
POV Bram
Mendengar pernyataan Rianti, membuatku berpikir. Siapa sebenarnya wanita yang menempati hatiku? Benarkah hanya Sofi?
Sofi, wanita pertama dalam hidupku. Wanita, yang selalu mendukungku. Wanita yang dengan tulus mencintaiku. Dia bahkan rela meninggalkan keluarganya untuk bersamaku. Dulu, baginya aku adalah segalanya.
Aku bisa seperti sekarang, bukan karena orang lain. Tapi Sofi. Orangtuaku bahkan sudah meninggalkan ku. Tapi Sofi menerimaku apa adanya.
Dengan b***hnya aku menyakiti dirinya. Dan dengan mudahnya aku menyuruhnya pergi dari hidupku. B***h.... aku memang b***h.
Bram, sepenting itukah keturunan untukmu, hingga kau tega menyakiti belahan jiwamu? Sekarang, lihat bahkan wanita keduamu pun sudah menuntut hatimu.
Rianti, wanita yang dulu begitu penurut, baik dan selalu mencurahkan perhatiannya padaku, kini berubah. Aku tidak tahu apa yang menyebabkannya berubah. Kenapa kini dia memintaku untuk memastikan isi hatiku?
Hati? Siapa yang menempati hatiku? Jika boleh jujur, aku masih sangat mencintai Sofi. Meski kami sudah tak lagi hidup bersama, tapi sedikitpun, cintaku tak berubah.
Rianti... Hah... aku tidak tahu. Benarkah yang di ucapkan nya, jika aku hanya melihat dirinya sebagai ibu dari anak-anakku? Benarkah dia tak pernah menempati ruang di hatiku?
Aku sudah menyakiti dua wanita yang mencintaiku dengan tulus. Sofi sudah membenciku. Dia bahkan sudah membuat keputusan untuk putri kami tanpa bicara padaku. Sebelumnya, dia bahkan tidak pernah melibatkan ku untuk urusan Dewi.
Kali ini, Rianti pun mulai membenciku. Maafkan aku. Apakah ini balasan yang ku terima, karena aku telah menyakiti Sofi? Tidak. Sofi pasti jauh lebih sakit dari ini.
••••••••••
Bram merasa frustasi. Sudah satu Minggu sejak Rianti memintanya memilih. Rianti bahkan memilih tidur di kamar yang berbeda dengan Bram tanpa di ketahui Brian dan Kinanti.
Belum ada kecurigaan sedikitpun dari anak-anaknya. Semua terlihat normal. Bram pun akhirnya menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan.
"Genta, temui saya di ruang kerja." pinta Bram saat Genta dan Brian tiba di kediaman Wijaya.
Bram sudah lebih dulu masuk ke ruang kerjanya di susul Genta dari belakang. Genta segera menutup pintu di belakangnya. Ia berdiri di seberang meja kerja Bram.
"Apa kamu sungguh-sungguh mencintai putriku Dewi?" tanyanya.
"Iya pak. Saya sangat mencintai putri bapak Dewi." jawabnya dengan penuh keyakinan.
"Kau.... mengenalnya dengan baik?" tanyanya lagi.
"Benar." Bram menitikkan airmata mendengar ucapan Genta. Ia merasa gagal menjadi seorang ayah bagi Dewi. Sedikitpun, ia tak mengenal Dewi. Yang ia lihat, Dewi adalah gadis yang lembut dan memiliki sifat yang sama dengan Sofi.
"Apa anda khawatir akan sesuatu?" tanya Genta yang melihat Bram menghapus airmatanya.
"Kau pasti sudah tahu permasalah keluarga kami." Genta mengangguk.
"Secara garis besar, iya. Jika itu yang anda takutkan, saya bisa pastikan, saya tidak akan melakukan hal seperti yang anda lakukan." Bram tertawa sinis.
"Tapi, jika aku sampai tahu kau melakukannya, atau melakukan kesalahan lain yang membuat putriku sakit hati, maka ku pastikan kau tidak akan bisa hidup dengan tenang." ancamnya.
"Saya paham. Sebagai seorang ayah, anda ingin melakukan yang terbaik untuk putri anda. Jadi, saya tidak akan mengecewakan anda." janji Genta.
"Ku pegang kata-katamu." Genta pun pamit meninggalkan ruangan itu.
Begitu ia keluar, ia berpapasan dengan Rianti. Genta menundukkan kepalanya. Rianti balas tersenyum.
