
Genta dan Dewi memasuki mobil pengantin. Setelah rangkaian acara resepsi berakhir, kini mereka berniat kembali ke kediaman Genta. Ya, setelah menikah Dewi akan tinggal di kediaman Genta bersama keluarganya.
Senyum keduanya tak pernah hilang dari wajah mereka. Genta bahkan menautkan jemarinya di jemari Dewi. Menciuminya berkali-kali. Dalam hati, ia bersyukur karena kisah cintanya tidak menghadapi rintangan yang terlalu sulit. Hanya di awal hubungan mereka saja ada gangguan restu dari Brian dan Bram.
Kini, semua rintangan sudah berakhir.
Mereka terkejut, saat mobil yang membawa mereka berjalan ke arah lain. Genta mengernyit, saat melihat jalan yang di lalui.
Bukankah ini jalur menuju bandara? pikirnya.
"Mang Joni, kenapa kita ke bandara?" tanya Genta pada mang Joni. Mang Joni hanya balas tersenyum.
"Kenapa mang Joni senyum-senyum?" tanya Dewi heran.
"Gak ada apa-apa kok non." jawab mang Joni.
Genta dan Dewi saling berpandangan. Hingga akhirnya, mobil yang mereka tumpangi tiba di bandara. Dewi yang memang sudah merasa lelah, sudah jatuh tertidur lebih dulu.
Dengan lembut, Genta membangunkan istrinya itu. Istri... Rasanya Genta seperti mimpi. Tidak menyangka, jika akhirnya dirinya dan Dewi akan bersama dalam hubungan suami dan istri.
"Sayang, ayo bangun." Dewi mengerjapkan matanya.
"Kita sudah sampai?" tanya Dewi dengan suara serak.
"Belum." jawab Genta.
"Mang, kenapa kita ke bandara tidak pulang saja?" Genta bertanya pada mang Joni.
"Ini perintah bapak. Saya hanya menjalankan tugas saja. Silahkan den, bapak sudah menunggu di dalam." mang Joni membukakan pintu.
Genta dan Dewi pun keluar dari mobil. Beruntung, Dewi sudah mengganti pakaiannya di hotel tadi. Benar saja, rupanya Bram sudah menunggu mereka di terminal keberangkatan.
"Pa.." Dewi dan Genta menyalami Bram.
Bram tersenyum menyambut putri dan menantunya. Memeluk mereka bergantian.
"Kalian akan berangkat ke pulau A." ucap Bram.
"Pulau A?" tanya Dewi dan Genta bersamaan.
"Maaf pa, tapi kami berencana bulan madu dengan mengelilingi ibukota saja." ucap Dewi.
Bram tersenyum menanggapi ucapan putrinya. Kemudian ia menghampiri Genta menantunya dan merangkulnya.
"Papa tidak memungut biaya loh." Genta terkejut.
"Genta mengerti pa. Tapi, ini kemauan Dewi."
"Dua Minggu yang lalu, kami sudah membicarakannya. Dan Dewi, ingin mengelilingi ibukota." jelas Genta.
Bram menatap putrinya. Bukankah selama lima tahun belakangan Bram sudah membawa Dewi menjelajahi berbagai tempat di ibukota? Bahkan tidak hanya di ibukota, berbagai negara pun mereka kunjungi di setiap waktu luang. Lalu, mengapa sekarang putrinya ingin menjelajahi ibukota lagi?
"Pa, Dewi hanya ingin menghabiskan waktu cuti Dewi dan kak Genta dengan keluarga."
"Setelahnya, kami akan di fokuskan dengan keluarga kecil kami."
"Ya, tidak mungkin kan kami melibatkan keluarga besar dalam keluarga kami nanti."
"Anggap saja, saat ini kami belum menikah." Dewi menjelaskan maksudnya.
"Nak, meski kamu sudah menikah, kamu tetap putri papa. Sampai kapanpun." Bram menangkup wajah Dewi dengan kedua tangannya. Kemudian mencium kening putrinya.
"Dewi tahu pa. Selamanya, papa adalah papa Dewi."
"Tapi, setelah kami resmi menikah, kami ingin membangun keluarga kami sendiri."
"Tanpa campur tangan papa dan mama, ataupun bapak dan ibu."
"Biarkan kami mandiri."
Bram akhirnya mengalah. Putrinya tak bisa ia debat. Pada akhirnya, ia membiarkan Dewi melakukan keinginannya.
*****
Hingga saat tiba di hotel, rasa lelah mendera mereka. Mereka pun memilih mengistirahatkan tubuh mereka, dan menunda aktifitas fisik yang seharusnya terjadi malam tadi.
