My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Curahan Hati



_Dewi POV_


Setelah liburan terakhir dengan Kiara dan Puspa, aku ingin sekali bertanya pada Kiara tentang kejadian saat itu di apartemen mama. Berulang kali ingin ku tanyakan. Berulang kali juga ku urungkan.


Entah kenapa, ada ketakutan yang menghampiri hati dan pikiranku. Jujur saja, aku tak ingin kehilangan sahabatku. Tapi, apakah aku rela kehilangan cinta pertamaku yang bahkan belum terjalin?


Sempat ku bertanya dalam hati, kenapa kak Genta tidak langsung meminta ku sebagai 'pacar' saat itu? Kenapa harus menunggu ia sukses? Mungkin akan ku tanyakan nanti saat aku mengatakan 'ya'.


Aku sangat merindukan sosok kak Genta yang penyayang. Tapi, jika dengan orang lain yang hanya sekedar teman, ia akan bersikap sewajarnya.


Dia adalah pria pertama yang membuatku merasa nyaman di luar keluargaku. Bahkan, teman-temanku pun tak bisa memberikan rasa itu.


Setelah aku masuk ke SMP, banyak teman laki-laki yang menyatakan cinta padaku. Namun, sedikitpun aku tak menaruh hati pada mereka. Aku hanya menganggap mereka teman.


Tidak hanya aku, Kiara pun ternyata cukup populer. Aku dan Kiara sama-sama bertekad untuk tidak menjalin hubungan di luar pertemanan. Kami ingin fokus pada study kami.


Lain halnya dengan Puspa. Dalam Tiga tahun pendidikan kami di SMP, entah sudah berapa kali dia berganti pacar. Tapi biarlah, itu adalah privasinya. Aku dan Kiara sebagai sahabat, hanya memberinya nasihat.


Saat ini, Kami sudah duduk di bangku SMP tingkat akhir. Sebentar lagi, kami akan menghadapi ujian akhir. Kemudian kami akan melangkah ke jenjang pendidikan selanjutnya.


Sore ini, aku dan Kiara sedang belajar bersama di rumahku. Mama masih bekerja, mbok Narti sedang melakukan pekerjaannya.


Di tengah keseriusan kami belajar, Kiara membicarakan sesuatu yang membuat jantungku berdebar dengan cepat.


"Kak Genta bulan depan mau pulang Wi. Bisa kangen-kangenan dong kalian?" dia tersenyum tanpa melihatku.


Aku tersenyum tipis mendengar penuturannya. Tapi ku coba untuk bersikap biasa saja tentunya.


"Oh ya? Bagus dong. Kasian om dan Tante. Pasti kangen banget." ku coba untuk mengalihkan pembicaraan.


Kiara tertawa kecil. "Hehehe.... Lucu kamu. Aku kan nanyain kamu, bukan bapak sama ibu. Kalau bapak sama ibu itu sudah pasti kangen sama kakak. Yang aku ingin tahu itu 'pacar'-nya." Kiara memberi penekanan pada kata 'pacar'.


"Siapa pacar kak Gen?" aku masih berpura-pura.


"Ya kamu lah. Kak Genta kan cuma suka sama kamu." kini Kiara menatap ku dengan mata berbinar.


"Aku?" aku menunjuk diriku sendiri. Tiba-tiba saja, lidahku menjadi kelu. Ku lihat Kiara mengangguk dan tersenyum lebar.


"Se--sejak kapan?" keringat dingin terasa mengalir di dahi ku. Ku ambil tisue dan mengelap keringat itu.


"Sebelum kak Genta pergi ke ibukota." bisik nya.


Entah mengapa, udara di sekitarku terasa begitu panas. Sepertinya, ketakutan ku kembali hinggap di hati dan pikiran ku.


"Tenang saja, aku restui kok kak Genta sama kamu. Setuju banget malah." aku mendesah lega dalam hati ku.


"Kamu tahu darimana kak Genta menyukai aku?" aku takut mendengar jawaban dari Kiara.


"Waktu kak Gen memutuskan kuliah sambil bekerja, aku gak sengaja liat kalian bertemu di taman. Kak Genta, minta kamu jadi pacarnya kan?" senyumnya terlihat mengejekku.


