My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Rasa Takut Dewi



Sofia kini sudah jauh lebih baik. Brian sudah merasa tenang meninggalkan desa itu. Brian berpamitan pada Sofia dan memeluk Sofia. Ada rasa tak rela dari hati Brian meninggalkan mama dan adiknya.


Di ibukota, ia hidup dalam kelimpahan, sementara mama dan adiknya, hidup dalam kesederhanaan.


"Mama ikut Brian ya ke ibukota." pinta Brian.


"Brian..." Brian tersenyum.


"Brian tahu ma. Maksud Brian, mama tinggal sama Brian di apartemen. Hanya kita bertiga. Mama, Brian dan Dewi." tuturnya.


"Tidak nak. Lebih baik mama disini." tolak Sofia.


"Cukup. Jika mama ingin kembali ke ibukota, mama akan memberitahumu." melihat Brian yang akan mengatakan sesuatu, Sofia menyela lebih dulu. Hingga Brian tak bisa lagi membantah.


Brian menghela nafas pasrah. Dewi terkikik geli melihat Brian yang tak bisa membujuk mamanya. Brian segera mencium punggung tangan Sofia dan mencium pipi kiri dan kanannya. Dewi pun memeluk kakaknya.


Setelah berpamitan, Brian segera berlalu meninggalkan desa itu. Sejak kemarin, Brian sengaja menon-aktifkan ponselnya. Ia tak ingin di ganggu dengan pekerjaan maupun berbagai pertanyaan yang akan di terimanya dari kedua orang tuanya.


Setelah menempuh waktu cukup lama, Brian tiba di ibukota tepat saat matahari mulai tenggelam. Ia segera memasuki rumah milik papanya. Ketika Brian masuk, di ruang tamu ada Genta, Bram dan Rianti yang entah sedang membahas apa.


Bram memanggil Brian. "Brian..." panggil Bram yang melihat kedatangannya. Sontak, Rianti yang tengah termenung, menengadahkan kepalanya. Begitupun Genta yang tengah fokus dengan pekerjaannya.


Brian menoleh dan melihat kilat amarah di mata papanya. Rasa lelah yang mendera, membuatnya tak ingin mendengar keributan. Brian pun mengalah dan duduk di sebelah Genta.


"Pak.." sapa Genta. Ia menundukkan kepalanya untuk menyapa Genta. Brian hanya berdeham.


"Papa tidak melihatmu sejak kemarin?" tanya Bram.


"Maaf pak Bram, kalau begitu saya permisi dulu." Genta yang merasa tak nyaman dan tak ingin ikut campur masalah keluarga atasannya, lebih memilih berpamitan dan menyelesaikan tugasnya di kosannya.


"Terimakasih Genta." Genta segera keluar.


Setelah Genta pergi, Brian hanya menundukkan kepala dan menyenderkan punggungnya di sandaran sofa.


"Brian, mama tahu kamu pasti dari tempat mama Sofi kan?" tanya Rianti lembut. Rianti melangkah mendekati putra sulungnya itu.


"Ekhmm." Brian hanya berdeham.


"Jawaban apa itu? Siapa yang mengajarimu menjawab seperti itu. Papa dan mama tidak pernah mengajarimu menjawab pertanyaan orang tua dengan dehaman. Dan papa yakin, mama Sofia pun seperti itu." ucap Bram.


"Maafkan Brian pa." Brian memilih mengalah.


"Bagaimana kabar mama Sofia dan Dewi?" Rianti lebih banyak bertanya.


"Mama Sofi sudah jauh lebih baik. Aku jadi lebih tenang untuk kembali." Bram dan Rianti terkejut. Mereka mengerti apa maksud perkataan Brian. Bram dan Rianti hanya saling pandang.


"Brian mau ke kamar ya ma, pa." wajah lelah Brian sangat terlihat jelas. Rianti dan Bram hanya menganggukkan kepala.


Brian segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Ia segera membersihkan dirinya kemudian merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Ia langsung terlelap.


••••••••••


Di desa.


Setelah kepergian Brian, Sofia dan Dewi tengah menikmati sore hari di teras rumahnya. Memandang bunga-bunga yang di tanam oleh Sofi sendiri. Dewi bangkit berdiri dan mengambil selang air. Ia menyirami setiap tanaman itu.


