
Dewi menatap Bram tanpa ekspresi apa pun di wajahnya. Hatinya merasa terluka mendengar perkataan pengacara James tadi. Ia menatap wajah Bram lamat-lamat.
Kemudian, airmata mulai mendesak keluar dari matanya. Genta memerhatikan mereka dari meja lain. Pria itu ikut merasakan luka yang di rasakan Dewi.
Dia tahu, bukan itu yang di inginkan gadis yang sudah menjadi tunangannya itu. Ia hanya ingin sang ayah menghabiskan waktu bersamanya.
"Aku tidak menginginkan aset-aset yang anda berikan." ucap Dewi setelah menetralkan dirinya dari tangisan.
Bahkan, ia sudah mengganti panggilan 'papa' pada Bram menjadi 'anda'. Bram merasakan hatinya seperti di remukan. Sakitnya tak bisa ia gambarkan.
"Maaf." hanya itu kata yang bisa di ucapkan nya. Wajahnya menatap sendu pada sang putri.
"Simpan kata maaf anda. Saya tidak ingin mendengarnya." Dewi sudah kembali bersikap dingin.
"Saya, tidak membutuhkan aset-aset milik anda." Dewi merasa matanya kembali memanas.
D**anya kembali terasa sesak. Airmatanya sudah kembali menggenang. Ingin rasanya dia segera pergi dari tempat ini. Namun tubuhnya terasa seperti tak memiliki tenaga untuk berdiri.
"Dewi..." panggil Bram. Mata Dewi menatap tajam pada Bram.
"Papa tahu, papa tidak bisa memberikan apa yang kau inginkan." airmata Bram menetes.
"Terimalah aset-aset itu nak."
"Aset itu, adalah aset pertama dari hasil kerja keras papa." Bram menghapus airmatanya kasar.
"Papa ingin, kau memilikinya." pintanya dengan nada mengiba.
Genta yang hanya mengamati dan mendengarkan semua percakapan Dewi dan Bram, ikut berderai airmata. Ingin sekali dirinya ikut berbicara. Namun ia menahannya.
"Apa dengan aset-aset itu anda bisa mengganti waktu anda yang hilang bersama saya?"
"Apa dengan anda memberi aset itu, saya bisa merasakan hal yang ingin sekali saya rasakan?"
"Pernahkah anda memikirkan semua itu sebelum anda memutuskan memberikan semua aset itu pada saya?" mata Dewi semakin memerah. Suaranya pun sudah terdengar parau karena air matanya yang mulai mengalir deras.
Bram tertunduk tanpa mampu mengangkat kepalanya. Rasa bersalah itu semakin mencuat ke permukaan. Putrinya benar. Ia tidak akan mampu dan tidak akan pernah bisa mengembalikan waktu dan memberikan apa yang di inginkan Dewi.
Tapi Bram terlalu pengecut untuk meminta Sofia bertahan dengannya ketika dirinya menyadari luka yang sudah di torehkan nya pada Sofia.
Dia pun terlalu pengecut untuk menebus waktunya yang hilang dengan putrinya itu. Bram menangisi hal yang tidak bisa lagi di rubah nya.
"Saya tahu, saya adalah anak yang tidak pernah terpikirkan kehadirannya." dewi menghapus airmatanya lagi.
"Bahkan, tidak anda inginkan." Bram menatap Dewi. Dia tak percaya putrinya mengatakan hal itu.
Dewi yang merasa dirinya di tolak dan Bram yang merasa Dewi tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Genta sudah berdiri dan akan menghampiri mereka. Namun ia berhenti dan kembali duduk.
"Dewi, papa tidak pernah berpikir seperti itu nak. Sungguh papa sangat menginginkanmu." Bram berusaha menekan egonya dengan bicara sehalus mungkin.
Bram ingin menjelaskan semuanya, namun semua terlihat sia-sia begitu menatap mata Dewi yang memancarkan kebencian.
"Lalu, kenapa anda menjauhiku?" tanya Dewi.
"Anda memang tidak mengetahui keberadaan ku. Tapi setelah anda tahu, adakah anda berusaha mendekatiku?" Bram tidak bisa berucap.
"Anda hanya datang sesekali dan menelpon." Dewi menarik nafas untuk melegakan d**anya yang terasa semakin sesak.
