My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Bertemu Bram



Tidak terasa sudah dua bulan ini Genta dan teman-temannya menjadi karyawan magang di Wijaya Group. Meski bekerja di kantoran tidak membutuhkan tenaga ekstra seperti di restoran, namun rasa lelah yang melanda tetap ada.


Jika di restoran ia mengandalkan tenaga, maka di kantor, ia mengandalkan pikiran dan skill. Genta menyukai setiap pekerjaan yang di kerjakan nya. Baginya, ini adalah pengalaman baru.


Hari ini, Genta di tugaskan mengantarkan beberapa dokumen ke salah satu hotel mewah milik Wijaya Group. Hotel itu masih berada di ibukota. Genta di fasilitasi dengan mobil beserta supir. Sayangnya, supir yang seharusnya mengantar Genta, tiba-tiba saja pingsan dan di larikan ke rumah sakit.


Akhirnya, Genta mengendarai mobil itu sendiri. Beruntung dia pernah belajar mengemudi bersama Bagas sahabatnya.


Genta sudah hapal setiap jalan di ibukota. Memiliki daya tangkap yang baik, cukup memberikan manfaat baginya.


Dalam perjalanan menuju Family hotel milik Wijaya Group, ia melihat seseorang yang familiar baginya tengah di hadang. Genta menghampiri mereka. Semakin dekat, semakin jelas siapa orang yang di hadapannya.


"Itu kan pak Brian?" gumamnya.


Tak ingin berlama-lama, ia pun segera turun dari mobil. Dua orang yang menghadang langkah Brian, serta Brian, menatap Genta.


"Pak Brian." panggil Genta.


"Kamu.... Tolong saya." perintahnya. Genta maju ke samping Brian.


"Mereka siapa pak?" bisik Genta.


"Saya juga gak tahu. Tapi sepertinya mereka ini preman yang suka memalak daerah ini." jawab Brian dengan berbisik juga. Genta mengangguk.


"Sudah jangan bisik-bisik kalian. Cepat kalian serahkan barang berharga kalian." perintah pria berambut gondrong dengan suara beratnya.


Sayangnya, mereka tidak bisa mengenali wajah preman itu. Mereka menggunakan penutup wajah.


"Kerja bang kalau emang mau punya uang. Bukan malak orang kaya gini." celoteh Genta. Brian menatap bingung pada Genta.


"Kalian mau kasih dengan sukarela atau kita paksa?" ancam preman satunya.


"Bang, gak baik malak. Gak berkah hasilnya." Brian hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Genta.


Dia malah ceramah. Preman begini mana mau denger.... batin Brian.


"Ah... banyak bacot Lo." preman berambut gondrong maju menyerang Genta dan Brian.


Dengan sigap, Genta menghajar para preman itu. Brian ikut menghajar mereka. Dengan beberapa kali pukulan, para preman itu sudah lari terbirit-birit.


"Kamu bisa beladiri juga?" tanya Brian. Melihat cara Genta menghajar para preman tadi, terlihat dengan jelas jika Genta cukup mahir dalam beladiri. Genta mengangguk mengiyakan pertanyaan Brian.


"Yah, lumayan pak. Buat jaga diri. Ya sudah pak, saya mau melanjutkan pekerjaan saya." Genta berpamitan. Ia ingin segera menyelesaikan tugasnya mengantar dokumen.


"Kamu mau kemana?" tanya Brian.


"Saya di tugaskan mengantarkan dokumen yang di minta oleh pak Bramantio." jawab Genta.


"Oh... Iya, papa ada rapat di Family hotel. Dokumennya sudah selesai semua ya?"


"Sudah pak." Brian mengangguk.


"Kalau begitu, silahkan lanjutkan lagi. Saya mau ke kantor dulu." mereka pun segera memasuki mobil masing-masing dan melajukannya. Brian menuju Wijaya Group, dan Genta menuju Family hotel.


Genta tiba di Family hotel dan segera menuju ruangan yang di tunjukkan resepsionis hotel. Ruang untuk CEO Family hotel Bramantio Wijaya.


