My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Bantuan Daniel #2



Pria itu melepaskan tangan Daniel yang di pelintir nya. Rahangnya mengeras dan menatap Daniel dengan wajah merah padam. Ia mengeratkan giginya.


"Berani sekali kau menggunakan kekerasan? Sekali kau sentuh dia, akan ku hancurkan perusahaan dan hidupmu." ucap pria itu.


Daniel melihat pria yang membela Sofi dan membelalakkan matanya tak percaya. Daniel membuang harga dirinya dan merendahkan dirinya di hadapan pria itu.


Pria yang akan menjadi besannya. Ia harus mampu mengambil hati pria ini. Kurang lebih tujuh belas tahun yang lalu, ia juga melakukan hal yang sama.


Namun, ia tak sampai merendahkan diri seperti saat ini. Sofia terkejut dengan kehadiran Bram dan menatap Pras dari tempatnya berdiri.


Pras hanya menunjukkan ponselnya dan tersenyum. Awas kau Pras. batinnya mengancam.


"Maaf pak Bram. Saya tidak bermaksud melakukan kekerasan..."


" Kau pikir aku buta?" geram Bram.


Bram, ada di sana setelah Pras menghubunginya. Sebelumnya Pras memberitahu, jika Daniel tengah bersama putranya. Hingga Bram secepatnya menuju ke restoran itu


Saat Bram tiba, drama yang terjadi adalah Sofi yang berbicara dengan Daniel. Bram mengamati hingga ia berlari ketika mendengar Daniel membentak Sofi.


"Sudah mas." lerai Sofi.


"Dia ini istriku. Kau tahu itu?" Daniel ternganga tak percaya. Sofi terkejut. Bagaimana bisa ia menjadi istrinya lagi? Mereka sudah bercerai.


Seingat ku, istri Bramantio Wijaya itu Rianti? Kenapa berubah jadi wanita ini? batin Daniel.


"Dia istri pertamaku." jawab Bram seakan mengerti kebingungan Daniel.


"Maaf nyonya saya tidak mengenal anda." Sofi tersenyum canggung.


"Putriku sangat mencintai Brian putra anda. Jadi, saya ingin menjodohkannya dengan Brian." Daniel berpikir, mungkin saja Sofi sepolos Rianti, yang mudah ia tipu.


Dulu, beberapa kali Daniel meminta Rianti meminjamkannya modal tanpa sepengetahuan Bram. Bahkan, Daniel belum membayar pinjaman itu. Rianti sendiri, tak pernah menagihnya. Rianti, juga menyukai Jasmine.


"Aku tidak ingin menjodoh-jodohkan putraku. Dia akan menemukan jodohnya sendiri tanpa ku jodohkan." jawab Sofi.


Daniel berubah pikiran, wanita di hadapannya ini, hanya terlihat sama polosnya dengan Rianti sekaligus berbeda. Sepertinya, jalannya tidak akan semudah imajinasinya.


"Maaf kalau begitu. Seharusnya, anda bertemu dulu dengan putriku. Anda pasti akan menyukai putriku seperti nyonya Rianti.." Bram mengamati reaksi Sofi.


"Boleh. Malam ini di restoran ini." tantang Sofi. Sofi ingin melihat seperti apa Jasmine yang begitu mencintai Brian hingga ingin menjebaknya.


Putrimu itu rendahan, mana sudi aku menikahkan Brian dengannya. Apapun yang terjadi, aku akan menghalanginya. batin Sofia.


Sofia, meski kau bukan ibu kandung Brian, tapi kau masih sangat peduli padanya. ucap Bram dalam hati.


S**l, wanita ini akan jadi penghalang terbesar. Apa aku harus mempengaruhi Rianti lagi? Wanita b***h itu, pasti dengan senang hati menerima Jasmine. geram Daniel dalam hatinya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu. Saya akan mengatakan pada Jasmine untuk bertemu anda." Sofi hanya mengangguk.


Daniel pun segera berlalu. Setelah Daniel pergi, Bram menatap Sofia. Saat akan bicara, Pras menghampiri mereka.


"Wah... Ternyata kau masih mencintai Sofi ya?" senyum jahil Pras terlihat menyebalkan di mata Sofi.


"Jangan anggap dirimu sahabatku lagi." ucap Sofi kesal.


"Tidak apa, sahabatku tidak hanya dirimu. Ada Bram yang masih menganggap ku sahabat." jawabnya enteng.


Sofi menatap kesal pada Bram dan Pras. Sejak dulu, dua manusia ini selalu kompak. Pras juga paling bisa menjaga rahasia dan menjadi tempat mereka berdua berkeluh kesah.


