Dewi. Ia memukul pelan lengan suaminya itu. Terkadang Genta senang melihat Dewi yang sedang merasa malu-malu seperti saat ini. Seakan, hormon kehamilan sedang tidak bereaksi jika ia mendekat.


Memanfaatkan moment yang ada, Genta memeluk Dewi dan mengecup pipinya. Baru saja kemesraan terjadi, Dewi segera menunjukkan ekspresi yang membuat Genta menegang.


Ya ampun nak, apa papa tidak boleh mendekati mama mu sedikit pun? Genta menahan nafasnya saat melihat Dewi mulai terlihat akan muntah.


Genta segera mengambil jarak. Setelah itu, Dewi terlihat lebih lega. Genta pun menghembuskan nafas kasar.


Sampai kapan seperti ini? Aku sudah bermain solo selama satu bulan ini.


"Maaf..." ucap Dewi sendu saat melihat wajah Genta yang begitu lesu.


"Tidak apa sayang. Akan ku nikmati." Genta tersenyum menatap istrinya. Dewi pun ikut tersenyum.


Setelah itu, Genta bergabung dengan Brian dan Bagas. Dewi sendiri kembali menikmati cake yang di berikan Genta tadi.


"Bagaimana keadaanmu sayang?" tanya Bram. Ia menarik kursi samping Dewi dan duduk di sana.


"Dewi baik pa." jawab Dewi seraya menampilkan senyumnya.


"Oh iya, kok papa tidak pernah ke apartemen mama belakangan ini?" tanya Dewi.


Tubuh Bram menegang mendengar pertanyaan putrinya itu. Ia memaksa senyum di hadapan putrinya sebelum menjawab.


"Tidak apa. Papa hanya sibuk membantu kakak mu mengurus pekerjaan. Apalagi, dia sudah mulai cuti." Bram memberi alasan.


Dewi mengangguk mengerti. Bram mengelus lembut rambut Dewi.


"Pa, boleh Dewi minta sesuatu?" Dewi menampilkan wajah penuh permohonan.


"Apa?" tanya Bram.


Dewi mengelap b****nya dengan tisu dan menggenggam jemari Bram. Dewi masih terdiam memilah kata dalam benaknya. Bram sendiri masih menunggu Dewi bicara.


"Bisakah papa kembali pada mama?" Bram menatap Dewi tak percaya.


Tidak kah Dewi tahu, jika dirinya sengaja menjauhi Sofia? Tetapi kini, putrinya sendiri yang meminta dirinya kembali pada Sofia. Apa yang harus di lakukan nya? Haruskah ia mengikuti kemauan sang putri? Ataukah ia akan tetap pada pendiriannya?


Jika dirinya menolak, Bram tahu pasti ia akan menyakiti putrinya. Tegakah ia menyakiti putrinya kembali? Sejak kecil, Dewi sangat jarang menginginkan sesuatu hingga menunjukkan wajah seserius kali ini.


Mata Bram tak berkedip sedikit pun dari wajah Dewi. Ia melihat ke dalam manik mata putrinya itu. Terlihat kesungguhan dari sana.


Apa yang harus ku lakukan?