
Genta tengah di sibukkan dengan banyaknya berkas yang harus ia persiapkan untuk menikahi sang tunangan. Rencana pernikahan yang semula masih akan berlangsung kurang lebih lima tahun lagi, kini harus di percepat hanya karena rasa takut. Rasa takut yang sebenarnya hanya di rasakan oleh Genta.
Sofia sendiri, tidak merasa harus menikahkan putrinya dalam waktu dekat. Namun, tidak ada salahnya mempercayakan putrinya pada pria yang sudah di yakininya penuh tanggung jawab seperti Genta.
Ibu yang melihat Genta memegang banyak berkas, memilih tidak bertanya dan membiarkannya. Ibu berjalan ke dapur dan membuatkan kopi untuk anak sulungnya itu.
Setelah menyiapkan kopi dan beberapa camilan, ibu membawanya ke kamar Genta. Genta menatap langit-langit kamarnya. Beberapa kali ia menghembuskan nafas kasar dan memejamkan mata.
Pikirannya berkecamuk tak karuan. Ia tidak tahu, apakah keputusannya untuk menikahi Dewi tepat atau tidak. Hingga ibu masuk ke dalam kamarnya pun, Genta tak menyadarinya.
Ibu menepuk pundak Genta pelan. Genta yang tengah melamun terlonjak kaget.
"Ibu...." ucap Genta seraya mengelus d**a nya pelan. Ibu terkekeh pelan.
"Kamu pasti melamun. Sampai ibu masuk ke kamarmu saja, kamu tidak tahu." cibir ibu.
Genta menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ada rasa malu pada ibunya karena dirinya tertangkap tengah melamun.
"Kok tumben kamu melamun seperti itu? Ibu gak pernah lihat loh!?" seru ibunya.
Genta menghela nafas kasar lagi.
"Cerita sama ibu kalau kakak lagi punya masalah. Sudah lama ibu tidak dengar kakak cerita." ibu mengusap lengan Genta.
Genta kembali menarik nafas dalam, dan menghembuskannya perlahan.
"Bu, sejujurnya Genta takut." ucapnya. Ibu terlihat tidak memotong pembicaraan. Beliau terus menyimak dan mendengarkan cerita putranya itu.
"Ibu tahu, nyonya Rianti?" tanya Genta. Ibu menganggukkan kepala menjawab.
"Genta tidak habis pikir. Rupanya ada orang seperti itu." ibu mengernyitkan dahi, namun tak bertanya.
"Ibu tahu, dia ingin membayar hutangnya dengan menujarkan Dewi." ucapnya dengan nada geram. Ibu terperangah. Ia sangat terkejut luar biasa.
"Kamu gak salah?" Genta menggeleng.
"Darimana kamu tahu?" tanya ibu lagi.
"Kakak melihat sendiri ucapan pria itu yang berbisik di telinga nyonya Rianti." ucapnya.
Ibu terkekeh, membuat Genta mengernyitkan dahi bingung.
"Kok ibu tertawa?" tanyanya.
"Kak, terkadang manusia itu bersikap impulsif. Kamu tahu, belum tentu apa yang kamu lihat itu adalah yang sebenarnya. Mata kita, telinga kita, bahkan pikiran kita sekalipun bisa salah. Kamu tidak bisa menyelami pikiran orang lain. Atau bahkan memaksa orang lain memiliki pikiran yang sama dengan kamu." ucap ibu panjang lebar.
"Tapi, Genta lihat sendiri pria itu menyebut nama Dewi Bu?!" ucap Genta sendu.
"Dengar nak. Mungkin apa yang kamu bilang itu benar. Apa kamu tahu, jika jeng Sofi sendiri tidak akan membiarkan hal itu terjadi? Bagaimana pun, Dewi itu masih memiliki orangtua. Bahkan, sekalipun jeng Rianti bukan orangtua kandungnya, dia pasti akan melindungi Dewi. Kamu tahu kenapa? Karena dia juga punya seorang anak gadis.
"Jadi, ibu harap kamu bisa berpikir lebih dewasa lagi. Jangan bertindak gegabah. Ingat, pernikahan itu bukan permainan. Ada janji yang terucap dalam pernikahan. Janji, yang harus kamu pegang teguh, sampai maut yang memisahkan kalian." nasihat ibu.
