My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Tangis Dewi



Dewi dan Genta tiba di apartemen. Dewi masuk lebih dulu meninggalkan Genta. Dewi berlari memeluk Sofia. Dewi menangis tersedu-sedu. Sofia terkejut melihat putri semata wayangnya menangis.


Mendengar tangisan Dewi, Kiara dan Puspa pun menghampirinya. Mereka tidak pernah melihat Dewi menangis seperti itu.


Dewi membenamkan wajahnya di dalam pelukan Sofia. Sofia, Kiara dan Puspa, saling menatap bingung. Tak lama Genta pun masuk ke unit apartemen itu. Sofia mengernyitkan dahi saat melihat wajah Genta.


"Apa yang terjadi?" tanya Sofia.


Dewi justru semakin menangis kencang. Genta mendesah. Kiara menghampiri kakaknya Genta dan memegang wajahnya yang terlihat memar. Tanpa banyak bertanya, Kiara mengambil es batu dan memasukkannya pada sapu tangan. Kemudian, Kiara mengompres wajah memar kakaknya.


Genta meringis merasakan nyeri di sudut bibirnya.


"Sebenarnya, kakak kenapa?" lirih Kiara.


"Nanti saja. Tunggu Dewi tenang." Kiara hanya menghembuskan nafasnya.


Tangannya terus mengompres wajah Genta. Entah berapa lama Dewi menangis, hingga Sofia menyadari bahwa Dewi kini sudah tertidur dalam peluknya.


Genta membantu mengangkat Dewi dan memindahkannya ke atas ranjang. Hati Sofia terasa sakit melihat sisa air mata Dewi yang terlihat membekas di sudut mata dan pipi putrinya.


Setelah memastikan Dewi tidur dengan nyaman, Sofia mengajak Genta kembali ke ruang tengah.


"Ceritakan pada mama, apa yang terjadi." pinta Sofia.


Genta menarik nafas dan menghembuskannya.


Flashback


Dewi dan Genta sudah berada di cafe Bro. Dewi merasa antusias mempertemukan Genta dengan kakaknya Brian. Apalagi, Genta dan kakaknya sudah saling mengenal.


Dewi dan Genta saling menggenggam tangan erat. Genta yang merasa gugup, tersenyum dan mencium punggung tangan Dewi.


Mereka pun melangkah memasuki cafe. Beberapa pengawal yang di minta Genta berjaga membukakan pintu untuk Genta dan Dewi.


Mereka tiba di hadapan Brian. Brian menatap kedatangan adiknya dengan senyum. Sedetik kemudian, senyum itu sirna dan berganti dengan rahang yang mengeras.


Brian merasa di permainkan oleh Genta. Ia merasa Genta sengaja mendekati adiknya yang terlihat polos. Bahkan, Brian tak mempercayai ucapan Genta sedikit pun.


"Kau pikir aku bodoh? Aku tidak akan pernah percaya dengan apa yang kau katakan." ucap Brian sengit.


Bugh...


Brian memukul Genta tepat di sudut bibir Genta. Dewi memekik melihat sudut bibir Genta yang pecah.


"Kakak boleh tidak percaya kak Genta. Tapi apa kakak juga tidak mempercayai ku?" teriak Dewi.


"Kaka tidak apa-apa?" Dewi membantu Genta berdiri. Genta tersenyum


"Kamu tenang saja. Aku pasti akan berjuang untuk mendapatkan dirimu. Akan aku buktikan jika aku tulus mencintaimu." Genta membelai pipi Dewi lembut.


"Dasar b******k. Jangan coba-coba kau sentuh adikku." geram Brian. Brian mencengkeram kerah baju Genta kembali dan menyudutkannya.


"Minggir. Kau tidak mengenal dia..." belum selesai Brian bicara, Dewi sudah menyelanya.


"Aku mengenal kak Genta dengan baik. Kakak yang tidak tahu dia." sengit Dewi. Air matanya tak terbendung lagi.


"Seharusnya kakak sudah mengenalnya. Karena kalian sudah bekerja bersama. Tapi aku salah. Aku terlalu berharap hal ini tidak terjadi."


Dewi menghapus air matanya kasar. "Lepaskan kak Genta kak. Ku mohon padamu" Dewi berlutut dan memegang kaki Brian.


