My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Cinta tulus dari Brian



Brian menginap di kediaman Sofia dan Dewi malam ini. Setelah menemani Sofia hingga tertidur, serta makan malam bersama Dewi, kini pria itu merebahkan dirinya di atas ranjang.


Dia menatap langit-langit kamar tamu itu. Pikirannya kembali teringat pada kata-kata Sofia tentang perceraian Sofia dan Bram siang tadi. Mungkin ini maksud dari ucapan Rianti saat itu.


Nak, adakalanya kamu tidak perlu tahu jawaban dari setiap pertanyaan yang kamu lontarkan. Karena, terkadang jawaban itu akan sangat menyakitimu. Ada juga, jawaban yang tersirat. Baik dari sikap, perilaku, maupun ke-diaman orang itu yang akan sudah mencerminkan sebuah jawaban. kata-kata Rianti kembali terngiang.


Permintaanku sudah menyakiti mama Sofi. Mama benar, saat itu aku masih terlalu kecil untuk memahami masalah orang dewasa. Aku juga tidak tahu permasalahan antara papa, mama dan mama Sofi. Jika mama tidak mungkin tinggal kembali di rumah papa, apa sebaiknya, aku membawa mama tinggal denganku saja? Aku bisa menyewa atau membeli apartemen. Atau mungkin aku beli rumah saja? Apa yang sebaiknya ku lakukan?


Brian tenggelam dalam pikirannya. Hingga tanpa di sadari nya ia sudah jatuh tertidur.


Sementara di kamarnya, Dewi tengah mengirim pesan dengan Genta. Setidaknya, itulah rutinitas mereka sehari-hari. Bertukar kabar meski hanya saat malam hari. Sekedar telepon untuk melepas rindu.


Genta bercerita, bagaimana luangnya waktu yang dia miliki hari ini. Karena atasannya yang memberinya libur dari kegiatan mengawal. Hanya kegiatan kantor saja yang ia kerjakan.


Kebetulan, Wijaya Group bekerja setengah hari di hari Sabtu. Sementara di hari Minggu, di liburkan.


Setelah puas bertukar kabar dengan pangeran hatinya, Dewi termenung sendiri di kamarnya. Entah mengapa, masa kecilnya yang hanya di temani mamanya dan mbok Narti terlintas dalam benaknya.


Dewi duduk di meja belajarnya. Mengambil album foto yang tersusun rapi di rak buku yang terpajang di atas meja belajarnya. Tersenyum melihat setiap lembar foto masa kecilnya.


Ia baru menyadari, jika sejak ia lahir tidak ada satupun fotonya bersama sang papa. Ada rasa bersalah ketika ia mengingat saat dirinya merengek ingin bertemu papanya pada sang mama. Sofi yang berusaha keras memberikan penjelasan pada Dewi kecil, tergambar jelas dalam ingatannya.


Setetes air mata mengalir dari sudut matanya. Entah mengapa, Dewi merasa sangat bersalah pada mamanya.


"Mungkin, jika dulu aku tidak memaksa mama untuk bertemu papa, aku tidak akan mengenal kak Brian ataupun Kinanti. Aku juga tidak akan menyakiti perasaan mama." hiks.. hiks... gumam Dewi sendiri.


Dadanya terasa sesak. Air mata yang sebelumnya hanya menetes, kini mengalir deras.


"Tuhan, maafkan aku yang sudah menyakiti mama. Berikan mama kebahagiaan. Jangan biarkan mamaku merasakan sakit yang pernah dia rasakan. Bantu aku untuk tidak membenci papaku." Dewi mengucapkan doanya.


Bagi Dewi, Sofia adalah mama terbaik. Masih jelas di ingatannya saat Sofia mengatakan; Jangan pernah benci papa ya nak. Bagaimana pun juga, beliau tetap papamu. Sekalipun, dia Tidak bisa tinggal bersama kita.


Sofia tidak pernah menceritakan hal buruk tentang Bram pada Dewi. Hingga membuat Dewi tidak pernah bisa membenci papanya itu sedikit pun.


Seperti saat ini, ketika Dewi mengetahui papa dan mamanya bercerai, Dewi tetap tidak bisa membencinya.