Genta menatap ibunya sendu. Apa yang di katakan ibunya memang benar. Tidak seharusnya dirinya bertundak gegabah. Bahkan mendahului kedua orangtua Dewi dalam mengambil keputusan. Tidak mungkin Sofi dan Bram akan tinggal diam jika masalah yang kini mereka hadapi, berhubungan dengan putri mereka.
Apalagi, Genta mengenal Sofi. Wanita itu tidak akan duduk diam saat putrinya di usik. Genta menghela nafas perlahan dan memeluk sang ibu.
"Iya kak. Lain kali, cobalah berbagi dengan ibu atau bapak. Kami akan mencoba mencarikan jalan. Jangan ambil keputusan di saat amarahmu sedang memuncak. Nantinya, kamu akan menyesalinya." ibu mengusap pundak Genta.
"Iya Bu." jawab Genta.
"Jadi, kamu akan tetap menikahi Dewi?" Genta menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kakak akan bicara dengan Dewi dulu. Takutnya, dia belum siap. Apalagi, Dewi masih sangat muda." ucapnya.
"Bagus. Kasihan kan, jika Dewi belum siap, lalu tiba-tiba statusnya berubah menjadi seorang istri." ibu pun melangkah meninggalkan Genta sendiri di kamarnya.
Genta kembali termenung. Memikirkan keputusan yang di ambilnya di saat tengah emosi. Ia pun memutuskan bertemu dengan Dewi langsung.
Tidak sampai satu jam, Genta tiba di apartemen. Ia segera menuju unit yang di tempati Dewi.
Ia memencet bel. Tak lama, terlihat Sofi membuka pintu dan tersenyum menyuruhnya masuk.
Genta segera masuk. Tak lama, Dewi mengajaknya bicara di balkon apartemen. Mereka pun duduk di sana setelah Dewi membawakan camilan dan teh.
"Jika kita menikah dalam waktu dekat, apa kamu siap?" tanya Genta seraya menatap dalam manik mata Dewi.
Dewi menatap Genta. Jujur saja ia sangat terkejut mendengar ucapan Genta. Menikah memang ada dalam rencana masa depannya. Tapi bukan untuk saat ini. Ia masih ingin meneruskan kuliahnya dan mencoba bekerja dengan kemampuannya sendiri.
"Dewi belum siap kak." jawabnya. Genta tersenyum kaku.
Seharusnya, ia sudah menyiapkan hatinya dengan jawaban Dewi ini bukan? Genta merasa malu dengan keputusannya sebelum ini.
"Kenapa kakak tiba-tiba ingin menikahi ku dalam waktu dekat?" tanya Dewi. Genta hanya menatap Dewi.
"Masalah Tante Rianti kemarin?" tanyanya lagi.
Dewi tersenyum saat melihat perubahan wajah Genta. Ia sangat tahu, kekasihnya ini begitu takut kehilangan dirinya. Dewi bangkit berdiri dan memeluk Genta.
Genta pun balas memeluk kekasihnya itu. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Dewi dan menikmati kehangatan yang mengalir di hatinya.
"Kak, aku tidak akan membiarkan Tante Rianti berbuat sesuka hatinya." ucapnya menenangkan hati Genta.
Genta mendongak menatap mata Dewi. Dewi pun menatap Genta dan tersenyum. Genta menarik Dewi, hingga Dewi terduduk di kaki Genta.
"Aku sangat menyayangimu." lirih Genta. Sontak, wajah Dewi memerah mendengar ucapan Genta.
Genta menarik tengkuk Dewi dan melabuhkan b***rnya di atas b***r Dewi. Dewi pun membalas c****n itu.
Mereka menikmati dan saling membalas. Memejamkan mata dan mereguk manisnya bersama. Sejak c****n pertama mereka, seakan b***r itu menjadi candu bagi Genta. Begitupun dengan Dewi.
Hingga nafas mereka tersengal, barulah mereka berhenti dan menyatukan kening mereka.
C****n itu begitu lembut. Tanpa ada hasrat yang mengikuti.
"Aku juga sayang sama kakak." Genta tersenyum.
"Jujur, aku memang sangat takut kehilangan kamu. Mungkin aku bisa gila tanpa kamu." ucap Genta sendu.
"Tapi untuk menikah, bukan sekarang saatnya." Genta mengangguk mengerti.