
POV Rianti
Aku melangkah semakin jauh. Entah aku ingin pergi kemana. Airmata ku mengalir tanpa bisa ku tahan. Hatiku perih, teramat perih. Tanpa sadar aku berada di pinggir pantai.
Aku terduduk dan membiarkan gelombang air laut menerpaku. Berharap rasa sakit ini terbawa olehnya. Inikah yang di rasakan mbak Sofi dulu saat melihat ku dan mas Bram bersama?
Aku ingat sekarang, di awal pernikahan, mas Bram memiliki sifat kekanakan yang hanya di tunjukkan nya di hadapan mbak Sofi. Saat itu, aku tengah berada di kamar. Aku ingin mengambil camilan di kulkas. Aku turun perlahan. Dari tangga bisa aku lihat, kemesraan mereka. Mas Bram memperlihat kan sisi kekanakan nya itu. Mereka saling menggoda, dan mencumbu. Membuatku iri setengah mati. Aku kembali ke kamarku.
Bukan aku tak peka dengan perasaannya. Berulang kali ku ingatkan diriku untuk tidak memonopoli mas Bram. Namun, cinta yang kudapat saat mas Bram tahu aku tengah mengandung anak nya, membuatku terlena.
Kemesraan mbak Sofi dan mas Bram perlahan memudar. Dan berganti dengan perhatian bertubi-tubi yang di berikan mas Bram padaku. Aku melihat, dan mendengar mbak Sofi menangis.
Aku melupakan mbak Sofi. Aku... aku... aku menyakitinya. Hiks...hiks...hiks...
Inikah karma atas perbuatan ku? Aku mendapatkan raga mas Bram, namun tidak dengan hatinya. Hatinya sepenuhnya milik mba Sofi.
Aku menangisi nasibku. Melepaskan segala sesak yang menghimpit ku. Meraung dan menjerit. Berharap dengan melakukan itu, rasa sesak itu menghilang.
Entah sudah berapa lama aku menangis. Aku tak tahu. Saat aku tersadar, langit sudah berubah warna menjadi senja.
Sekarang aku tahu. Aku bisa melihat mas Bram menatap penuh cinta pada mbak Sofi. Tapi sorot mata itu berbeda ketika menatapku. Senyum manis itu milik mbak Sofi.
•••••••••
Rasa terkejut Sofia segera hilang dan berganti tawa. Bram menatap bingung dengan reaksi Sofia. Beberapa saat lalu, wanita dihadapannya ini terlihat begitu terkejut. Namun sekarang, bagaimana mungkin dia tertawa?
Sofia menghapus airmata yang keluar akibat tertawa dan menetralkan suaranya dengan berdeham. Kemudian ia mendekati Bram.
Sofia melipat tangannya di d**a. Menatap dalam manik coklat itu. Kemudian, "Kau tahu mas, aku punya satu penyesalan terbesar dalam hidupku." Sofia berhenti.
Bram masih mendengarkan. Jantungnya berdegup kencang mendengar Sofia memiliki penyesalan. Tentang apakah ini?
"Aku menyesal, tidak mendengarkan kata-kata orangtuaku." Sofia berbalik dan meninggalkan Bram.
Bram lupa tentang kedua orang tua Sofia. Lebih tepatnya tidak ingat sama sekali. Kenangan itu tiba-tiba berputar kembali. Kenangan, ketika Sofia memperkenalkannya pada kedua orangtuanya di sebuah apartemen.
Bagaimana ayah Sofia menilainya sebagai pria miskin dan tak akan mungkin bisa membahagiakan putrinya. Sofia yang terlanjur mencintai Bram, menentang kedua orang tuanya dan memilih Bram.
Bram yang tidak punya apa-apa, memulai usahanya dari nol. Semua berhasil. Bram melamar Sofia.
"Sofi, menikahlah denganku. Aku berjanji, aku akan selalu membahagiakanmu. Kau sudah memilihku. Maka akan aku buktikan, pada orangtuamu, bahwa aku pria terbaik untuk putrinya yang cantik ini." Sofia tersenyum manis sekali. Pancaran kebahagiaan terlihat jelas dari keduanya.
"Maaf..... Aku benar-benar minta maaf." gumamnya pada diri sendiri.
Bram menatap punggung Sofia yang semakin menjauh. Bram membiarkan Sofia pergi. Hingga mobil yang ada di restoran tadi berhenti tepat di depan Sofia.
Entah apa yang mereka bicarakan. Kaki Bram terayun dengan sendirinya. Mencoba mendekat, namun terlambat. Sofia masuk kedalam dan mobil itu pun melaju.
