My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Pendapat Kinanti



Satu Minggu sudah berlalu sejak Brian menghubungi Sofia, untuk memintanya kembali. Brian masih menunggu jawaban dari Sofia. Pria ini berharap, jika Sofia akan mengabulkan keinginannya. Sejak itu pula, Brian mencoba positif thinking.


Hari ini, Brian pulang lebih awal. Dia ingin menemui ibu kandungnya Rianti. Brian akan mengatakan pada mamanya tentang keinginannya itu.


Tiba di rumah, Brian mencari sang mama di taman belakang. Taman belakang, adalah tempat favorit untuk Sofia dan Rianti. Di sini, mereka bisa menghibur diri mereka dengan melihat berbagai bunga yang di tanam.


Terkadang, Sofia dan Rianti juga menanam berbagai bunga dan tanaman hias lainnya. Namun, semenjak kepergian Sofia, Rianti lah yang merawat semua tanaman yang sudah di tanam Sofia.


"Ma..." sapa Brian. Pria itu memeluk mamanya dari belakang.


"Kakak nih, sudah besar kok ya masih manja sama mama?" ledek Rianti. Wanita lembut itu membalik tubuhnya menghadap sang putra.


Brian mencium punggung tangan Rianti dan mengecup pipi mamanya dengan lembut. Mereka melangkah menuju bangku di taman itu.


"Kok tumben, sampai rumah langsung cari mama. Ada apa nak?" wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan bersifat lembut itu, merapikan rambut putra kesayangannya itu.


"Mama setuju gak, kalau mama Sofi kembali ke rumah ini?" Brian menatap mamanya penuh harap.


Deg... Jantung Rianti seakan melompat mendengar pernyataan putranya. Bukan ia tak menyukai Sofia kembali lagi, tapi apa dia mau kembali?


Sesaat wajahnya tertegun. Meski senyum lembut itu masih terukir di wajahnya. Matanya memancarkan harapan. Ada rasa bahagia, namun juga rasa sakit.


Setelah dua puluh tahun lebih perhatian Bram hanya tertuju padanya dan anak-anaknya, siapkah dia melihat semua itu terbagi? Dia sendiri tidak mengerti dengan hatinya. Apa yang sebenarnya ia harapkan?


Panggilan Brian membuyarkan lamunannya. Seketika, ia kembali lagi pada kenyataan. Kenyataan, bahwa dirinya hanya istri kedua.


"Ma.." panggil Brian lembut. Brian mengusap punggung tangan sang mama.


"Maaf. Mama jadi melamun." akunya.


"Gak apa apa ma. Bagaimana menurut mama?" tanya Brian lagi.


"Kamu, sudah bicara dengan papa dan mama Sofi?" Rianti berbalik tanya. Brian mengangguk.


"Sudah. Tapi, respon papa dan mama Sofi sama." jawabnya.


"Apa?" Rianti penasaran dengan jawaban Sofi dan Bram.


"Tidak ada. Mereka hanya diam." Brian mengacak rambutnya frustasi.


Rianti melihat kepolosan dari anaknya. Pria muda sukses, namun polos dalam menanggapi sebuah hubungan. Apalagi, hubungan keluarga.


Rianti tahu, bagi Brian keluarga adalah yang terpenting. Namun, kasus yang dialami keluarganya sungguh berbeda.


"Nak, adakalanya kamu tidak perlu tahu jawaban dari setiap pertanyaan yang kamu lontarkan. Karena, terkadang jawaban itu akan sangat menyakitimu. Ada juga, jawaban yang tersirat. Baik dari sikap, perilaku, maupun ke-diaman orang itu yang akan sudah mencerminkan sebuah jawaban." jawab Rianti.


Brian menatap sang mama bingung. Apa maksud mama? Ia mengernyitkan dahinya dalam.


Rianti menepuk pundak putranya lembut dan meninggalkannya. Brian menatap punggung sang mama hingga menghilang.


Sepeninggalan sang mama, Brian menatap kosong pada taman di hadapannya. Pikirannya di penuhi dengan jawaban sang mama.


