My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Kencan Pertama



Tiba di rumahnya, Cindy segera turun dari mobil. Dengan langkah gontai, ia menuju ke kamarnya. Panggilan dari mamanya pun tak di hiraukannya. Hana yang berjalan di belakangnya hanya menggelengkan kepala.


Mama Cindy merasa heran. Saat pergi, putrinya terlihat bersemangat. Namun, baru beberapa hari pergi, kini wajah Cindy sangat muram. Banyak pertanyaan yang bersarang dalam benaknya.


Mama Cindy pun menghampiri Hana. Hana mencium punggung tangan ibu dari sahabatnya itu. Belum sempat Hana menyapa, mama Cindy segera menarik tangan Hana untuk duduk bersamanya di sofa.


"Han, Cindy kenapa? Bukannya kalian liburan ke desa itu baru dua hari ya? Kok pulangnya cepat? Apa Cindy sakit? Atau dia gak nyaman tinggal di desa? Terus gimana rencana jadiin Genta pacarnya? Berhasil atau tidak?" mama Cindy memberondong Hana dengan banyak pertanyaan.


Dari semua pertanyaannya, sebenarnya mama Cindy punya firasat, jika akan ada kabar buruk yang akan ia dengar.


"Tante nanyanya satu, satu dong!? Hana jadi bingung mau jawab yang mana dulu?" jawab Hana dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Yang mana saja. Cepat cerita sama tante." mama Cindy terlihat tidak sabar.


Hana menari nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. "Hana patah hati tante..." belum selesai Hana bercerita, mama Cindy sudah menyergapnya dengan pertanyaan lain.


Benar saja, baru sepatah kata yang keluar dari mulut Hana, sudah terdengar kabar buruk. Meski belum jelas alasan Cindy patah hati.


"Kok bisa? Bukannya dia ke sana mau mengejar Genta? Kenapa tiba-tiba patah hati? Ini namanya kalah sebelum berperang!? Cindy gimana sih?" Hana memijat keningnya melihat kelakuan ibu sahabatnya ini yang selalu memotong ucapannya.


"Tante jadi mau dengar ceritanya gak?" raut wajah Hana terlihat mulai kesal.


"Ok, ok. Hehehe maaf ya Han, Tante gak bermaksud bikin kamu marah." ucap mama Cindy menyesal ketika melihat kekesalan Hana.


"Cindy itu sudah di tolak adik kandung Genta Tante. Bahkan, Genta pamer kemesraan sama pacarnya. Jadi Cindy sudah merasa kalah." tutur Hana langsung pada intinya. Ia takut penjelasannya terpotong oleh ibu sahabatnya itu.


Kabar buruk berikutnya. Sedih sekali rasanya melihat putri tercintanya patah hati.


"Ya ampun, menyedihkan sekali nasib putriku." gumam mama Cindy.


"Jadi, sebelum Cindy melakukan pendekatan, sudah lebih dulu di tolak?" tebak mama Cindy. Hana mengangguk.


"Hemm .." mama Cindy menghela nafas.


Mereka terdiam. Ikut larut dalam kesedihan yang dirasakan Cindy. Hingga waktu terus berjalan dan menyadarkan Hana yang meras lelah. Baik hati maupun pikirannya merasa sangat lelah saat ini.


"Tante, Hana pulang dulu ya. Mau istirahat di rumah. Besok, Hana ke sini lagi." Hana segera berdiri dan berpamitan.


Mama Cindy hanya mengangguk dan ikut berdiri. Mengantarkan Hana hingga pintu depan. Setelah Hana pergi, mama Cindy menuju kamar Cindy.


Beliau, berusaha menghibur hati Cindy yang tengah di rundung kesedihan. Melihat putrinya tak bersemangat dan terpuruk, membuatnya ikut bersedih.


•••••••


Di taman bacaan desa Genta setelah Dewi menerima Genta menjadi pacarnya.


Tanpa sadar, Genta memeluk Dewi. Dewi terdiam sejenak, kemudian membalas pelukannya. Rasa bahagia tengah menyelimuti hati mereka.


Beberapa detik kemudian Genta melepaskan pelukannya dan menghapus air mata yang menetes tanpa ia sadari. Kini, hubungannya dengan Dewi sudah menjadi seorang 'pacar'.


