
Esok hari, Genta, Kiara dan Dewi pergi ke mall di desa mereka. Meski mall di desa tidak semegah dan selengkap mall yang berada di kota, namun mereka cukup menikmatinya.
Kiara, berada di sisi kiri Genta. Sementara Dewi, di sisi kanannya. Setiap mata memandang mereka. Sebenarnya, Dewi merasa sedikit resah karena pandangan orang lain.
Ingin sekali ia melepas genggaman tangan Genta dan beralih ke samping Kiara. Sayangnya, Genta memegangnya erat.
"Kak, lepas dong?" bisik Dewi.
"Kenapa?" jawab Genta dengan berbisik pula.
"Malu tahu di lihatin orang."
"Biarin saja. Aku gak nyusahin mereka kok." mereka masih berbicara dengan berbisik.
"Kakak kelihatan seperti playboy tahu."
"Hahahaha..." Genta terbahak. Membuat Dewi dan kira menoleh. Serentak, Kiara dan Dewi melepas genggaman Genta dan menjauh.
Genta mengejar mereka dan berdiri diantara mereka. Merangkul pundak kedua gadis itu. Dewi dan Kiara melepaskan rangkulan itu dan berlari menuju toilet.
Mereka merasa ngeri dengan tingkah Genta hari ini.
"Kakak kamu lagi kenapa sih Ki?" tanya Dewi heran.
"Aku juga gak tahu Wi." jawab Kiara yang masih memikirkan sikap Genta kakaknya.
"Kak Gen, kalau di dekat kamu sering begitu ya?" tanya Kiara ambigu.
"Begitu apa?" dahi Dewi mengernyit mendapat pertanyaan ambigu itu.
"Kelihatan posesif." Dewi membelalakkan matanya. Menatap Kiara melalui kaca di depannya. Sama dengan Kiara. Hanya Kiara memainkan kedua alisnya dan tersenyum. Terlihat mengejek Dewi.
"Jalan sama dia saja baru beberapa kali. Mana aku tahu dia posesif atau enggak." gumamnya yang masih bisa terdengar jelas oleh Kiara.
Kiara tertawa melihat raut wajah Dewi yang menggemaskan. Ia pun mencubit kedua pipi Dewi.
"Gemes banget sama calon kakak ipar ku ini." Dewi memejamkan mata merasakan sakit di pipinya.
"Sakit tahu.." Dewi mengusap kedua pipinya yang di cubit Kiara tadi.
Mereka pun keluar dari toilet. Keluar dari toilet, mereka menghampiri Genta dan memutuskan untuk menonton film yang baru saja keluar. Menurut trailer yang di tayangkan cerita ini cukup menarik. Hingga mereka ingin menontonnya.
Genta mengantri membeli tiket untuk mereka setelahnya, mereka memasuki teather dan memilih tempat duduk.
"Kiara mau di ujung." ucap Kiara.
"Aku samping kamu Ki." dengan cepat Dewi mendahului Genta menduduki bangku di samping Kiara. Jadi lah Genta di sebelah Dewi. Dan bangku di sebelahnya masih kosong. Hingga masuk dua orang gadis dan duduk di samping Genta.
Genta terkejut. Dengan cepat, mengalihkan perhatiannya pada layar di depan.
Kenapa harus ketemu Cindy lagi. Biarlah asal dia tidak mengganggu gadisku. Toh, dia ingin menjadi temanku sekarang. Bukan orang spesial bagiku. batin Genta.
•••••••••
Cindy dan Hana pun, yang sudah selesai berbelanja kebutuhan dapur, siang itu mereka ingin melihat mall yang ada di sana.
Tiba di sana, Cindy dan Hana menyusuri mall dan melihat-lihat barang yang mungkin menarik. Mereka cukup menikmati hari itu.
Cindy melihat keberadaan Genta yang tengah menggandeng mesra dua orang gadis. Begitu pun dengan Hana. Mereka membelalakkan mata melihat hal itu.
"Di kirinya Genta itu adiknya. Kalau sebelah kanan, setahu gue teman adiknya. Tapi gak tahu, apa ada hubungannya atau enggak." tutur Cindy.
"Lo tahu sampai sedetail itu?" Hana terlihat tak percaya. Cindy mengangguk.
