
"Jadi, mereka sengaja?" Rianti mengangguk.
Entah mengapa Bram merasa sanksi dengan pernyataan Rianti. Ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. Menatap halaman samping rumahnya yang bisa terlihat dari jendela ruang kerjanya.
"Baiklah. Aku paham." ucap Bram.
Setelah itu, Rianti segera berlalu dari ruangan Bram. Di ruang keluarga, Brian dan Kinanti menunggu kehadiran Rianti. Saat melihat Rianti berjalan ke arah mereka, Brian dan Kinanti pun tersenyum.
"Brian, Kinanti, mama akan pergi sekarang." pamit Rianti.
"Ma, mama tinggal di apartemen kami saja. Tidak usah di kontrakan almarhum Tante Ranti." pinta Kinanti.
"Tidak apa nak. Mama tidak masalah." ucap Rianti seraya merapihkan anak rambut Kinanti dan menyelipkannya di belakang telinga.
"Tidak ma. Kinan benar. Ayo, kami antarkan." Brian memaksa Rianti.
Akhirnya, Rianti mengikuti keinginan kedua anaknya. Jujur saja, ia masih merasa malu pada mereka karena kejadian yang menimpa Sofia dan Dewi. Meski pada kenyataannya, bukan dirinya yang melakukan hal itu.
Tiba di apartemen, Rianti menyiapkan makan malam untuk putra putrinya. Meski hanya beberapa bulan tak melakukan tugas sebagai seorang ibu, Rianti merindukan hal-hal kecil seperti ini.
****
Genta dan Dewi tengah bercengkerama di balkon apartemen. Membicarakan hal remeh temeh bersama. Terkadang, saling menggoda satu sama lain.
Sofia menghampiri mereka. Ia sudah selesai membersihkan diri. Sepulangnya mereka dari kejadian yang menegangkan tadi. Bahkan, jika tidak hati-hati, nyawa calon menantunya bisa saja dalam bahaya.
"Ayo, kita makan malam dulu." ajaknya.
Dewi dan Genta menurutinya. Mereka berjalan beriringan. Di meja makan, mereka makan bersama dan mengulas kejadian siang tadi.
Mendengar cerita mamanya, Dewi merasa sangat bangga. Tidak hanya cantik, rupanya sang mama memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Apa lagi sang kekasih, rela mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi dirinya.
Rasa haru meliputi relung hati Dewi. Sungguh, rasa cinta keluarganya begitu besar. Dewi memeluk Sofia erat dan mencium pipi sang mama.
"Dewi sayang sama mama." ungkapnya. Sofia tersenyum.
"Gak malu, masih manja ke mama di depan calon suami?" tak hanya wajah Genta yang memerah malu. Dewi pun sama.
Sofia tergelak melihat pasangan itu. Dewi menunduk dan matanya menatap Genta. Dari pancaran matanya dapat dilihat, jika Dewi sangat berterimakasih. Genta pun tersenyum.
Setelah makan malam selesai, Dewi dan Genta kembali duduk bersama di balkon. Cuaca ibukota yang panas, membuat mereka nyaman duduk di balkon. Membiarkan angin menerpa tubuh mereka.
"Kak..." panggil Dewi.
"Hmmm.." Genta mengalihkan pandangannya pada Dewi.
"Kenapa kakak bisa menyukaiku?" tanyanya. Jujur saja, pertanyaan ini sering melintas dalam benaknya.
"Karena kamu itu baik." Dewi terkekeh.
"Baik itu relatif. Bukan cuma aku yang baik. Di luar sana juga banyak yang baik." Genta tersenyum.
"Kamu cantik." lanjut Genta. Lagi-lagi, Dewi terkekeh.
"Kamu punya hati yang luar biasa." Dewi menoleh. Tatapannya penuh dengan tanda tanya.
"Maksudnya?" alis Dewi mengernyit.
"Meski kamu terluka, tapi kamu berusaha kuat. Kamu tidak ingin terlihat lemah di hadapan mama." Dewi terperangah.
"Tapi apa kamu tahu, jika kamu hanya terlihat lemah di hadapanku?" Dewi menaikkan kedua alisnya terkejut.
"Apa aku selemah itu?" Genta menggeleng.
"Aku menyukainya. Karena itu artinya, kau mempercayaiku." ucap Genta.
"Sejujurnya, rasa sukaku padamu tumbuh begitu saja." pandangan Genta menerawang ke masa lalu.
"Dulu, aku sempat menyangkal rasa itu. Bahkan, sempat mengatakan pada diriku sendiri bahwa kau adalah sahabat adikku. Dan aku harus menganggap mu adikku juga." Genta kembali menatap Dewi.
