My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Trauma?



Sofia tengah menimbang, apakah dia harus bicara pada Brian sekarang? Tidak. Sepertinya ia tak bisa bicara dalam kondisi Brian yang seperti ini. Yang asa, emosi Brian akan semakin tersulut. Dan akhirnya, hubungan Genta dan Dewi yang di pertaruhkan.


Sofia meletakkan kembali ponselnya. Ia memilih melihat kondisi putrinya lebih dulu dan menghiburnya. Sofia, tidak ingin Dewi membenci kakaknya.


Saat ia keluar dari kamarnya, Dewi tengah duduk berdua dengan Genta di balkon apartemen. Sofia, memilih duduk di sofa dan menunggu mereka selesai bicara.


Dewi dan Genta, masih saling berdiam diri. Sesekali, Dewi menghapus air matanya dan menyusut hidungnya. Genta dengan setia menemani gadis itu.


"Maafkan kak Brian ya kak." ucap gadis itu pada akhirnya. Genta tersenyum.


"Tidak apa." Dewi menatap sendu wajah Genta. Genta menggenggam kedua jemari Dewi dengan erat. Seolah meyakinkan gadisnya, jika ia baik-baik saja.


"Sungguh kakak tidak marah?" Genta menggeleng.


"Tidak. Sudah, jangan kamu pikirkan lagi. Kita masih punya banyak waktu untuk meyakinkan kakakmu. Dan aku, akan berusaha sampai kakakmu menerimaku." Dewi menyusut hidungnya dan menganggukkan kepala.


"Kakak gak akan menyerah dengan hubungan kita kan?" tanya Dewi. Genta memeluk pundak Dewi dan mencium rambutnya.


"Aku terlalu mencintai kamu. Hingga sulit untukku berpisah darimu. Aku yang seharusnya bertanya seperti itu. Apa kamu akan menyerah jika kakakmu tak merestui kita?" Genta tak melepas pundak Dewi.


Dewi menatap sosok Genta dari samping. Terlihat wajah rupawan Genta yang mampu memikat setiap wanita. Apa lagi, Genta memiliki sikap yang lembut.


"Sekalipun kak Brian menentang nya, aku akan tetap memilih kakak." Dewi memeluk pinggang Genta.


Dari balik pintu kaca, Sofia meneteskan air mata mendengarkan pembicaraan mereka. Tidak di sangka, pemikiran Dewi cukup dewasa untuk gadis seusianya.


"Benarkah?" Dewi mengangguk.


"Kalau begitu, jangan menangis lagi. Mulai sekarang, tersenyumlah." Dewi pun tersenyum.


"Cantik." Genta mencubit kedua pipi Dewi pelan.


Ekhmm


Sofia berdeham. Genta dan Dewi menatap ke arah suara. Ketika mereka melihat Sofia, mereka tersenyum. Genta bangkit dan mempersilahkan Sofia untuk duduk.


"Duduk ma." Sofia pun duduk di kursi yang di berikan Genta. Genta, beralih duduk di lengan kursi Dewi dan memegang pundak kekasihnya itu.


"Mama akan bantu kalian bicara pada Brian." ucap Sofia. Dewi dan Genta tersenyum.


"Terimakasih ma." ucap Dewi dan Genta bersamaan. Sofia tersenyum.


"Genta, maafkan Brian ya nak." Genta mengangguk dan tersenyum.


"Sifatnya sangat mirip dengan papanya." Dewi dan Genta setia mendengarkan.


"Mama pikir, dia berbeda dari papanya Dewi. Tapi ternyata tidak. Sifat mereka, sangat mirip."


"Jadi, pak Bram ada kemungkinan tidak akan merestui kami juga ma!?" tanya Genta. Sofia mengangguk.


Wajah Dewi semakin sendu. Sofia bisa melihatnya dengan jelas. Sofia menggenggam tangan Dewi dan tersenyum menenangkan.


"Kamu jangan khawatir, biar papa menjadi urusan mama." Dewi menghela nafas lega.


••••••••


Dewi, Kiara dan Puspa telah kembali ke desa bersama Sofia. Sofia masih belum bisa bicara dengan Brian. Salah satu alasannya adalah Brian sendiri yang menghindarinya. Sofia tak memaksa.


