My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Pilihan



Rianti berjalan trotoar depan hotel. Semalaman ia tak kembali ke rumah. Entah mengapa, ketika ia menginjakkan kakinya di halaman rumahnya, d**anya terasa sesak. Ia tak mampu membuka gerbang rumah itu. Pada akhirnya, ia memutuskan pergi.


Setelah berpikir ingin kemana, ia memutuskan tidur di hotel. Bukan hotel mewah seperti biasanya. Hanya hotel biasa. Sama halnya seperti Bram, Rianti tak bisa memejamkan mata sedikitpun. Pikirannya kembali melayang pada kejadian siang tadi.


Memikirkan hati yang tak pernah memikirkannya, ternyata cukup menyakitkan baginya. Rianti memutuskan pulang ke rumah orangtuanya. Namun sebelumnya, Rianti pulang ke rumahnya bersama Bram terlebih dahulu.


Saat ia tengah menunggu taksi pesanannya di sebuah halte, mobil Bram berhenti tepat di depannya. Rianti berdiri dan akan pergi, namun Bram lebih dulu memegang lengannya.


Pria itu membawanya masuk ke dalam mobil. Kemudian memutar dan duduk di bangku kemudi. Bram menjalankan mobilnya dan menarik nafas dalam sebelum memulai pembicaraan.


"Kemana kau semalam?" tanyanya.


"Aku mencarimu semalaman." lanjutnya.


"Apa kau mengkhawatirkan ku?" Rianti balik bertanya.


"Jelas aku khawatir. Kau itu istriku Rianti." ucap Bram. Rianti menatap nanar pada Bram.


Kau hanya menjalankan kewajibanmu mas. Kau tidak mencintaiku. batin Rianti.


Airmatanya mengalir tiba-tiba. Cepat-cepat Rianti mengusap airmata itu dan mengalihkan pandangannya. Bram melihat semua itu dari ekor matanya.


"Apa aku salah mengkhawatirkanmu?" tanyanya.


"Tidak." lirihnya.


Bukan itu masalahnya mas. hiks...hiks... rasa sesak itu kembali menyiksanya. Ia menggigit bibir bawahnya erat agar tak menangis.


Bram menghela nafas dan memutar kemudi menjauh dari jalan yang seharusnya menuju ke rumahnya. Empat puluh lima menit kemudian, mereka tiba di sebuah danau buatan yang berada di ibukota.


Bram turun dan duduk berdiri menyender di pintu mobilnya. Kepalanya terasa sangat pusing. Ia memijat pangkal hidungnya. Tak lama Rianti ikut keluar.


"Ada apa? Kenapa kau menangis?" tanya Bram.


"Tidak ada." ucapnya dengan suara bergetar.


Bram melangkah mendekati Rianti. Ia mencoba menatap dalam kedua mata indah milik Rianti. Terlihat jelas ada luka yang di tutupinya. Bahkan, pancaran kesedihan pun bisa di lihatnya.


"Apa yang membuat mu terluka dan bersedih seperti ini?" Bram menatap sendu pada Rianti. Rianti menundukkan kepalanya. Bram menariknya kedalam pelukan hangatnya.


Rianti tak bisa lagi menahan tangisan itu. Isakan yang awalnya tak terdengar, kian menggema di telinga Bram. Rianti membenamkan wajahnya di d**a bidang suaminya. Melepaskan semua beban yang menghimpitnya.


Setelah puas menangis Rianti melepaskan diri dari pelukan Bram.


"Sekarang katakan, hal apa yang membuatmu begitu terluka? Apa ini semua berhubungan dengan ucapan Sofi kemarin?" tanyanya.


"Itu juga salah satunya. Tapi bukan persoalan utama." lirihnya.


"Tidak usah kau pikirkan. Biar aku sendiri yang menyelesaikan masalah ini. Aku yang membuat Sofi jadi seperti ini."


"Mas, boleh aku bertanya sesuatu?" Bram mengangguk.


"Apa artinya aku untukmu?" Rianti menatap Bram dari samping.


Jantung Bram berdegup kencang Pria itu tak menyangka, jika Rianti akan menanyakan hal itu padanya. Bram menelan salivanya susah payah.


"Kau... Kau..." Bram tak tahu harus bicara apa. Rianti masih menunggu jawaban Bram, seraya hatinya mulai menghitung mundur.


"Dua..." masih belum.


"Satu..." Rianti mengalihkan perhatiannya ke danau. Ia sudah selesai menghitung.