"Kayanya Genta lihat kita deh." Genta menatap mereka dan tersenyum manis.
"Sudah biarkan saja. Kenapa mood gue jadi berubah ya?" gerutu Cindy. Hana terkekeh melihat ekspresi yang di tampilkan Cindy.
Mereka akhirnya menuju toilet. Cindy merasa suhu meningkat drastis saat melihat adegan itu.
Kenapa saat di dekat gue, Genta terlihat menjaga jarak. Tapi, sama anak ingusan itu justru terlihat mesra. Meski hanya bergandengan tangan. bibir Cindy mengerucut sebal mengingat interaksi Genta dengan gadis yang di ketahuinya adalah sahabat adik Genta.
Ia masuk ke dalam bilik toilet. Hana pun demikian. Saat ia menuntaskan hajatnya, terdengar suara dua orang gadis yang ia yakini adik Genta dan sahabatnya.
Cindy menyampirkan anak rambutnya ke belakang telinga. Menajamkan pendengarannya untuk mencuri dengar pembicaraan gadis-gadis itu. Sama halnya dengan yang di lakukan Hana di bilik sebelahnya.
Cindy menegang mendengar ucapan adik Genta itu. Calon kakak ipar? batinnya.
Setelah suara kedua gadis belia itu tak lagi terdengar, Cindy keluar dari bilik toilet itu bersamaan dengan Hana.
"Lo dengarkan apa yang di bicarakan mereka tadi?" Cindy mengangguk.
"Terus.." Hana membuka mulutnya tak percaya.
"Mulut Lo jangan lebar-lebar. Nanti kemasukan lalat." Cindy mendorong dagu Hana ke atas. Berharap mulut sahabatnya itu tertutup.
Hana hanya menggelengkan kepala. Tak habis pikir dengan isi kepala sahabatnya.
Sumpah, gue gak ngerti jalan pikiran Lo Cin. Lo kelihatan masih semangat mengejar cinta Genta. Meski sampai sekarang, Genta gak pernah menggubris Lo. Hana hanya bisa mengatakannya dalam hati.
Mereka pun keluar dari kamar mandi seraya berjalan, Cindy membisikkan sesuatu di telinga Hana.
"Kali ini, lawan gue bocah ingusan." Hana memandang Cindy takjub. Baru kali ini ia melihat Cindy tertantang dengan seorang bocah.
Sepertinya, pesona Genta sungguh luar biasa.
"Berarti bocah ingusan itu juga punya pesona yang gak bisa Lo lawan ya Cin?" ucapnya Hana seakan ingin memprovokasi Cindy.
Cindy mendelik dan memukul lengan sahabatnya. Hingga Hana mengaduh kesakitan.
Kali ini mereka memutuskan menonton film di bioskop lantai atas. Cindy dan Hana menatap setiap film yang akan tayang. Setelah memilih, mereka pun membeli tiket. Beruntung masih ada dua tiket tersisa.
Setelahnya, mereka memasuki teather dan mencari tempat duduk mereka. Ketemu. Mereka pun mencari kursi kosong. Cindy masuk lebih dulu. Di belakangnya, Hana menyusul.
Tiba di kursi mereka, Cindy dan Hana terkejut melihat Genta yang duduk di dekat kursi mereka. Mereka membeku sesaat. Saat lampu di padamkan, mereka segera duduk.
Entah mengapa, Cindy merasa gugup duduk di sebelah Genta. Ada perasaan senang yang hadir di hatinya. Cindy tersenyum tanpa terlihat.
"Takdir macam apa ini? Kenapa kita ketemu mereka lagi?" bisik Hana. Cindy hanya menggeleng.
Sepertinya ini kode buat gue ngedeketin Genta lagi. Ya sepertinya begitu. Gadis itu, harus menjauh dari Genta. Ini salah satu jalan buat gue mendapatkan Genta. Tentunya, harus dengan cara yang sportif. Gue gak suka berlaku curang. Selebihnya, keputusan ada di tangan Genta. Dia pilih gue, atau gadis ingusan itu. batin Cindy semangat.
••••••••••
Terimakasih buat kalian semua yang masih setia di novelku. Terimakasih yang sudah rate 5, terimakasih yang sudah like, komen juga favorit kan novelku.
I Love u all.....🤗💖☺️