Beberapa hari sudah berlalu sejak pertemuan Brian dan Genta. Dimana Genta hadir sebagai kekasih dari Dewi, adik Brian. Sejak saat itu pula, Brian seakan menjaga jarak dengan Genta. Dan mencari orang yang bisa di percaya untuk mencari informasi mengenai Genta.


Genta kini, tidak lagi menjadi asisten dari Brian. Namun, ia tetap dijadikan pengawal pribadi Brian. Tugas Genta, hanya mengikuti kemana pun Brian pergi.


Demi menjaga hubungannya dengan Dewi, Genta mengikuti kemauan Brian. Pria itu menganggap, ini hanyalah ujian untuknya dan dewi. Dan dia yakin, mereka mampu melewatinya.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk." perintah Brian. Jenny segera masuk.


"Maaf pak, ada seseorang yang ingin bertemu dengan bapak." ucap Jenny.


"Siapa?" Brian merasa tak memiliki janji temu dengan seseorang.


"Dia bilang namanya Ray pak." Brian mengernyit bingung. Namun, sedetik kemudian,


"Suruh dia masuk." perintah brian. Jenny undur diri dan mempersilahkan tamu atasannya masuk.


Pria bernama Ray pun masuk. Pria dengan wajah maskulin dan terlihat gagah itu duduk di hadapan Brian. Brian masih fokus pada berkas di hadapannya tanpa menoleh pada pria itu.


"Sibuk sekali rupanya." ucap pria itu. Brian segera mengangkat kepalanya dan melihat pria itu. Senyum mengembang di wajahnya.


"Hai bro. Apa kabar?!" Brian berdiri dan memeluk sahabatnya.


"Ini berkas yang kau minta. Tidak ada yang mencurigakan menurutku dari pria ini. Bahkan, bisa di bilang biasa saja." ucap pria itu setelah menyerahkan berkas informasi tentang Genta.


Brian membaca dengan detail informasi dari sahabatnya ini. Ya, sahabatnya ini memang bisa di andalkan dalam mencari informasi. Bahkan, informasi yang didapatnya itu sangat terpercaya.


"Jadi, apa yang Dewi dan pria itu katakan benar? Mereka sudah saling mengenal sejak dulu." gumam Brian.


"Boleh aku bertanya?" Brian mengangguk.


"Kenapa kau mencurigainya? Bukankah dia juga bekerja denganmu selama lebih dari enam bulan ini?" tanya pria bernama Ray itu.


"Aku hanya tidak ingin, dia menyakiti adikku." ucap Brian.


"Menyakiti adikmu?" Brian mengangguk.


"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Ray semakin merasa heran dengan alasan Brian.


"Aku pernah melihatnya jalan berdua dengan salah satu staf di perusahaan ini. Meski ku lihat, caranya memperlakukan wanita itu berbeda dengan cara dia memperlakukan adikku." tutur Brian.


"Sepertinya kau trauma dengan hubunganmu sendiri. Apa bayang-bayang Cintya masih membekas di ingatanmu?" Brian tak menjawab.


"Kurasa dugaan ku benar. Kau takut, pria itu sama seperti Cintya kan? Gadis yang terlihat polos, namun ternyata, dia hanya mengincar uangmu." Brian menatap tajam pada sahabatnya.


"Jangan sebut nama wanita s****n itu lagi di depanku." geram Brian.


"Kalau begitu, cobalah berikan kesempatan untuk adikmu dan pria itu. Setelah itu, kau bisa melihat dan menilai sendiri, seperti apa pria itu." Ray bangkit berdiri dan segera melangkah keluar.


Brian hanya menatap kosong pada kursi yang tadi di duduki oleh Ray sahabatnya.


Apa benar aku masih trauma dengan kisah cintaku sendiri, hingga aku melihat semua orang yang mendekati keluargaku pun ku curigai? Brian berucap dalam hati.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Hai readersku semua. Bagaimana kabar kalian? Semoga kalian semua sehat.


Terimakasih buat kalian semua yang sudah menyempatkan diri membaca, like, bahkan komen di novel ini. Aku selalu tersenyum melihat komentar kalian. Kalian lah semangatku.


Semoga kalian gak bosen ya menunggu. Jangan lupa likenya ya.... komen dan kalau boleh vote atau bunganya....


Terimakasih semuanya....


I love you readersku 😘


See you next chapter.....