"Hahahaha...." kenapa dia tertawa pikirku?


"Muka kamu merah banget Wi." tanpa sadar ku pegang kedua pipiku.


"Berarti kamu tahu dong kalau aku belum jadi pacarnya?" dia mengangguk seraya mengambil camilan di atas meja.


"Sejak kapan kamu tahu aku suka sama kak Gen?" Kiara terlihat berpikir sambil terus mengunyah. Jantungku terus berdegup dengan kencang.


"Kayanya sejak awal masuk SMP deh." ternyata sudah lama.


"Kamu benar, aku sudah lama suka sama kak Gen. Dia itu baik banget. Selalu ada saat aku butuh bahu untuk menangis. Dia juga selalu ada, saat aku butuh tempat untuk mengadu. Mama yang sibuk, papa yang jauh dari aku, kakak, adik, dan mama Rianti yang juga jauh dariku. Begitu dia ada di sampingku, rasanya aku tak butuh lagi yang lain."


Perkataan itu, mengalir begitu saja dari bibirku. Hingga ku sadari, Kiara menatap ku dengan tatapan yang aku tak mengerti.


"Cinta mati kayanya nih." ejeknya.


Aku hanya tersenyum. Sepertinya, sesi belajar hari ini kami selingi dengan sesi curhat.


Ada kelegaan saat aku mengatakan isi hatiku pada sahabatku ini. Dia adalah orang kedua setelah kak Genta yang ku percaya.


Setelah Kiara mengatakan jika ia menyetujui aku dan kakaknya berpacaran, rasa takut yang sempat menghantuiku pun hilang tanpa jejak.


Kini, aku tinggal menunggu saat yang tepat untuk menjawab pernyataan kak Genta dulu. Semoga saja, takdir menyatukan kami.


Kak Gen, aku akan tetap menjaga hatiku padamu. Tolong, jaga juga hatimu untukku. Jika kau ingin jawaban sekarang pun, aku akan menjawab 'ya' sekarang.


"Kiara, kamu gak berniat pacaran?" tiba-tiba saja aku tergelitik menanyakan itu. Ku lihat wajahnya terkejut. Ada semburat merah di pipinya.


"Jangan-jangan kamu sudah punya seseorang yang kamu suka ya?" pipinya semakin merah. Aku jadi semakin ingin menggodanya.


"Cerita dong Ki, siapa sih?" dia terlihat berpikir.


"Sebenarnya, aku baru ketemu dia sekali. Jadi, gak tahu dia siapa." wajah Kiara berubah sendu.


Ku peluk Kiara. "Sabar, kalau dia jodoh kamu, kalian pasti akan ketemu lagi." aku mencoba menyemangatinya. Dia mengangguk pelan. Bahkan memaksa senyumnya.


"Ketemu dimana?" lagi aku bertanya.


"Waktu kita liburan di apartemen kamu. Ketemu di lift." ucapnya malu-malu.


Aku terkejut, ternyata Kiara jatuh cinta pada pandangan pertama. Apakah liburan nanti ku ajak dia lagi? Sepertinya harus. Siapa tahu, Kiara bisa bertemu pria itu dan berkenalan.


Hihihi... Pasti seru. Nantinya, bisa double date pikirku saat itu.


"Kamu kenapa senyum-senyum Wi?" rupanya dia memperhatikanku.


"Hmmm.... Gak kok." ahhh.... malu sekali rasanya. Belum apa-apa, pikiranku sudah melayang jauh.


Kami pun melanjutkan belajar kami. Jika kami terus melakukan sesi curhat, bisa di jamin tak akan selesai dalam waktu singkat.


Huffft dasar para gadis. Selalu seperti itu. Ada saja bahan yang bisa di jadikan curhatan. Dan bisa di pastikan, waktu pun seakan berhenti.


************


Hai-hai para readers tersayang.... Akhirnya aku bisa up lagi. Terimakasih semuanya, untuk dukungan nya, rate-nya, like nya, bahkan komentar kalian.


Terimakasih juga buat kalian yang sangat sabar ini. Bersyukur banget dengan adanya kalian. Aku doakan kalian tetap sehat, semangat, dan tetap sabar.


LOVE YOU ALLπŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ™πŸ™πŸ™