Kini, mereka sudah siap. Dengan pakaian santai, mereka berjalan meninggalkan hotel dan memakai motor yang di siapkan Brian sebagai kendaraan mereka mengelilingi ibukota.
Awalnya, Brian menyiapkan mobil untuk pasangan itu. Namun Dewi dan Genta menolaknya. Ingin merasakan 'keromantisan' menjadi alasan mereka.
Dimulai dari mengelilingi berbagai taman kota, hingga kini, mereka berakhir di pantai. Suasana sore, semakin membuat mereka terlena menatap keindahan langit sore itu.
Duduk beralaskan pasir, dengan punggung bersandar di d**a Genta, mereka menikmati sunset.
"Indah ya kak." ucap Dewi seraya tersenyum. Genta mengecup puncak kepala Dewi.
"Kamu jauh lebih indah sayang." Dewi menatap manik mata milik Genta. Di iringi dengan matahari yang tenggelam perlahan, mereka saling melabuhkan b***r dan menikmati manisnya bersama.
Dua insan yang tengah menikmati indahnya hari bersama, memadu kasih dan menghabiskan waktu bersama. Malam harinya, Genta sudah menyiapkan candle light dinner di dalam kamar hotel. Kamar hotel yang menghadap laut lepas di malam hari, semakin menambah romantisme hubungan mereka.
Mereka menikmati makan malam dengan senyum yang sesekali menghias wajah mereka. Usai makan malam, Genta duduk di atas ranjang dan bersandar di kepala ranjang.
Setelah menyikat gigi, Dewi ikut naik ke atas ranjang dan bersandar di d**a Genta. Genta pun menyambutnya dan mengecup puncak kepala Dewi berkali-kali. Seraya memperbincangkan hal remeh temeh.
"Kak.." Dewi mendongak.
"Hmmm..." jawab Genta seraya tersenyum pada istrinya itu.
"Kakak ingin punya anak berapa?" tanya Dewi. Wajahnya memerah menanyakan itu. Hingga Dewi menunduk malu dan menyembunyikan rona wajahnya.
Jujur saja, jantungnya berdegup kencang saat ini. Setelah kata-kata itu meluncur dari bibirnya, pikirannya melayang pada adegan yang seharusnya sudah terjadi sejak kemarin. Namun, karena rasa lelah melanda akhirnya mereka memilih tidur.
Wajah Dewi semakin memanas dan merah membayangkan hal itu. Bahkan ia sudah tersenyum malu-malu. Genta yang menerima pertanyaan itu, tidak menyadari ekspresi Dewi.
"Berapa ya? Berapa yang Tuhan kasih saja." jawabnya.
"Memangnya, kamu sudah siap? Tidak ingin menunda?" tanyanya.
Dewi tersadar dari pikiran liarnya.
"Aku tidak ingin menunda." jawabnya menatap manik mata milik Genta.
"Tapi, jika Tuhan tidak menitipkannya dalam waktu yang lama, apa kakak akan seperti papa?"lirih Dewi.
Mendengar pertanyaan Dewi, membuat Genta mengeratkan pelukannya pada istrinya itu. Tidak bisa di pungkiri, ada rasa takut yang menghampiri pikiran Dewi. Melihat kenyataan pahit yang di alami mamanya, membuat Dewi merasa takut.
"Tidak akan pernah." jawab Genta dengan yakin.
"Untuk mendapatkan mu saja, aku harus berjuang dengan keras."
"Apa aku harus melepas mu dengan mudah, hanya karena alasan keturunan?"
"Bukankah semua pria menginginkan keturunan?" tanya Dewi lagi.
"Tapi, kita bisa mengusahakannya dengan cara lain. Dengan bayi tabung misalnya, atau mengangkat anak. Dengan begini, kita membagi rejeki yang kita punya pada anak yang kurang beruntung bukan?"
Dewi mengeratkan pelukannya mendengar penjelasan Genta. Dia bersyukur memiliki suami yang sangat mengerti dirinya.
"Apa, aku bisa memulai prosesnya?" tanya Genta berbisik.
"Proses apa?" tanya Dewi bingung.
"Proses pembuatan anak." bisiknya.
Wajah Dewi semakin memerah. Alih-alih menjawab permintaan Genta, Dewi mengangguk. Mereka pun, memulai proses itu dan menikmati malam itu bersama.
🌹🌹🌹🌹
Cie..... ada yang ngebayangin yang enggak² nih ye... 🤭🤭
Jangan di jabarkan. Pasti ada di antara para genks yang di bawah umur dan belum menikah. Jadi, imajinasinya main sendiri ya.☺️☺️☺️
Sampai jumpa di extra part berikutnya...
Thank you genks. I love you....😘🤗