"Aku pergi." Sofi berbalik. Namun, baru dua langkah ia menjauh, ia kembali berbalik.


"Dan kau, jangan sebut aku istrimu lagi." Sofi pun segera berlalu meninggalkan dua orang yang menyebalkan itu.


"Terimakasih ya. Aku pergi dulu." ucap Bram.


"Kau masih mencintai Sofi?" mendengar pertanyaan Pras, Bram berhenti dan berbalik.


"Ya. Tapi aku terlanjur menyakitinya. Dia terlalu kecewa padaku." Bram menundukkan kepalanya.


"Kau tahu, mantan tunangan Sofi sudah tahu kalian bercerai?" Bram mengangkat kepalanya menatap Pras.


"Dia masih mengharapkan Sofi. Sampai detik ini, Dave masih sendiri." tuturnya.


"Jika Sofi memilihnya, itu haknya. Aku tak bisa menghalanginya untuk bahagia." ucap Bram sendu. Ia melanjutkan langkahnya meninggalkan Pras.


"Hah.... Kalian pasangan yang aneh. Sama-sama saling cinta, tapi memilih berpisah." Pras menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.


••••••••


Daniel tiba di rumahnya dan melihat mobil Jasmine sudah berada di halaman. Segera ia masuk ke dalam dan memanggil putrinya.


"Jasmine...." Daniel menuju kamar Jasmine.


Terdengar suara gemericik air dari arah kamar. Sepertinya Jasmine sedang mandi. Ia pun menunggu di bawah dan menyuruh pelayan di rumah untuk memberitahu Jasmine, jika ia menunggu.


Sepuluh menit kemudian, Jasmine duduk di hadapan ayahnya. "Ayah mencari ku?" tanyanya.


"Hem.. Ibu tiri Brian, ingin bertemu denganmu." Jasmine mengangkat kedua alisnya.


"Brian punya dua orang ibu. Ibu kandungnya adalah istri kedua. Kali ini, istri pertamanya yang ingin bertemu."


Jadi, Tante Rianti itu istri kedua? Wah menarik. Jasmine tersenyum jahat.


"Tapi kau harus hati-hati. Dia memang terlihat polos, sama seperti Rianti. Tapi, dia jauh berbeda dari Rianti" Daniel mengingatkan Jasmine.


"Jadi, aku harus apa yah?" Jasmine meminta saran.


"Cobalah berdandan biasa saja. Jangan terlihat glamor. Kita mulai dengan cara itu. Ingat, jangan terlalu mencolok." Jasmine menganggukkan kepalanya mengerti.


"Apa ibu tirinya itu dari kalangan biasa?" Daniel menyipitkan matanya mengingat sosok Sofia tadi.


"Ya. Ayah juga heran, bagaimana bisa pak Bram menyukai wanita seperti itu. Tampilannya tidak seperti orang terpandang. Begitupun cara berpakaiannya." Jasmine membayangkan wajah ibu tiri Brian itu.


"Apa dia cantik?" tanya Jasmine.


"Kalau cantik, dia jauh lebih cantik dari Rianti." Jasmine menganga tak percaya.


"Menurutku, Tante Rianti itu sangat cantik. Tapi, istri pertama om Bram lebih cantik lagi?" Daniel mengangguk pasti.


"Wah, pasti Tante Rianti kalah saing."


Dan itu, membuka jalan untukku. Aku bisa memprovokasi Tante Rianti untuk mendukungku. Seperti dulu. Rasanya, aku akan kembali ke masa lalu. Hanya saja, kali ini kawanku adalah saingan Tante Rianti. Jasmine sudah menata rencana dalam pikirannya.


"Ya sudah, siap-siaplah. Nanti, kau langsung datang ke restoran X bertemu dengannya." Daniel bangkit berdiri.


"Apa, perlu ayah temani?"


"Tidak ayah. Jika aku kesulitan, aku akan katakan pada ayah." tolak Jasmine.


"Baiklah. Ingat pesan ayah." Jasmine mengangguk dan tersenyum patuh.


Jasmine pun segera masuk ke kamarnya dan mencari baju yang terlihat sederhana. Dia mencoba semua pakaiannya untuk melihat, mana yang tidak terlalu mencolok.


Pilihannya jatuh pada dress berwarna moca tanpa hiasan. Sangat polos dan terlihat biasa. Jasmine mengenakannya dan mematut dirinya di cermin. Setelah di rasa cukup, Jasmine menuju restoran yang dikatakan ayahnya tadi.