
Setelah mengantarkan Dewi hingga selamat, Genta melangkah lebar menuju lift. Raut wajah ramah tadi, segera menghilang bersamaan dengan lift yang ikut menutup.
Genta memacu mobil yang di pinjamkan Sofia padanya dengan kecepatan tinggi. Berharap, kedua orang yang membuat amarahnya menggelegak tadi masih di sana.
Tiba di lokasi itu, Genta hanya melihat Rianti yang duduk di halte tak jauh dari tempat kejadian tadi. Airmata wanita paruh baya itu tak berhenti mengalir.
Genta memutuskan menghampirinya. Tidak ada basa basi darinya saat itu. Wajahnya terlihat memadam. Ia berdiri di hadapan Rianti. Rianti yang melihat bayangan seseorang di depannya mengangkat kepalanya.
Ia tersenyum seraya menghapus airmata yang mengalir di pipinya. Ia ikut berdiri. Namun wajahnya berubah pias, kala melihat raut wajah Genta yang menahan amarah. Kedua tangannya bahkan terkepal erat di sisi tubuhnya.
"A-ada apa gen?" tanyanya terbata.
Ingin sekali Rianti berlari. Namun ia tak punya alasan untuk berlari. Apa kesalahannya? pikirnya.
"Jangan sekali-kali anda, melibatkan calon istri saya ke dalam masalah anda. Jika tidak, anda akan menerima konsekuensi yang tidak bisa anda bayangkan." ucapnya. Matanya membelalak, giginya bertautan saat mengucapkan kata demi kata di hadapan Rianti.
Rianti menelan ludah pahit. Apa maksud anak muda di hadapannya ini? ucapnya dalam benaknya.
Genta masih menatap Rianti dengan tajam. "Ingat kata-kata saya dengan baik." ia pun berbalik. Namun langkahnya terhenti kala mendengar pertanyaan Rianti.
"Apa maksudmu gen?" tanya Rianti. Alisnya saling bertautan.
Genta mendengus kesal. Ia berbalik dan melangkah lebih dekat ke arah Rianti. Hilang sudah rasa hormatnya pada wanita ini. Tidak hanya itu, rasa kasihan yang semula ada pun turut sirna.
"Anda berpura-pura tidak tahu, atau menganggap saya b***h?" desisnya.
Rianti mundur selangkah dan membentur tempat duduk di halte itu. Ia pun terduduk. Baru kali ini ia melihat emosi Genta dengan jelas. Bahkan, Rianti tidak tahan dengan tatapan matanya.
"Aku sungguh tidak mengerti maksudmu." ucapnya.
"Anda tahu, jika anda punya masalah dengan pria tadi, silahkan selesaikan sendiri. Jadikan saja tubuh anda sebagai penebus hutang saudari anda. Jangan pernah anda libatkan calon istri saya. Atau, anda lebih suka berhadapan dengan calon mertua saya langsung? Anda sangat tahu kan, keluarga Hadinata tidak akan pernah membiarkan lawannya lolos?" Rianti mengernyit dan balik menatap Genta sengit.
"Apa hubungannya dengan keluarga Hadinata?" Genta tersenyum sinis.
"Aku juga tidak pernah melibatkan Dewi untuk menjadi penebus hutang-hutangku?" geramnya.
Entah darimana pemikiran anak muda di hadapannya ini muncul. Membuat dirinya ikut geram pikirnya.
"Saya mendengar pembicaraan anda dengan pria tua bangka tadi nyonya. Bukan hanya saya, tapi Dewi pun mendengarnya." seketika, raut wajah Rianti semakin pias. Seolah darah surut di wajahnya. Hingga mengubah rona wajahnya.
"Kenapa? Apa anda tidak menyangka? Jika anda sampai berbuat macam-macam, maka anda akan kehilangan kedua anak anda. Dan akan saya pastikan, anda menerima ganjaran setimpal. Dewi memang gadis yang lembut. Bahkan lebih lembut dari mama Sofi. Tapi, dia masih punya saya. Dan saya, akan melindungi dia seumur hidup saya."
Genta segera berbalik dan meninggalkan Rianti seorang diri. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kemudian, ia menuju pinggir danau di pinggir kota.
