
Sofia sudah selesai sarapan dan minum obat. Dewi membawa piring kotor ke dapur dan meninggalkan Brian bersama dengan mamanya. Dewi menghapus setitik air mata yang menetes di ujung matanya.
Rasa haru menyelimutinya. Brian begitu menyayangi mamanya. Brian dan mamanya seakan memiliki ikatan batin yang cukup kuat.
Apa aku harus bujuk mama untuk tinggal di rumah papa? Tapi, mama sendiri tidak ingin kembali ke sana. Dewi merasa bingung. Ia segera melangkah kembali ke kamar mamanya.
Sayup-sayup ia mendengar percakapan Genta dan mamanya. Ingin ia pergi dan tak mendengar apapun pembicaraan mereka. Namun, rasa ingin tahunya terlalu besar.
"Ma, Brian begitu ingin mama kembali." ungkap Brian.
Sofia tersenyum lemah dan menepuk punggung tangan Brian yang memegang tangannya. "Tidak sayang. Kamu ingin tahu alasan mama?" Brian mengangguk.
Sejujurnya, ia ingin tahu tapi ia takut mendengar jawaban Sofia yang sesungguhnya. Haruskah Brian menghentikan Sofia mengatakannya. Dari balik pintu, Dewi ikut penasaran dengan alasan mamanya.
"Mama dan papa, sudah lama bercerai. Jadi, tidak baik bagi kami untuk tinggal dalam satu atap. Mama tidak ingin orang lain mengatakan hal buruk tentang papamu." tutur Sofia.
Brian terkejut mendengar penuturan Sofia. Begitu pula dengan Dewi yang mencuri dengar pembicaraan mamanya dan Brian.
Cerai? Mama dan papa bercerai? tanpa terasa, tubuh Dewi meluruh ke lantai.
"Mama pasti bohong. Papa tidak pernah mengatakan apapun pada Brian." sanggah Brian.
Sejujurnya, Brian hanya menyangkal kebenaran yang sebenarnya sudah ia pikirkan selama ini. Pria itu tidak ingin mempercayainya.
"Maaf Brian. Itu adalah kenyataannya. Kau bisa menanyakannya langsung pada papamu. Ingatlah satu hal. Kau, tetaplah anak mama. Rasa sayang mama padamu, sama seperti mama menyayangi Dewi. Tidak akan pernah berubah." Brian tertunduk.
Kenyataan ini sangat menyakitkan baginya. Ia sangat tahu, selama ini Sofia pasti sangat terluka. Mengungkapkan luka itu saja, sudah sangat menyakitkan bagi Sofia. Apalagi jika Sofia harus berpura-pura di hadapannya.
"Maafkan Brian ma. Brian tidak tahu tentang itu." Brian meneteskan air matanya.
"Maaf, karena Brian sudah menyakiti hati mama." Sofia menghapus air mata Brian dengan ibu jarinya.
"Sudahlah nak. Mama ikhlas menjalaninya. Kamu, jangan menangis lagi ya. Jangan pernah paksa mama lagi untuk tinggal bersama papa." pinta Sofia. Sofia memeluk Brian dengan erat.
Dewi masuk ke kamarnya. Dia merasa sedih mendengar kenyataan jika kedua orangtuanya telah berpisah. Namun, ia berjanji dalam hatinya, tidak akan menyakiti mamanya dengan tinggal bersama papanya. Apalagi, memaksa mamanya kembali pada papanya.
Maaf ma, Dewi tidak pernah tahu bagaimana perasaan mama. Tapi mulai sekarang, Dewi tidak akan mengungkit masalah mama dan papa. Dewi yakin, mama melakukan ini semua untuk kebaikan mama dan Dewi. Maaf, karena Dewi hampir membuka luka hati mama lagi. Dewi menangis tersedu di kamarnya.
Di kamar Sofia
"Ya sudah, mama istirahat ya. Biar mama cepat sembuh. Masalah ini, nanti kita bicarakan lagi. Brian akan menginap di sini. Tidak apakan?" Sofia mengangguk.
Brian membetulkan posisi tidur Sofia dan menaikan selimut sampai batas lehernya. Kemudian, Brian mengecup kening Sofia. Tak lama kemudian, Sofia tertidur.
