
Tanpa terasa, usia Genta sudah hampir memasuki 18 tahun. Itu artinya, sebentar lagi ia akan lulus dari SMA. Sementara Dewi dan Kiara adiknya, sudah duduk di kelas satu SMP.
Genta mulai merancang masa depannya. Ia tengah bimbang, antara melanjutkan pendidikannya atau membantu orangtuanya mencari nafkah.
Ia sadar jika untuk kuliah, ia tidak mampu dalam hal keuangan. Ia tidak ingin membebani keluarganya. Meski orangtuanya pasti akan melakukan segalanya demi cita-citanya. Namun, jika ia tidak kuliah, kemana ia harus mencari pekerjaan?
Entahlah. Genta akhirnya lebih memikirkan untuk lulus lebih dulu. Masalah kedepannya, bisa ia pikirkan nanti. Karena ia ingin lulus dengan nilai yang memuaskan.
Genta adalah anak yang pintar. Ia termasuk anak yang di senangi teman-temannya serta para guru.
Siang ini, Genta ingin mencari buku yang memuat soal-soal ujian. Ia memutuskan pergi ke toko buku. Untungnya saat ini adalah hari Sabtu.
"Bu, Genta mau izin ke toko buku ya." pamit Genta.
"Kamu mau beli buku lagi?" tanya ibunya.
"Iya Bu. Buku yang isinya soal-soal ujian sebelumnya." tutur Genta.
"Oh... Sama siapa nak?" tanya ibunya lagi.
"Sendiri Bu. Bagus sedang ada acara keluarga. Jadi Genta pergi sendiri saja." jawab Genta.
"Ya sudah, kamu hati-hati ya nak." Genta pun mencium tangan ibunya dan melangkah pergi.
Di rumah Dewi.
Siang itu, Dewi sedang merasa bosan. Ia mencoba menghubungi Puspa melalui ponselnya. Ya, Dewi kini di perbolehkan menggunakan ponsel. Namun, ia tidak pernah membawanya ke sekolah.
Satu hal yang di syukuri Dewi ketika Sofia ibunya mengizinkannya memakai ponsel. Ia dapat menghubungi ayahnya Bram dan juga Brian kakaknya serta Kinanti adiknya dari Rianti.
"Pus, keluar yuk." ajak Dewi.
"Kemana wi?"
"Enaknya kemana?" tanya Dewi.
"Hmmm.... Ke mall mau?"
Waktu memang sudah merubah desa mereka tinggal. Hingga kini, di sana sudah berdiri sebuah mall yang di dalamnya terdapat toko buku, restoran, toko baju, dan lain sebagainya. Meski tidak sebesar mall yang berada di ibu kota. Bahkan, harga barang di mall itu pun, masih terjangkau masyarakat desa seperti mereka.
"Boleh. Ayo. Aku ajak Kiara ya." ucap Dewi.
"Oke. Aku tunggu kabarnya ya."
Dewi memutuskan panggilan dan menghubungi Kiara.
Tut...Tut...Tut...
"Iya wi." sahut Kiara.
"Ra, jalan yuk. Kita ke mall." ajak Dewi.
"Sama Puspa juga?"
"Iya. Mau?"
"Oke. Ketemu di taman ya."
"Oke. See you."
Dewi segera mengirim pesan pada Puspa bahwa Kiara setuju dan mereka akan bertemu di taman. Dewi bergegas mengganti outfitnya dan meminta izin pada Sofia. Untungnya, Sofia ada di rumah.
"Ma, Dewi mau ke mall ya." pamit Dewi. Sofia yang tengah duduk di ruang keluarga sambil memainkan ponselnya menoleh.
"Sama siapa sayang?" tanyanya.
"Puspa dan Kiara. Mereka menunggu di taman." jawab Dewi.
"Mau mama antar?" Sofia menawarkan. Dewi duduk di samping Sofia.
"Gak usah ma. Kita kan cuma ke mall saja." tolak Dewi.
"Ya sudah. Pulangnya jangan terlalu sore ya. Hati-hati di jalan." nasihat Sofia.
"Iya mama sayang." Dewi memeluk Sofia dan mencium pipi mamanya itu. Kemudian ia segera bangkit dan melangkah. Ia melambaikan tangannya pada sang mama.