"Aku akan selalu menjaga hatiku untuk kamu." janji Genta. Di kecupnya kening Dewi dengan lembut.p


"Aku percaya sama kakak. Kakak gak akan mungkin menyakiti aku." ucap Dewi jujur.


"Terima kasih, karena kamu percaya sama aku. Aku jaga kepercayaan yang kamu berikan." Genta tersenyum manis.


"Kakak mau gak, bawa aku ke taman hiburan?" Genta mengernyit. Sepertinya, ia tengah berpikir tentang taman hiburan.


"Apa di desa kita ada?" Dewi terbahak mendengar pertanyaan Genta.


Tidak salah memang, jika Genta bertanya. Pasalnya, taman hiburan yang ia tahu, hanya ada di kota besar. Ia tak tahu jika di desanya juga ada. Bertahun-tahun ia mengelilingi desa, tak pernah sekalipun menemukan taman hiburan. Entah jika baru di bangun ketika ia kuliah kemarin.


"Di desa kita itu namanya bukan taman hiburan." Dewi memberikan clue.


Terbersit dalam benak Genta tentang taman hiburan yang berada di desa itu adalah 'pasar malam'. Namun, ia takut salah menduga.


"Pasar malam?" lirihnya. Pada akhirnya, Genta mengucapkan juga kata itu. Dewi mengangguk antusias. Genta terkekeh melihat reaksi Dewi.


"Ok." jawab Genta.


Hari ini, menjadi kencan pertama mereka dengan status 'pacar'. Mereka memilih tempat yang ramai di datangi orang.


Tiba di taman hiburan versi desa yaitu pasar malam, Dewi melihat accesorise yang sangat lucu. Hingga gelang yang bentuk dari beberapa benang dan di bentuk simpul, menjadi pilihannya. Dewi dan Genta membeli dua gelang dengan motif dan warna yang sama.


Mereka menggunakan gelang couple pertama mereka. Mereka menuju wahana permainan. Hampir setiap permainan mereka coba. Terakhir, mereka mencoba permainan yang menguji adrenalin. Rumah hantu.


Dewi merasa sedikit takut. Namun Genta menggenggam jemari nya. Beberapa kali Dewi harus menjerit. Bukan karena takut, namun karena terkejut.


Keluar dari wahana itu, nafas Dewi tersengal. Genta menuju stan minuman dan membelikan minuman dingin untuknya.


"Ini, minum dulu." Dewi mengambilnya dan menenggak air dalam botol sampai separuh.


"Kamu haus?" Genta terkejut melihat Dewi minum dengan cepat.


"Tenggorokan aku kering kak. Habis teriak-teriak." jawabnya.genta mengacak rambut Dewi. Gadisnya ini, selalu bersikap apa adanya.


"Sudah malam, pulang yuk. Nanti kamu di cariin Tante." ajak Genta. Dewi mengangguk.


Mereka pun kembali tepat pukul delapan malam. Dua puluh menit waktu yang mereka tempuh, terasa hanya lima menit. Kini Genta sudah tiba di depan rumah Dewi. Jarak pasar malam dengan tempat mereka tinggal memang tidak terlalu jauh.


"Masuklah. Istirahat ya." ucap Genta.


"Kakak mau mampir? Mama pasti senang lihat kakak." Dewi menawarkan. Genta melirik jam tangannya.


"Sudah malam, biar mama kamu istirahat. Lain kali saja aku mampir." Dewi mengangguk.


"Terimakasih untuk hari ini." Genta mengangguk. Dewi pun melangkah masuk ke dalam rumah.


Setelah memastikan Dewi pulang dengan selamat, Genta pun melangkahkan kakinya pulang. Senyum bahagia tak lepas dari bibirnya. Untung saja sudah malam, jadi, tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang atau duduk bergerombol membicarakan hal tak penting.


Jika tidak, sudah bisa di pastikan, Genta akan di anggap gila. Ya, dia memang sedang gila. Gila karena cinta.


••••••••


Cinta terkadang membuat orang lupa diri hingga tersenyum dan tertawa sendiri. Namun, cinta juga bisa menyakitkan hati dan membuatnya menangis sedih.


_🤗😘_ Thank you