Melihat wajah pucat dan bibir Sofia yang memutih, membuat Brian bersedih. Wajah seperti itu, tak pernah di lihatnya. Dulu, Sofia selalu tersenyum. Saat dulu Sofia sakit, ia tak pernah membiarkan Brian melihatnya.
Brian menutup pintu kamar Sofia dan menuju ruang keluarga. Dewi sudah berada di sana. Dewi yang melihat Brian berjalan ke arahnya, tersenyum. Seakan dia tak mendengar pembicaraan kakak dan mamanya.
"Kakak mau makan siang? Biar Dewi siapkan." tanya Dewi.
"Iya." Dewi melangkah menuju meja makan dan menyiapkan makan siang untuk kakaknya dan dirinya.
"Ayo kak. Kita jarang makan bersama." mereka makan dalam diam.
Entah mengapa, ada aura canggung yang tercipta diantara mereka. Tidak seperti biasanya. Brian berdeham begitu ia selesai menenggak air minum dalam gelasnya. Makanannya pun telah habis.
Sekian detik Dewi menunggu, Brian tak jua membuka suara. "Kenapa kak?" akhirnya, Dewi bertanya.
"Tidak jadi." Dewi menghela nafasnya.
"Kakak kesini sendiri?" tanya Dewi.
"Memang mau sama siapa?" Brian balik bertanya.
"Ya pacar lah kak. Kakak kan sudah dewasa, apa kakak tidak ingin menikah?" Brian terkekeh.
"Anak kecil sudah bicara tentang menikah?" Brian mengacak rambut Dewi.
"Aku itu sudah besar kak." Dewi kembali merapihkan rambutnya.
"Oke. Kalau begitu, kamu sudah punya pacar?" Brian menatap mata Dewi hingga membuat Dewi gugup.
"Su..Sudah kak." Brian yang berniat mengejek Dewi, justru terkejut mendengar pernyataan Dewi.
"Wah... wah.... Ini sih harus kakak aduin ke mama!?" protes Brian.
"Aduin saja. Mama juga setuju." Brian semakin terkejut.
"Apa...." Dewi mengangguk.
"Justru karena mama setuju, makanya Dewi berani menerima laki-laki itu jadi pacar Dewi."
"Ralat.... bukan pacar tapi CALON SUAMI kata mama." Dewi menekankan kata 'calon suami' pada Brian. Brian semakin terkejut.
"Ya ampun. Kamu gak kenalin ke kakak dan papa dulu?" protes Brian.
"Nanti ya, kalau kita jadi menikah. Sekarang, Dewi masih fokus sekolah. Setelah lulus, Dewi masih ingin kuliah." tutur Dewi.
Brian kehabisan kata-kata. Ia tak tahu harus bicara apa. Beberapa menit lamanya ia hanya terdiam.
"Oke. Kalau begitu, saat kamu lulus SMA nanti, bawa laki-laki itu menemui kakak dan papa. Kalian tunangan saja dulu. Kecil-kecil pikiranmu sudah ingin menikah saja." gerutu Brian.
"Ya kalau kakak tidak mau Dewi langkahi, buruan menikah." balas Dewi.
"Memangnya kamu pikir menikah itu semudah membalikkan telapak tangan? Begitu bertemu perempuan, ajak menikah, terus selesai?" Dewi hanya mengendikkan bahunya.
"Ternyata kau benar-benar menganggap sepele ya."
"Bukan begitu kak. Dewi tahu, ketika kita berumah tangga, ada banyak hal yang harus di korbankan. Termasuk rasa egois. Dewi juga tahu, ada banyak hal berbeda, yang harus di jalani. Dewi kenal pria ini sejak kecil. Dewi sangat tahu seperti apa dia. Tapi tidak semudah itu. Papa dan mama yang menikah cukup lama saja, bisa bercerai. Jadi Dewi paham, masalah yang akan hadir ketika berumah tangga, pasti tidak semudah saat masih pacaran." Brian terkejut. Ternyata Dewi tahu masalah yang dihadapi mama dan papanya.
"Dewi tidak sengaja dengar pembicaraan mama dan kakak tadi." seakan mengerti keterkejutan Brian yang mendengar kata-kata Dewi tadi.
🌼🌼🌼🌼🌼
Hai semua. Terimakasih buat yang sudah mampir dan bersedia meninggalkan jejaknya. Jangan lupa like👍, komen🗯️, dan tap love❤️nya ya buat yang belum tap.
Thank you all
love you😘