Genta menaiki lift dan menekan lantai 15. Lantai yang dikhususkan untuk ruangan kantor yang di tempati oleh Bramantio. Karena kondisi hotel yang sedang tidak ramai, dengan mudah Genta masuk dalam lift.


Genta menuju meja sekertaris dan berniat memberikan dokumen itu pada sekertaris. Akan tetapi, ia tak menjumpai siapapun di sana. Setelah menunggu beberapa menit, tak juga ada yang datang. Ia pun memutuskan mengetuk pintu ruangan CEO.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk." suara dari dalam mempersilahkannya masuk. Suara yang terdengar berat namun penuh dengan wibawa.


Genta mendorong pintu perlahan. Entah mengapa, ia merasakan jantungnya berdegup kencang. Ada perasaan gugup yang melingkupi dirinya.


Kok tiba-tiba gugup ya? Apa mungkin karena akan bertemu big bos? batinnya.


Ria itu berusaha bersikap setenang mungkin. "Permisi pak." ucapnya begitu menampakkan diri.


Pria dengan stelan jas yang terlihat mahal dan berwibawa menoleh padanya. Terlihat bingung begitu menatap Genta. Genta melangkah semakin masuk.


"Maaf mengganggu pak. Saya hanya mengantarkan dokumen untuk rapat siang ini di sini." ia menyerahkan dokumen yang di bawanya. Hal itu sudah menjawab pertanyaan Bram sesaat.


Bram mengulurkan tangannya untuk mengambil dokumen itu.


"Kamu tidak bertemu dengan Karen di kantor?" tanya Bram. Pasalnya, sebelum Karen menuju Family hotel, Bram menyuruhnya mengambil dokumen keuangan yang akan di laporkan pada para pemegang saham Family hotel.


"Tidak pak. Karena itu, Bu Lisda meminta saya mengantarkannya ke sini." Bram menganggukkan kepala.


"Oke terimakasih ya." ucapnya. Bram tersenyum melihat Genta. Genta sempat terpana melihatnya.


"Kalau begitu saya permisi kembali pak." pamit Genta.


"Silahkan." Bram mempersilahkan.


Wah ternyata pak Bram itu, selain berwibawa, juga rendah hati. Sama karyawan paling bawah kaya aku saja ramah. Gak sia-sia aku ngefans sama dia. batinnya.


Genta pun kembali dengan hati gembira dan senang. Bisa melihat langsung pebisnis yang begitu ia kagumi, menjadi kebahagiaan tersendiri baginya. Sayangnya, ia belum mengetahui siapa Bramantio Wijaya itu. Karena selama pria itu berkunjung ke kediaman Dewi, ia berkegiatan di sekolah atau sudah berada di ibukota.


Saat Bramantio berkunjung ke sana pun, ia tak pernah menginap atau berlama-lama. Paling lama, ia hanya berkunjung selama dua jam. Lebih sering, Dewi dan Bram bertemu di luar desa. Seperti di ibukota, atau di mall terbesar di desa sebelah.


Bagaimana reaksi Genta ketika mengetahui, jika Bram dan Brian, adalah keluarga Dewi?


Apakah Genta akan mundur, ataukah ia akan memperjuangkan cintanya? Akankah Bram atau Brian menghalangi hubungan mereka, ataukah Bram dan Brian akan menyetujui hubungan mereka dengan mudah?


Mampukah Genta dan Dewi bertahan dalam ujian yang akan mereka hadapi, atau mereka akan memilih menyerah pada takdir?


Bagaimana akhirnya Genta bisa berubah menjadi bodyguard untuk Brian? Ikuti terus kisah cinta Genta dan Dewi.


đź’–đź’–đź’–đź’–


Hai semuanya.... Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga semua dalam kondisi sehat ya ...


Liburan kini sudah selesai. Besok kita sudah menjalani rutinitas seperti biasa lagi. Tetap semangat semuanya. Apapun pekerjaan kita, jalani dengan penuh ucapan syukur ya. Karena banyak di luar sana, bahkan kesulitan mencari pekerjaan.


Upsss..🤭 author jadi ceramah nih... hehehehe sorry ya.


Jangan lupa klik tombol like👍, komen🗯️, dan favoritnya❤️ ya....


Thank you guys.....


I Love you....