Sofia memandangi putrinya yang sudah terlihat dewasa. Melihat wajahnya yang berpadu dengan Bram mantan suaminya. Kecantikan dan kelembutan Dewi, di warisi dari Sofia. Sementara kepandaiannya, dari Bram.


"Ma.." panggil Dewi yang melihat mamanya memandang kosong.


"Iya sayang!?" Sofi segera tersadar dari lamunannya.


"Kok mama bengong? Ada yang mama pikirin?" tanya Dewi. Dewi duduk di samping mamanya. Dia sudah selesai menyiram taman kecil yang di buat Sofi.


"Mama apaan sih!?" wajah Dewi merona mendengar kata menikah dari sang mama.


"Mama tahu gak, sebenarnya Dewi takut menikah. Apalagi, saat kemarin Dewi dengar, mama dan papa bercerai." ucap Dewi sendu.


"Kamu, mendengar pembicaraan mama dan kakak kamu?" Dewi mengangguk.


"Dewi gak sengaja ma. Maaf ya." wajah Dewi memelas mengucap maaf.


"Tidak apa-apa."


"Mama mengerti kamu takut setelah mendengar mama dan papa bercerai. Tapi kamu harus tahu, setiap orang punya jalan hidup yang berbeda. Jalan hidupmu belum terlihat. Tapi, saat kamu menjalaninya dengan ketulusan dan keikhlasan, percayalah, Tuhan akan berikan yang terbaik untuk mu. Jika suatu saat nanti jalan hidupmu terasa pahit, jangan salahkan Tuhan. Tapi, kamu harus tetap bersyukur dan menjalaninya dengan segala usaha terbaik darimu. Karena itu namanya ujian hidup. Tidak selamanya kehidupan yang kita jalani selalu manis." Sofia memberi nasihat pada Dewi.


"Mama yang terbaik." Dewi memeluk Sofia dengan sayang.


Sofia mencium puncak kepala Dewi dengan sayang dan membalas pelukan putri kecilnya itu.


"Dewi sayang mama." Dewi mengecup pipi Sofia kanan dan kiri. Sofia tersenyum.


"Mama juga sayang kamu nak." Sofia kembali dan mengusap rambut putrinya.


Mama sangat menyayangimu. Sampai nafas mama berhenti, mama akan memastikan kamu tidak akan mengalami nasib seperti mama. Karena mama sangat tahu bagaimana rasanya. Cukup mama saja yang merasakan rasa sakit itu. ucap Sofia dalam hati.


"Sore Tante, Dewi." Dewi melepaskan pelukannya dari sang mama.


"Kia..." sapa Dewi.


"Duh irinya Kia melihat kedekatan Tante dan Dewi!?" wajah Kiara terlihat cemberut.


"Sini, Tante peluk juga." tawar Sofia.


"Bukannya kamu selalu di peluk sama ibu kamu?" tanya Dewi begitu melihat Kiara memeluk mamanya.


"Hehehehe..." Kiara hanya menunjukan deretan gigi putih dan rapihnya.


"Tante sudah sehat?" tanya Kiara menatap Sofia.


"Sudah sayang. Sampaikan terimakasih Tante pada ibumu ya." Sofia mengusap rambut Kiara.


"Nanti Kia sampaikan. Kalau buat calon besan sih, Kia yakin ibu gak keberatan." wajah Dewi bersemu merah.


"Apa sih Kia." protes Dewi.


"Haha... masih malu-malu dia Tante." Kiara dan Sofia tertawa melihat ekspresi Dewi yang malu-malu.


"Kamu pasti belum tahu berita ini." Dewi terlihat penasaran dengan cerita Kiara.


"Apa?" tanya Dewi dengan menatap Kiara. Matanya menyiratkan rasa penasaran.


"Sudah penasaran dia Tante." ejek Kiara. Kiara dan Sofia sudah tertawa. Sementara Dewi sudah mencebikan bibirnya.


🍀🍀🍀🍀


Hai readers semua. Seneng banget liat komen kalian. Terimakasih banyak buat kalian yang suka novel ini.


Terimakasih buat kalian yang sudah like, komen bahkan vote dan kasih bunga...


Terharu aku.☺️


I Love you so much😘