"Lalu, bagaimana kakak bisa berubah pikiran?" tanya Dewi penasaran.
"Kau ingat saat kita bertemu di toko buku?" Dewi mengangguk.
"Jantungku saat itu, berdegup dengan kencangnya."
"Merasa gugup yang tak bisa ku jelaskan."
"Saat itu, aku yakin jika aku sudah benar-benar jatuh cinta padamu." Dewi tersenyum.
Entah mengapa, ada rasa bahagia yang menyeruak dari dalam hati nya.
"Kamu?" tanya Genta.
"Bagiku, kakak adalah orang pertama yang mau mendengar keluh kesah ku."
"Kakak tahu, sejak dulu aku tidak pernah punya seseorang yang bisa aki percaya untuk berbagi."
"Tapi, bersama kakak entah kenapa aku bisa menceritakan segalanya."
"Seakan, aku sudah mengenal kakak sejak lama." Genta menatap Dewi lekat.
"Cinta itu, baru aku rasakan dan kenali saat kita bertemu di toko buku." Genta terkejut mendengar penuturan Dewi.
Ternyata, pertemuan mereka berdua saat itu membuat keduanya menyadari cinta yang sudah tumbuh sejak lama.
"Aku mencintaimu." ucap Genta tulus. Dewi menatap kedalam iris coklat itu. Mencoba menelitinya. Dari sana, Dewi bisa melihat kejujuran dari Genta.
"Aku juga mencintai kakak." ucap Dewi.
Mata mereka bersirobak. Saling menyelami hati mereka. Jantung Dewi dan Genta berpacu. Sedetik kemudian, Genta mengalihkan
tatapannya pada b**** merah muda Dewi.
Otaknya tak mampu mengendalikan keinginan untuk mel****nya. Genta tergoda untuk mencicipi rasa manis yang tercipta dari sana. Dewi pun mengalihkan tatapannya ke tempat yang sama.
Hingga tanpa mereka sadari, jarak mereka semakin terkikis. Genta sudah memiringkan kepalanya. Jantung mereka berdetak semakin cepat. Hembusan nafas Genta memasuki Indra penciuman Dewi. Begitupun sebaliknya.
Dewi memejamkan matanya saat b**** Genta menyentuh b****nya. Genta meletakkan tangannya di tengkuk Dewi. Menariknya semakin dekat dengan dirinya.
Genta meng****nya dengan lembut. Dewi membalasnya. Bahkan Dewi melingkarkan tangannya di pinggang Genta. Meremas kemeja yang di gunakan kekasihnya itu.
Mereka saling bertukar saliva. Hanyut dalam buaian lembut yang tercipta. Genta menghentikannya. Ia tak ingin mereka melewati batas.
Ada rasa malu dan canggung yang tercipta. Genta menyatukan kening mereka. Kemudian mengecup kening Dewi dan memeluknya.
Dewi membenamkan wajahnya di ceruk leher Genta. Wajahnya terasa panas.
"Maaf, aku terbawa suasana." Dewi menggeleng.
"Kakak gak salah."
Saat Genta melepaskan pelukannya, Dewi membuang wajahnya ke arah lain. Wajahnya memerah. Genta pun sama. Ia merasa malu. Genta menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Beruntung, ia bisa mengendalikan dirinya. Jika tidak, ci**** tadi bisa berakhir di kamar. Mereka bisa bernafas lega, karena Sofia tak menangkap basah perbuatan mereka. Jika tidak, mungkin mereka bisa langsung di nikahkan.
Di nikahkan?
Ah, Genta sedikit menyesal karena Sofia tak memergoki mereka. Jika sampai itu terjadi, Genta tidak hanya akan mencicipi manisnya bi*** Dewi, tapi juga yang lainnya.
(Hayo..... babang Genta mulai berani ya....๐๐๐๐)
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
Hai, hai, hai genks..... Maafkan diriku yang tenggelam dalam kesibukan mengurus sekolah anak. Tapi aku gak lupa kalian kok.
Hari ini, banyak banget yang di urus ya. Maaf ya, belakangan aku lebih mengutamakan ngurus bocahku dulu. Apalagi, hari pertama sekolah.
Siapa nih yang seperti diriku, tengah rempong mengurusi kebutuhan sekolah anak?
Terimakasih ya buat pengertian kalian dan kesabaran kalian.
Sehat-sehat semuanya..... Jangan lupa like, komen, and hadiahnya ya....(Upssss๐คญ ngarep....)
Thank you all.... i love you....๐๐๐๐