"Bangun Dewi. Kau tidak pantas menangisi pria ini. Kakak akan carikan yang terbaik untukmu." Dewi tidak melepas pegangannya di kaki Brian.


"Apa yang kurang pantas dari saya, hingga membuat anda tidak merestui hubungan kami." Genta mulai geram mendengar jika dirinya tidak pantas untuk Dewi.


Beberapa waktu lalu, Brian memberinya semangat. Namun kini, ia menjatuhkan semangat Genta dengan kata-katanya. Apa yang salah dari dirinya? Ini lah pertanyaan terbesarnya.


"Kau memang pekerja keras. Tapi aku tahu, pria miskin sepertimu, hanya mengincar wanita kaya dan menguasainya. Kau pikir aku bodoh?" tutur Brian.


Dewi menatap tak percaya pada Brian. Genta melepaskan cengkeraman tangan Genta dari kerah bajunya dengan sekuat tenaga. Rahangnya mengeras. Namun ia masih mengontrol emosinya dan hanya menggertakan giginya.


"Kau pikir aku membutuhkan hartamu? Tidak. Aku tidak membutuhkannya. Aku bisa mencukupi semua kebutuhan Dewi dengan kemampuanku sendiri Tuan Brian yang terhormat." tatapan mata Genta begitu tajam menusuk.


Genta membantu Dewi bangkit dan mengajaknya pulang. "Sebaiknya kita pulang sekarang. Aku tidak ingin memukul kakakmu. Aku masih menghormatinya sebagai kakakmu dan juga atasanku." ucap Genta lembut pada Dewi.


Dewi mengangguk dan mengikuti langkah Genta. Meninggalkannya tanpa berbalik lagi.


•••••••


Sofia menghela nafas setelah mendengar cerita Genta. Wanita paruh baya itu memijit pelipisnya. Kiara dan Puspa yang turut mendengar cerita itu, hanya bisa terdiam dan tidak mengerti harus bicara apa.


Sifatnya sama persis dengan mas Bram. Selalu berpikir negatif pada orang lain dan merasa dirinya benar. Aku salah mengijinkan mereka menemui Brian. Nyatanya, aku juga tidak mengenal Brian dengan baik. Meskipun aku tahu, rasa cintanya padaku dan Dewi, jauh lebih besar daripada rasa cintanya pada Rianti dan Kinanti. Sofia bermonolog dengan dirinya sendiri.


"Masalah Brian, biar mama yang urus. Jadi, apa kau ikut di pecat?" tanya Sofia. Genta menggeleng.


"Genta tidak tahu ma." Genta sudah pasrah jika memang dirinya harus di pecat.


Sofia mengusap pundak Genta. "Beritahu mama jika kau di pecat." ucap Sofia.


Sofia segera berdiri dan menuju ke kamar putrinya. Genta semakin kalut menghadapi kehidupannya. Bukan ia tak pernah di pandang rendah. Namun, di tuduh seperti itu oleh keluarga gadisnya, sangat menyakitkan.


Tak pernah sedikitpun terbersit pikiran untuk menguasai harta Dewi. Melihat kesederhanaan Dewi, kecantikannya yang natural, dan kebaikan hati yang di miliki Dewi, sudah membuatnya jatuh hati.


Akan aku buktikan pada kakakmu, jika aku tulus mencintaimu. Ku mohon, bertahanlah di sisiku. Cukup dirimu saja yang mengerti aku. Cukup dirimu yang mempercayaiku. Jika kau tidak mempercayaiku, maka usahaku akan sia-sia. Jangan menyerah dengan kisah kita. Ayo kita berjuang bersama. batin Genta. Matanya menatap nanar pintu kamar, dimana Dewi sedang tidur.


Di cafe Bro, sepeninggal Dewi dan Genta, Brian menghempaskan dirinya di kursi cafe dan menenggak jus yang tadi di pesannya. Emosinya masih terlihat jelas.


"B******k. Akan ku buktikan jika kau hanya mempermainkan adikku." geram Brian. Nafas Brian terlihat naik turun.


"Jika sampai apa yang aku pikirkan benar, akan ku habisi pria itu dengan tanganku sendiri. Lihat saja." Brian berbicara dengan dirinya sendiri.


Entah apa yang mendasari Brian berpikir seperti itu. Hingga ia, tak bisa menerima Genta sebagai kekasih Dewi. Brian meninggalkan cafe itu dan kembali ke rumahnya.