Apa maksud mama itu, mama Sofi dan papa tidak ingin kembali tinggal bersama? Apa ini hanya angan ku saja? Tapi kenapa? Kenapa mereka tidak ingin kembali bersama? Jawaban yang tidak perlu ku ketahui. Namun, saat aku tahu akan menyakitiku? Jawaban yang tersirat. Semua ucapan Rianti, terngiang-ngiang dalam benak Brian.


•••••••••


Malam hari di meja makan, semua anggota keluarga sudah berkumpul. Rianti terlihat biasa saja setelah pembicaraannya dengan Brian sore tadi. Begitupun dengan Bram.


"Kinan..." panggil Brian. Brian sudah menyelesaikan makan malamnya. Setelah menenggak habis air dalam gelas, ia menatap adiknya.


"Ada apa kak?" tanya Kinanti. Kinanti pun sudah selesai dengan makan malamnya. Begitupun Bram dan Rianti.


Kinanti menantu kakaknya melanjutkan ucapannya. Begitupun dengan Rianti dan Bram. Mbok Siti mulai membereskan sisa makanan yang ada di meja makan.


Setelah mbok Siti selesai membereskan meja makan, Brian mengajak Kinanti ke ruang keluarga. Bram dan Rianti mengikuti mereka.


Bram duduk di sisi Rianti dan merangkul pundaknya. Kemesraan ini lah yang tidak ingin di baginya jika Sofia kembali. Rasa egois itu, sudah merajai hatinya.


"Kakak tadi mau ngomong apa?" tanya Kinanti.


Brian menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Entah mengapa, jantungnya berdetak lebih cepat.


"Bagaimana menurutmu jika mama Sofi dan kak Dewi tinggal kembali bersama kita." seketika, semua orang menoleh pada Brian.


Bram dan Rianti tidak menduga akan pembicaraan ini. Kinanti terdiam. Lebih tepatnya, ia tak mengerti bagaimana harus bereaksi.


"Kenapa kakak tanya Kinan?" Kinan menatap Brian penuh tanda tanya.


"Kakak hanya minta pendapat kamu. Karena, kakak sudah tanya pada mama, papa, bahkan mama Sofi sendiri. Tapi, semua diam tanpa menjawab." Bram dan Rianti menunduk mendapat tatapan dari Brian.


"Sejujurnya, Kinan tidak begitu mengenal mama Sofi. Tapi, kak Dewi sangat baik. Dia sosok kakak yang menurut Kinan the best." Kinan menyatakan pendapatnya.


"Jadi?" Brian kembali bertanya.


"Untuk tinggal di sini, bukan hak kinan untuk menjawab. Biar papa dan mama yang jawab." jawab Kinan.


Bram dan Rianti segera berlalu meninggalkan ruang keluarga dan menuju kamar mereka. Mereka tidak ingin Brian terus mendesak.


Di dalam kamar, Rianti menatap Bram. "Mas.." panggil Rianti. Bram mengangkat pandangannya ke arah Rianti.


"Kau ingin membahas masalah Sofia juga?" tebak Bram. Rianti mengangguk.


"Aku sudah menemuinya dan bertanya langsung padanya." ada rasa sakit yang tiba-tiba hadir dalam hati Rianti mendengarkan pengakuan Bram.


"Sofi tidak menjawab ya, ataupun tidak. Dia hanya diam." Rianti resah.


"Menurut mas Bram, apa mbak Sofi ingin kembali?" Bram menghela nafas kasar. Ia sendiri tidak tahu jawabannya.


"Aku tidak tahu. Setelah banyaknya rasa sakit yang ku berikan, aku tidak banyak berharap. Aku sadar, dia pasti sangat membenciku. Jadi, aku tidak akan memaksanya untuk tinggal lagi di sini. Untuk Dewi, semua terserah padanya. Sejak anak itu lahir, aku tidak pernah turut andil dalam merawatnya. Jadi, aku pun tak berharap jika Dewi mau tinggal bersama kita di sini." tutur Bram.


🥀🥀🥀🥀🥀


Hai readers ku tersayang.....


Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga semua sehat-sehat ya.


Terimakasih yang masih setia di novel ini. Terimakasih untuk setiap 👍,🗯️,dan ❤️nya.


Jika berkenan, minta votenta dong.... hehehe


Terimakasih semua kesayangan aku....


Love you all😘