Ia menatap langit malam dan berulangkali menghela nafas kasar. Haruskah ia mengadu domba ibu dan anak itu? Benaknya berkecamuk memikirkan semua itu. Ia kembali melajukan mobilnya.
Ia mampir ke tempat Bagas.
"Kenapa Lo, suntuk banget?" ucap Bagas saat melihat wajah Genta yang berbeda.
"Biasa, banyak masalah." ucapnya. Ia memijit keningnya yang terasa berdenyut.
"Gue butuh pelepasan nih." ungkapnya.
"Pelepasan apa?" tanya Bagas.
"Ya elah, emosi banget kayanya. Ikut gue." Bagas berdiri dan melangkah. Genta mengikuti langkahnya.
"Kemana? Jangan ke tempat gak benar ya." ancam Genta.
"Berisik. Ikut saja." Genta tak lagi berkata-kata.
Mereka masuk ke dalam mobil yang Genta bawa. Bagas meminta kunci mobil dan akan mengendarainya. Genta sempat ragu, namun kemudian ia memberikannya.
Mereka tiba di sebuah tempat yang Genta tidak tahu. Genta hanya menatap Bagas bingung dan mengikuti langkah sahabatnya.
Masuk kedalam, ia melihat seperti ring tinju di depan sana.
"Sana kalau mau pelepasan. Ada samsak juga di sana." ucap Bagas.
"Ayo ganti baju."
Mereka melangkah ke ruang ganti dan menggunakan serangkaian peralatan untuk berlatih tinju.
"Lo tahu darimana tempat begini?" tanya Genta heran.
"Gue sering kesini. Karena gue gak suka cari ribut sama orang, gue pilih ke sini buat ngelepas emosi gue." ungkap Bagas. Genta tersenyum.
Mereka melangkah menuju arena tinju. Di tengah arena, Bagas memasang samsak. Kemudian, Genta melepaskan amarahnya di sana.
Genta memukul samsak itu sekuat tenaga setelah pemanasan. Menendang, dan mengeluarkan seluruh emosinya ke arah samsak itu.
Bagas hanya melihatnya dari luar arena. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana training yang digunakannya. Entah apa yang di alami Genta , hingga pria itu terlihat sangat emosi.
Bagas melihatnya dengan jelas. "Apa yang membuat Lo begitu emosi begini gen?" gumamnya pada diri sendiri.
Ia terus memperhatikan setiap gerakan Genta. Bagas memang tidak akan bertanya masalah yang di hadapi sahabatnya. Jika Genta tidak ingin bercerita, ia tidak akan mengoreknya. Tapi, jika ia ingin berbagi, pria itu akan membicarakannya tanpa perlu di tanya.
Satu jam kemudian, Genta terlihat mulai lelah. Ia merebahkan tubuhnya di atas arena. Peluh membanjiri tubuhnya. Nafasnya pun tersengal-sengal.
"Sudah puas?" tanya Bagas yang sudah berjongkok di dekatnya.
"Hem.." dehamnya.
Bagas mengulurkan botol minum di tangannya. Genta meraihnya, duduk dan meneguk air dalam botol itu hingga tandas. Ia mengelap peluh yang mengucur deras di tubuhnya.
"Gue kesal gas." Genta mulai bercerita. Benar dugaan Bagas, pria di sampingnya ini akan bercerita dengan sendirinya saat suasana hatinya membaik. Bagas tak menanggapi. Ia tetap menjadi pendengar yang baik.
"Nyokap bos benar-benar keterlaluan. Bikin gue geram." kali ini, Bagas mengerutkan dahinya. Ternyata, masalah ini berhubungan dengan ibu dari atasan mereka.
"Seenaknya saja dia jadikan calon istri gue sebagai alat pembayaran hutangnya." ucapnya dengan nada penuh dengan amarah.
Kata-kata itu sukses membuat Bagas membelalakkan matanya. Adakah orang yang seperti itu? Meski Dewi bukan anak kandungnya, tegakah wanita yang notabene juga seorang ibu melakukan hal itu? tanya Bagas dalam benaknya.
"Jangan asal tuduh Lo gen." ucap Bagas tak percaya.
"Lo saja yang gak dengar langsung gak percaya, apalagi gue yang dengar langsung?" geramnya.