"Sudahlah. Intinya, saya menolak aset yang anda berikan. Silahkan tarik kembali aset-aset itu. Saya tidak membutuhkannya." ucap Dewi dengan tegas.
Dewi bangkit berdiri dan akan berjalan meninggalkan Bram, namun tubuhnya seperti kehilangan keseimbangan. Bram menangkap tubuh Dewi yang jatuh pingsan.
Genta mendekati Bram dan Dewi. "Dewi pingsan pak. Sebaiknya kita segera bawa ke dokter." ucap Genta.
Tanpa pikir panjang lagi, Bram segera membopong tubuh Dewi dan menuju mobil yang Genta bawa. Genta yang mengemudi, sementara Bram memangku kepala Dewi.
Berkali-kali Bram menggumamkan kata maaf pada Dewi. Ia pun menghapus sisa airmata yang berjejak di pipi Dewi. Genta melirik sesekali dari kaca.
Terlihat jelas, jika Bram sangat menyayangi Dewi. Tapi ia tidak tahu pasti apa yang menyebabkan Bram tak bisa menunjukkannya secara langsung.
Tiba di rumah sakit, Bram langsung menggendongnya menuju IGD. Dokter dan suster segera menanganinya. Seorang suster menghampiri Bram dan memintanya untuk mengurus administrasinya.
"Biar saya saja pak." ucap Genta.
Genta segera menuju loby pendaftaran dan mengurus administrasi di sana. Selesai mengurus administrasi, Genta menghubungi Sofia dan Brian. Mengabari mereka jika Dewi di bawa ke rumah sakit.
Dokter menghampiri Bram. "Anda keluarga pasien?" Genta pun ikut berdiri di samping Bram.
"Iya dok. Saya ayahnya." jawab Bram.
"Bagaimana kondisi putri saya?" tanyanya.
"Putri bapak sudah sadar." Bram dan Genta bersyukur dan mengeluarkan nafas lega.
"Tapi, pasien ingin bertemu dengan yang bernama Genta." Genta segera maju ke hadapan dokter.
"Saya Genta dok." ucapnya.
"Silahkan masuk." dokter pun berlalu dan Genta segera masuk ke dalam ruangan.
Bram kembali menelan kekecewaan. Putrinya tak ingin melihatnya. Ia menjambak rambutnya frustasi. Ingin dia merengkuh putrinya dalam pelukannya dan mengucap maaf.
Tak lama kemudian, Sofia sudah berdiri di hadapan Bram. "Apa yang kau lakukan pada putriku mas?" Bram mengangkat kepalanya dan melihat Sofia
Tampilan Bram, terlihat kusut dan tak serapih biasanya. Bram berdiri dan menatap Sofia. Ia mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa dari banyaknya pertanyaan yang bisa kau tanyakan, kau malah bertanya seolah aku berbuat jahat pada putriku sendiri?" tanyanya.
"Ma..." Genta keluar dari ruangan Dewi.
"Dewi baik-baik saja kan gen?" tanya Sofia saat melihat Genta. Genta hanya tersenyum dan mengangguk.
"Mama mau lihat Dewi." Genta bergeser memberi jalan pada Sofia. Bram ikut masuk.
Dewi menatap Bram. Sejujurnya, hati Dewi menghangat melihat kekhawatiran Bram. Tapi, ia kembali teringat dengan aset yang di berikan Bram sebagai penebusan rasa bersalahnya. Hal itu membuatnya kembali membenci Bram.
"Dewi.... Kamu gak apa-apa kan nak?!" Sofia memeluk Dewi dan menatapnya lega.
"Dewi gak apa-apa ma. Cuma kecapean saja." Dewi tersenyum pada Sofia.
"Syukurlah. Mama khawatir." ucap Sofia.
"Apa Dewi harus opname gen?" tanya Sofia pada Genta.
"Suster bilang tidak perlu ma. Sudah bisa pulang. Suster sedang mengambil vitamin yang harus di minum Dewi." jelas Genta.
Tak lama, seorang suster memberikan obat yang harus di minum Dewi dan memperbolehkannya pulang.
Dewi pulang bersama Sofia. Dewi meminta Genta mengantarkan Bram. Mereka berpisah di area parkir.
Dewi menatap nanar mobil yang di tumpangi Bram. Tahukah papa aku hanya butuh papa? batinnya.