Tiba di taman, ia melihat Kiara dan Puspa yang sudah tiba.
"Sudah dari tadi ya?"tanya Dewi.
"Kita baru sampai kok." jawab Kiara yang di angguki Puspa.
Mereka pun segera menuju mall. Setelah menempuh waktu dua puluh menit perjalanan, mereka tiba di mall itu.
Mereka pun mulai menjelajah ke dalam mall tersebut. Di sana, mereka masuk dari satu toko ke toko lainnya. Meski pun pada akhirnya, tidak ada barang yang mereka beli.
Mereka hanya berniat mencuci mata. Baru satu jam mereka di sana, Puspa dan Kiara sudah di hubungi keluarganya untuk pulang.
"Aku juga wi. Gimana nih?" tanya Puspa.
"Kalian mau pulang sekarang?" tanya Dewi. Puspa dan Kiara mengangguk bersamaan. "Ya sudah, kalian duluan saja."
"Kamu gak ikut kita?" tanya Puspa. Dewi menggeleng. Puspa dan Kiara saling pandang.
"Kenapa?" timpal Kiara.
"Aku lagi bosan di rumah." mereka pun terdiam. "Sudah gak apa. Kalian pulang saja duluan. Aku gak apa kok." ucap Dewi kemudian.
Akhirnya, Puspa dan Kiara pun pulang lebih dulu. Tinggallah Dewi sendiri di dalam mall itu. Dewi pun memutuskan menuju toko buku. Mungkin saja ada buku menarik yang bisa ia beli.
Ia mulai mengelilingi toko buku itu dan mencari buku yang menarik. Ia melihat buku komik dan juga novel. Mulai melihat sinopsis dari setiap buku.
"Buku itu bagus." suara yang sangat familiar.
"Kak Genta?" Dewi terkejut. Genta tersenyum.
"Kok sendirian?" tanya Genta.
"Tadinya aku sama Puspa dan Kiara, tapi mereka pulang duluan." jawabnya sambil tetap melihat sinopsis dari buku yang ada di tangannya.
"Mau rekomendasi novel yang bagus?" tanya Genta.
"Apa kak?" tanyanya penasaran.
"Kamu suka buku bergenre apa?" tanyanya lagi.
"Romance.." ucapnya.
"Masih kecil suka yang berbau percintaan." ucap Genta seraya mengacak rambut Dewi.
Dewi tertegun. Ada perasaan aneh yang menjalar di dalam hatinya. Jantungnya berdebar kencang. Membuat ia memegang dadanya.
Genta sendiri juga merasa ada yang aneh dengan hatinya.
"Kak Gen, Dewi itu sudah besar." ucapnya. Ia merasa gugup. "Kak Gen ngapain di sini?" tanya Dewi.
"Cari ini." ia menunjukan buku yang ada di tangannya.
"Oh..."
Tanpa mereka sadari, wajah mereka sudah memerah. Sejenak, mereka terdiam bersama. Tak ada satu pun yang berbicara. Mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.
"Mau pulang sama-sama?" Genta menawarkan. Dewi mengangguk.
Mereka pun melangkah keluar dari toko buku. Sebelumnya, Genta membayar buku yang di belinya tadi.
Setelahnya, mereka pulang bersama. Dalam perjalanan, kembali mereka tenggelam dalam pikiran mereka. Dewi merasakan perasaan yang berbeda. Perasaan itu semakin kuat ia rasa. Perasaan yang susah payah ia bunuh.
Apakah ini yang di namakan jatuh cinta?
Begitu pun dengan Genta. Setelah sekian lama ia mencoba membunuh rasa itu, saat ini justru tumbuh semakin tak terkendali.
Perasaan itu, kini semakin menggebu. Rasanya, Genta ingin menggenggam jemari wanita di sampingnya ini.
Apakah ini yang di namakan cinta?
Cinta hadir tanpa mengenal waktu
Tanpa mengenal batas
Tanpa mengenal usia
Tanpa mengenal perbedaan
Ia hadir mengisi relung hati yang kosong
Melengkapi kekurangan dan kelebihan yang kita miliki
Menjadikan hidup semakin berwarna
Menghapus duka
Menghadirkan tawa
Membuat hati berdebar
Melahirkan pengorbanan
Menciptakan perjuangan
Cinta selalu memberi tanpa mengharapkan balasan