My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Pelukan hangat



Dewi menatap langit siang itu yang terlihat cerah. Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Menikmati sinar matahari yang bersinar terang. Merasakan lembutnya angin yang berhembus.


Hari ini sangat cerah. Secerah hatiku setelah melihat pujaan hatiku. Meski aku tak bisa bicara berdua dengannya, tak mengurangi rasa bahagiaku. Dewi berbicara dalam hatinya.


Kiara menghampiri Dewi.


"Kamu kenapa?" tanyanya.


"Gak apa-apa." Dewi menoleh pada Kiara dan tersenyum lembut. Ia kembali menatap langit biru di atas sana.


"Kak Genta kan belum pergi, kenapa gak ngobrol berdua dengannya?" Dewi tersentak. Ia menatap sahabatnya itu.


Kiara tersenyum jahil. Sepertinya, Kiara mengetahui sesuatu. Ataukah itu hanya perasaannya?


"Kenapa?" senyum itu belum hilang dari wajahnya. Dewi masih merasa heran. "Aku terlalu mengenal kakakku." jawaban Kiara, semakin membuat Dewi bingung. Kiara kembali ke dalam.


Entah apa yang di pikirkan Kiara. Dewi kini merasa takut. Takut merusak persahabatannya dengan Kiara. Takut Kiara tak bisa menerimanya jika memang ia mengetahui perasaan Dewi pada Genta. Begitupun sebaliknya.


Apa Kiara tahu aku menyukai kak Gen? Kiara marah tidak ya? Aku jadi takut. Dewi menggigit kecil jarinya. Kebiasaan yang sudah ada sejak ia kecil.


Dewi tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara mamanya. Sepertinya beliau baru kembali. Dewi kembali bergabung dengan Kiara dan yang lainnya. Mata Kiara dan Dewi bertemu. Kiara mengerlingkan matanya dan tersenyum.


Hal itu terlihat oleh ekor mata Genta.


"Hai gen, kamu baru sampai?" tanya Sofia.


"Sudah satu jam Tante." Genta tersenyum.


"Kalian sudah makan siang?" tanya Sofia pada mereka.


"Ma, ini baru jam sebelas. Si mbok juga masih masak." tutur Dewi.


"Begitu ya? Ya sudah, mama mau bantu mbok dulu ya!?" Sofia melangkah menuju dapur.


"Kiara bantuin Tante." ucap Kiara mengikuti Sofia menuju dapur.


Puspa pun turut mengikuti Kiara. Puspa sempat bingung saat Kiara menyikutnya. Dewi terdiam menatap kedua sahabatnya.


Kompak banget pada ninggalin aku. batinnya. Matanya masih menatap kedua sahabatnya.


"Kamu apa kabar?" tanya Genta. Dewi mengalihkan pandangannya pada Genta.


"Baik kak." Dewi tersenyum.


"Sebentar lagi kalian masuk SMA ya?" Dewi mengangguk. Wajahnya terlihat merona.


"Terimakasih ya, kamu mau mengajak Kiara ke sini!?" Dewi tersenyum.


Genta mengacak rambut Dewi dengan gemas. Gadis kecil yang di rindukannya. Kini ada di hadapannya. Semakin hari semakin terlihat imut, cantik dan menggemaskan.


"Berapa lama kalian di sini?" tanya Genta kemudian.


"Kalau begitu, aku bolehkan main kesini lagi? Mumpung kalian di sini." ucapnya.


"Boleh dong kak. Masa aku mau ngelarang kakak ketemu Kiara? Kiara kan adiknya kakak?!" Dewi merutuki dirinya karena menjadikan Kiara alasan.


Genta terkekeh geli. Ia menangkap nada kecemburuan dalam nada bicara Dewi. Membuatnya semakin menggemaskan.


Gadis ini selalu bisa membuat ku jatuh cinta lagi dan lagi. ujarnya dalam hati.


Tak lama kemudian, Sofia, Puspa dan Kiara mulai menata makanan di atas meja makan. Dewi bangkit dari duduknya dan ingin membantu. Namun di cegah oleh Kiara.


"Kamu temani kak Genta saja wi." ucap Kiara.


Dewi tak melanjutkan langkahnya. Ia memiringkan kepalanya menatap sahabatnya itu. Ia melihat Kiara mengedipkan matanya ke arah Dewi.


Ini tidak benar. Aku harus bertanya langsung pada Kiara nanti. pikirnya.


Mereka pun berkumpul di meja makan dan mulai menyantap makan siang yang tersedia. Ada kehangatan yang terjalin saat mereka makan bersama. Rasa kekeluargaan yang tidak pernah Dewi rasakan.


Mereka menikmati makan siang itu dengan senda gurau. Sudah lama Genta tak merasakan kehangatan keluarga, ia merasa seperti hidup kembali. Kehangatan yang ia rindukan.


•••••••••••


Genta kini sudah menjalani aktifitasnya seperti biasa. Dewi, Puspa, Kiara, dan Sofia telah kembali. Semester baru, baru saja di mulai. Sementara Genta, akan segera menghadapi ujian akhir semester.


Rasa sepi itu, kini ia rasakan kembali. Satu Minggu yang lalu, haru-harinya di penuhi dengan orang-orang yang ia sayangi. Bersama adik dan gadis kecilnya, seakan membuatnya lupa tentang sulitnya hidup di ibukota.


Genta tengah merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Ia menatap langit-langit kamarnya. Kenangan beberapa hari yang lalu berkelebatan di benaknya. Ia tersenyum.


Bahkan, pelukan hangat dari Sofia, masih bisa ia rasakan. Pelukan yang begitu ia rindukan. Pelukan yang penuh dengan ketulusan dan cinta. Pelukan hangat seorang ibu.


Genta merindukan orang tuanya. Namun, dengan pelukan yang Sofia berikan, seakan menjadi pengobat rindunya. Sedikit mengurangi beban di hatinya.


"Aku kangen ibu dan bapak. Besok aku harus menghubungi mereka." gumamnya.


Genta pun tertidur dengan lelapnya. Rasa lelah yang menderanya, membuatnya mudah terlelap. Hingga pagi menjelang, ia pun terbangun dengan tubuh yang kembali segar.


•••••••••••••


Dewi, Kiara dan Puspa, kini sudah memasuki awal tahun ajaran baru. Setelah melepas kerinduannya dengan sang kakak, kini Kiara merasa sedikit lebih tenang.


Kiara, sudah memastikan kondisi Genta dengan melihatnya sendiri. Untunglah, ia memiliki sahabat seperti Dewi. Ia adalah seorang yang bertipe peduli pada orang lain.


Puspa, begitu senang mengunjungi ibu kota. Itu menjadi pengalaman pertamanya. Ia pun menceritakan pada orang tuanya. Ia terlihat antusias.


Sementara Dewi, bersyukur dapat bertemu dengan pria yang sudah menempati hatinya. Melihat kondisinya yang baik-baik saja, membuat Dewi tak perlu mengkhawatirkannya.


Genta pastinya, lebih mengerti apa yang akan di perbuatnya.


•••••••••••