
Dave dan Bram tengah memandang hamparan laut lepas yang sama dari balkon tempat Dave membawanya. Mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing. Dave melirik Bram dengan ekor matanya.
"Kau ternyata pengecut dan pecundang." ucap Dave setelah mereka terdiam cukup lama.
Bram tak menjawab sedikitpun. Pria itu hanya melirik Dave sekilas kemudian kembali memandang lautan di hadapannya.
"Hmmm.. Aku sendiri malu pada diriku." lirih Bram.
Ponsel Bram berdering. Ia merogoh saku celananya dan melihat nama yang tertera dan kembali menyimpan ponselnya.
"Kenapa tidak di angkat?" tanya Dave.
"Tidak penting." jawab Bram.
Suasana hening kembali mendominasi. Hanya suara ombak berkejaran yang terdengar. Mereka menikmati suasana pantai yang terlihat tenang.
Entah mengapa pikirannya berkelana pada wajah Sofi. Tiba-tiba saja, perasaannya gelisah. Apa yang terjadi? pikir Bram. Alisnya berkali-kali menyatu. Terdengar helaan nafas kasarnya.
"Kelihatannya kau gelisah." ucap Dave seraya memandang raut wajah Bram yang berubah-ubah.
Bram memegang dadanya yang terasa sesak tiba-tiba. Bahkan wajah Bram terlihat memucat. Bram berjongkok. Ada apa ini? batinnya. Ia merasa benar-benar ada yang salah.
Dave mendekati Bram dan melihat wajahnya yang pucat. "Hei bro, kau kenapa?" Bram tak menjawab. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya.
Kali ini, ponsel Dave yang berdering. Dave melihat nama pemanggil nya dan segera mengangkatnya.
"Halo." ucapnya setelah menerima panggilan itu.
"....." mata Dave membelalak.
"Ok. Aku segera ke sana sekarang." Dave mematikan ponselnya dan menghampiri Bram.
"Ikut aku sekarang." ucapnya seraya menyeret paksa Bram yang terlihat seperti orang linglung.
*****
Rianti sudah kehilangan segalanya. Kenyamanan, harta, bahkan anak-anaknya. Ia tak mengerti mengapa kedua anak-anaknya lebih memilih ikut dengan Bram atau Sofi, di banding dirinya sebagai ibu kandung mereka.
Bahkan, rasa sayang kedua anaknya pada Sofi, jauh lebih besar dari pada rasa sayang mereka pada dirinya. Amarahnya kini memuncak.
Setelah menutupi semua hal yang di lakukan nya dengan topeng kelemah-lembutan, kini ia seakan tak lagi peduli.
Pasca bercerai dari Bram, kini ia meninggalkan semua kemewahannya. Tinggal di sebuah kamar berukuran kecil dan hanya mendapat tunjangan seadanya setiap bulan.
Dia sudah tidak tahan hidup susah seperti ini. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Kita sudah tidak bisa mengandalkan Bram lagi. Kita harus membuat dia menyerahkan hartanya pada kita. Kau punya rencana?" tanya Rianti begitu sambungan telepon itu di terima.
"....." Rianti menyeringai mendengar penuturan rekannya dari seberang sana.
"Ok. Kau atur saja."
Rianti memperlihatkan senyum jahatnya. Matanya menatap nyalang.
****
Kecanggungan masih terasa di kala Brian dan Kinanti mengingat perbuatan ibu mereka pada Dewi dan Sofia. Rasa malu itu terlihat nyata. Dewi dan Genta saling menatap bingung.
"Apa kita gak bisa bersikap seakan tidak terjadi apa-apa di antara kita?" tanya Dewi.
"Rasanya sangat asing jika kita seperti ini." imbuhnya.
Brian dan Kinanti tersenyum. Benar yang Dewi ucapkan. Mereka seperti bersama orang lain, bukan keluarga.
"Maafkan aku kak Dewi. Aku tidak pernah memiliki niat untuk merebut kasih sayang papa darimu." ucap Kinanti lirih. Dewi tersenyum tipis.
"Aku tahu. Sudah lah. Kita lupakan saja kenangan yang buruk." mereka pun mengangguk.
Tak butuh waktu lama bagi mereka mencairkan suasana. Dalam beberapa menit, mereka sudah kembali terlihat ceria.
Tawa canda mewarnai pertemuan mereka. Hingga Dewi tersentak mendapati ponselnya berdering.
"Siapa?" tanya Genta yang melihat Dewi mengerutkan dahinya.
Dewi menunjukkan ponselnya. Genta melihat nama yang tertera. Ada apa lagi ini? pikirnya. Genta memberi isyarat pada Dewi untuk menjawabnya.
Mereka saling menatap. Seolah sedang bertelepati, Dewi mengerti arti tatapan lembut Genta.
Dewi menjawabnya. Genta ikut menempelkan telinga di dekat telinga Dewi. Jantung Dewi berpacu. Baru kali ini Genta berada sedekat ini dengannya.
Aroma maskulin dari tubuh pria itu menguar memenuhi Indra penciumannya. Sama halnya dengan Genta yang merasakan detak jantungnya bekerja lebih cepat. Jika saat mereka berkencan, mereka hanya bergandengan tangan. Namun kali ini, mereka bisa merasakan aroma dari tubuh pasangannya.
Genta ingin menarik dirinya. Namun ia urungkan saat mendengar suara di seberang sana. Mendengar ancaman yang di layangkan pada sang kekasih, membuat Genta semakin was-was.
Brian dan Kinanti saling pandang saat melihat perubahan riak wajah Genta dan Dewi. Terlihat ada kilatan amarah di mata Genta. Secepat kilat Dewi memberi isyarat pada Genta untuk tidak memberitahu kedua kakak beradik di hadapannya ini. Genta pun menghela nafas panjang.
Dalam hati Genta mengumpat si penelepon itu. Ingin rasanya ia melampiaskannya. Namun ia urungkan.
"Ada apa?" tanya Brian.
"Tidak ada. Hanya tugas kuliah." jawab Dewi. Ia sudah kembali mengatur ekspresinya supaya terlihat baik-baik saja. Meski hatinya sendiri tak tenang. Brian dan Kinanti hanya mengangguk saja.
Ada rasa takut yang berkecamuk di dadanya. Ia menutupinya dengan tersenyum. Genta mulai mengatur siasat di kepalanya.
Tidak akan kubiarkan kalian menyakiti Dewi lagi. batin Genta.
ππππ
**Hai genks...... malam ini singkat saja dulu ya. Jujur, mataku tak bisa di ajak kompromi. Takut salah ketik....π€π€π€
Masih penasaran siapa yang menghubungi Dewi dan apa rencana Rianti? Lalu, ada apa dengan Bram ya? Apa dia sakit, atau itu sebuah firasat?
Terimakasih buat kalian yang berkenan memberikan like, komen, vote dan bunganya. Terimakasih yang masih setia menunggu kelanjutan kisah ini.
I love you so much genks..... SehatΒ² buat kita semua ya....
Aku mau cukup istirahat dulu..... See you all....πππ
Have a nice dream.....π΄π΄π΄π΄**