"Bagaimana kabar Dewi?" tanyanya ramah.
"Dia baik. Sangat baik." Rianti tersenyum.
"Kapan kalian akan bertunangan?"
"Dua bulan lagi Nyonya." jawabnya.
"Jangan panggil aku begitu. Kau bisa memanggil ku mama seperti kau memanggil sofi." pintanya.
"Maaf, tapi saya tidak bisa memanggil anda seperti itu. Kalau begitu, saya permisi dulu." Genta segera meninggalkan Rianti.
Beberapa hari kemudian, Bram datang ke tempat dimana Sofi dan Dewi tinggal. Namun, kali ini, dirinya ingin bertemu dengan Dewi bukan Sofi.
Bram masuk sebuah cafe yang menjadi tempat mereka melakukan janji temu. Dewi belum tiba. Bram menunggu dengan sabar. Tak lama Dewi menghampirinya dan mencium punggung tangan Bram.
"Papa sudah lama?" tanyanya.
"Belum nak. Duduk." pintanya. Dewi duduk di seberang Bram.
"Kau sudah dewasa." Dewi hanya tersenyum.
"Banyak hal yang terlewati begitu saja."
"Aku benar-benar ayah yang buruk. Maafkan aku." ucap Bram sendu. Dewi menggenggam tangan Bram.
"Papa, semua sudah terjadi." ucap Dewi sendu. Gadis cantik itu memandang lekat wajah sang ayah.
"Dewi cuma minta satu hal, restui hubungan Dewi dan kak Genta."
Bram melihat wajah Dewi. Wajah cantik seperti milik Sofi. Wajah yang selalu di rindukannya.
"Oh iya, tadi mama titip ini." Dewi mengeluarkan amplop coklat dari tasnya.
"Apa ini?" Bram melihat amplop berlogo pengadilan agama. Jantungnya berdegup kencang.
Bram segera membuka isinya. Tangannya bergetar membaca isi surat itu. Surat putusan cerai yang ternyata sudah Sofi urus sendiri. Tanpa diduga, airmata Bram membasahi pipinya.
"Pa, awalnya mama dan aku berpikir papa benar-benar menceraikan mama. Tapi, mama bilang papa tidak jadi menceraikannya dulu."
"Dewi tidak tahu alasan papa, tapi sekarang, lepaskan mama pa." pinta Dewi.
"Apa berat bagi mamamu memaafkan papa?" lirihnya.
"Mama sudah memaafkan papa. Tapi, mama tidak ingin mama Rianti ikut merasakan rasa sakit seperti mama."
"Akupun begitu. Aku tidak ingin, Kinanti merasakan seperti yang aku rasakan."
"Cukup aku dan mama yang rasakan pa."
Bram terdiam. Putrinya memutuskan menjaga jarak darinya. Bram sadar, kesalahan ada padanya. Kini ia harus merelakan kehilangan Sofi dan Dewi secara bersamaan.
Aku harus merelakan mereka. Aku tak bisa membahagiakan mereka. Aku sudah menyakiti mereka. Ini adalah hukuman untukku. Kehilangan orang yang paling kucintai. Dan kehilangan putriku yang baik.
Bram menghapus airmatanya dan tersenyum. Dewi balas tersenyum padanya.
"Katakan pada mamamu. Berbahagialah. Dia berhak merasakan bahagia."
"Papa minta maaf." Dewi mengangguk.
Bram meninggalkan cafe lebih dulu. Ia tak sanggup melihat putri yang sudah di sia-siakannya. Rasa bersalah terus menerus menghinggapinya. Dua orang, kini sudah meninggalkannya. Satu putri yang di tunggunya, dan satu lagi, istri yang dia cintai dengan sepenuh hati. Semua karena keegoisannya.
Setelah Bram pergi, Dewi pun menangis. Impiannya merasakan kasih sayang seorang ayah, sirna sudah.
Tangisannya terdengar menyayat hati. Beberapa kali ia memukul dadanya yang terasa sesak. Berharap, mengurangi rasa sesak itu.
Kiara menghampirinya. Kiara memang ikut bersama Dewi tadi. Hanya saja, ia menunggu di meja lain. Melihat sahabatnya menangis, Kiara memeluknya dan menuntunnya keluar dari cafe.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Happy reading all.
Jangan lupa like, komen dan votenya ya....
Love you so much😘