Bram berbalik ke arah mobilnya. Dengan cepat, Bram mengikuti mobil itu. Namun kehilangan jejak dan memukul setirnya.
"Argh.. b******k. Siapa pria itu? Wajahnya tidak asing. Tapi siapa?" gumamnya.
Bram mengarahkan mobilnya kembali ke rumah. Tiba di rumah, putri kecilnya menyambutnya.
"Pa... Mama mana?" tanya Kinanti.
"Memang mama belum pulang?" Kinanti menggeleng.
"Belum." Bram mengambil ponselnya di saku celana. Mencari nama Rianti dan menghubunginya.
Panggilan itu masuk. Namun tak kunjung di jawab. Pria itu terus mencoba. Wajahnya berubah dengan kekhawatiran. Brian dan Genta pun tiba.
"Pa.." sapa Brian.
"Pak.." Genta menundukkan kepalanya tanda hormat.
Bram tak menyahut. Ia sibuk menghubungi Rianti. Sudah lebih dari lima kali, namun Rianti tak juga menjawabnya. Bram berlari menuju mobilnya. Tanpa basa basi, Bram menjalankan mobilnya. Genta dan Brian saling tatap.
"Papa kenapa kak?" Kinanti sudah ada di samping Brian dan Genta. Brian hanya menggeleng.
Mereka memperhatikan tingkah Bram yang sedikit aneh.
Di mobil.
"Astaga, bisa-bisanya aku melupakan Rianti. Hah. Tapi kemana dia, kenapa belum pulang?" gumamnya.
Bram menopang dahinya. Pikirannya semakin kacau. Permasalahannya dengan Sofia belum selesai, kini timbul lagi masalah baru.
Bram tiba di restoran tadi dan berlari masuk ke ruangan tadi. Saat ia membuka pintu, ruangan itu sudah terisi orang lain.
"Maaf...maaf.." Bram meminta maaf.
Bram menuju meja kasir dan bertanya pada pekerja restoran. Namun mereka bilang, Rianti sudah pergi tak lama setelah dirinya pergi.
Bram bingung. Kembali ia mencoba menghubungi Rianti. Kali ini, ponsel Rianti tak lagi aktif.
"Argh... B***h kau Bram b***h..." rutuk nya seraya memukul setir.
"Bagaimana ini. Anak-anak akan marah padaku."
Bram menjalankan mobilnya dan memutuskan mencari Rianti di setiap tempat yang biasa ia datangi. Ia terus menjelajahi ibukota. Nihil. Hingga tengah malam, Bram belum menemukannya.
"Dimana kau Rianti?" lirihnya. Ia kembali mencoba menelponnya. Belum juga aktif.
Bram berpikir, mungkin saja istrinya sudah pulang dan tertidur. Apalagi, Rianti memiliki kebiasaan mengubah mode ponselnya menjadi mode pesawat ketika tidur. Pria itu memutuskan pulang dan melihat istrinya di sana. Tubuhnya pun terasa lengket dan lelah.
Tiba di rumah, Bram melangkah lebar menuju kamarnya. Ia membuka pintu dan diam tak percaya. Istrinya belum juga pulang ternyata.
Tubuhnya merosot. Ia tak tahu harus mencari kemana lagi. Apa yang harus di katakan nya pada Brian dan Kinanti saat mereka bertanya nanti?
"Rianti, dimana kau?" ucapnya lirih sekali.
Bram membersihkan diri. Ia memutuskan akan kembali mencari Rianti lagi esok. Ia membaringkan dirinya di ranjang. Mencoba memejamkan mata namun tak bisa.
Ia bangun dan menatap keluar melalui jendela. Berjalan bak setrikaan. Hingga pagi menjelang, tak ada tanda-tanda ia kembali.
Kantuk Bram menghilang. Pikirannya menjadi kosong. Ia tak bisa berpikir jernih.
Rasa gelisah dan takut menghinggapinya. "Tidak tidak tidak. Tidak mungkin Rianti meninggalkanku. Itu mustahil." pikirnya.
"Tapi bagaimana kalau benar? Apa yang harus ku lakukan?"
"Rianti, kembalilah. Ku mohon, kembalilah. Beri aku petunjuk keberadaan mu. Aku sendiri yang akan menjemputmu."
Bram kembali menyusuri kota di pagi harinya tanpa bertemu anak-anaknya. Ia tak siap menjawab pertanyaan mereka tentang ibunya.