••••••••


Minggu pagi, Brian bangun dengan tubuh segar. Karena hari libur, Brian memutuskan untuk melakukan joging di sekitar rumah Sofi.


Saat Brian keluar, Dewi juga sudah siap untuk melakukan joging.


"Kakak mau joging juga?" tanya Dewi begitu melihat Brian.


"Iya. Kamu gak di rumah saja dek? Kalau kamu joging, siapa yang jaga mama?" Brian bertanya kembali. Ia khawatir, jika Dewi dan dia joging bersamaan, tidak ada yang menjaga Sofia yang tengah sakit.


"Kakak tenang saja. Tuh mama sudah keluar kan?" Dewi menunjuk mamanya yang sudah keluar dari kamar. Sofia tersenyum lembut pada Dewi dan Brian.


"Loh, mama kok gak istirahat?" Brian mendekati Sofia dan memeluknya.


"Masa sih ma?" Sofia mengangguk.


"Tapi aku kan jarang ketemu mama." Brian tetap pada pendiriannya.


"Kamu tuh kalau mama kasih tahu." Sofia menepuk lengan Brian pelan.


"Dewi juga mau di peluk..." ucap Dewi manja.


"Ih.... katanya sudah punya calon suami, masa masih manja sama mama!?" ejek Brian.


"Emangnya salah?" tanya Dewi. Sofia membuat isyarat agar Dewi mendekat dan ikut memeluknya. Dewi mendekat dan mengikuti isyarat dari mamanya.


"Mama mau ikut joging juga?" tanya Brian.


"Tidak. Mama hanya ingin menghirup udara segar di taman." jawab Sofi. Mereka kini berjalan keluar dari rumah.


"Kalau begitu, kita joging di taman saja kak. Nanti, mama duduk di sana sambil memperhatikan kita." usul Dewi. Sofia mengangguk setuju.


"Ya sudah. Tapi mama gak boleh ikut joging ya. Wajah mama masih kelihatan pucat." Sofia hanya tersenyum dan mengangguk.


Sofia merasa beruntung memiliki Brian dan Dewi. Meski Brian tak hadir dari rahimnya, namun Brian sangat menyayangi Sofia. Sofia bisa merasakan ketulusan Brian. Sejak Brian kecil, ia memang jauh lebih dekat pada Sofia daripada Rianti.


Bagi Brian, Sofia jauh lebih mengerti dirinya di banding mama kandungnya. Meski sebenarnya, Rianti juga mengerti akan dirinya. Perbedaannya, Rianti lebih fokus pada Bram. Sementara Sofia, memfokuskan dirinya merawat Brian kecil.


Saat Bram sudah menikahi Rianti, Sofia banyak mengurung diri di kamar. Hatinya yang terasa sakit, membuatnya sedikit menjauh dari Bram. Sesekali, Rianti menemuinya dan bicara dari hati ke hati dengan Sofia.


Saat Sofia mengalami depresi, kehadiran Brian lah yang membuatnya melupakan rasa sakit di hatinya. Bagaimana perhatiannya Bram pada Rianti, dan melupakan kehadiran Sofia. Entah Bram sengaja atau tidak, itu adalah hal yang paling menyakitkan.


Kini, Sofia tidak ingin Rianti mengalami hal yang sama sepertinya ketika Sofia kembali. Karena Sofia tahu, di mata Bram masih ada cinta yang tersisa untuk Sofi.


Cukup dirinya saja yang merasakan rasa sakit dan frustasi. Sofia juga bisa melihat, bagaimana Rianti tidak menginginkan dirinya untuk kembali. Bagaimanapun juga, dirinya bukan wanita yang tidak punya hati.


Biarlah segalanya berjalan seperti ini. Jangan lagi ada hati yang tersakiti. Sofia yakin, jika ia tetap pada pendiriannya, maka semua akan baik-baik saja.


💐💐💐💐


Hai readers ku tersayang. Senengnya aku sudah banyak yang mampir. Terimakasih buat apresiasi kalian ya. Senang juga bisa up 2 episode hari ini.


Ada yang tanya, kenapa gak ada yang komen Thor? Jawabannya, belum pada tahu sepertinya.🤭🤭🤭


Terimakasih buat like👍, komen🗯️ dan yang sudah favoritkan❤️.


Happy reading...


I Love you so much...😘