"Kau tidak perlu menjawabnya. Aku sudah tahu jawabannya." kali ini, Bram yang menatap Rinto dari samping.


Setelah mengatur perasaannya, Rianti mulai berkata "Kau tidak pernah mencintaiku. Yang ada hanyalah rasa tanggung jawab saja." wajahnya berubah sendu. Kembali airmata yang susah payah di tahannya, kembali mengalir.


Bram tertegun. Benarkah yang di katakan Rianti tentang perasaannya pada wanita yang sudah menemaninya selama seperempat abad pernikahan mereka?


"Di hatimu, hanya ada mbak Sofi. Sedikitpun, diriku tidak ada di sana." Rianti menghapus airmatanya.


"Maafkan aku. Sejujurnya, aku tidak mengerti perasaanku padamu." jujurnya.


"Kau, hanya membutuhkanku untuk melahirkan keturunanmu karena kau tak sabar menunggu." Bram tertampar dengan ucapan Rianti.


"Sayangnya, aku terlena dengan perhatianmu. Aku jatuh cinta padamu. Hingga aku ingin memilikimu dan tak ingin bersaing dengan mbak Sofi." isakan Rianti semakin terdengar.


"Karena aku tahu, cintamu hanya untuk dirinya."


"Sekarang aku ingin minta satu hal." Rianti menatap Bram.


Bram hanya menganggukkan kepalanya. Sepatah katapun tak bisa terucap dari bibirnya. Ia tahu, semua ini salahnya. Dua wanita tersakiti oleh ke egoisannya.


"Mas, jika kau harus memilih antara aku dan mbak Sofi, siapa yang akan kau pilih?" Bram bungkam.


Siapa yang ku pilih? Siapa? Aku tidak tahu. Terlalu banyak kesalahan yang ku buat. Masih bisa aku memilih? Bram memejamkan matanya.


"Aku tidak tahu." jawabnya sangat lirih.


"Pikirkanlah mas. Aku tidak ingin berada di situasi ini terus menerus. Ini sangat menyakitkan. Bagiku, dan bagi mbak Sofi." Rianti berbalik dan meninggalkan Bram dalam ketertegunannya.


•••••••


Di butiknya, Sofi tengah menatap ke arah luar. Ia berdiri di dekat jendela. Kemarin, ia pulang di antarkan oleh pria yang di temuinya di restoran, saat bertemu dengan Bram dan Rianti.


Sofi mengambil ponsel dari saku celananya dan menghubungi seseorang. "Aku ingin minta tolong. Tolong segera urus surat perceraian ku dengan Bramantio Wijaya secepatnya." pintanya begitu sambungan telepon itu di jawab.


"..."


"Terimakasih." kemudian, ia mematikan ponselnya.


"Mas Bram, kau benar-benar tidak punya hati. Kau yang ingin menceraikan ku. Disaat aku setuju dan pergi, kau membatalkannya dan merahasiakannya. Sekarang, kau ingin aku kembali? Maaf, aku bukan mainanmu. Jika kau tidak ingin, maka aku yang akan mengajukan perceraian." gumamnya.


Sofia merasa di permainkan oleh Bram. Hingga dirinya merasa muak. Kini, ia tak ingin lagi terbelenggu oleh ikatan yang dinamakan pernikahan. Karena sejak awal, pernikahannya dan Bram sudah tak di restui.


Pi, maafkan Sofi yang tak mendengarkan ucapan papi. Sofi terlalu di butakan cinta. Papi benar, Bram bukanlah yang terbaik untuk Sofi. Maaf, Sofi sudah menyakiti papi. Sofi akan memperbaiki semuanya, dan kembali memimpin Hadinata Corp. seperti keinginan papi. Setelah urusan Dewi cucu papi, Sofi akan pulang ke rumah kita. Sofi menghapus airmata yang terbendung.


Jauh di lubuk hatinya, cinta untuk Bram memang masih ada. Tidak bisa ia pungkiri, saat Bram mengatakan mereka belum bercerai, hatinya begitu senang. Bahkan, ia srmpat berharap bisa kembali pada Bram.


Namun semua sirna, saat ia menyadari ada Rianti di antara mereka. Hingga ia lebih memilih mundur daripada melanjutkan pernikahannya.


Semua sudah berakhir. Tidak ada lagi yang bisa di perbaiki. Kisahnya dan Bram, berakhir dengan sad ending. Menyisakan luka dan kenangan pahit.