My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Mengejar Bram



Brian kini tengah termenung setelah mendengarkan perkataan Ray. Sayangnya, sahabatnya itu kini telah meninggalkan ruangannya.


Aku butuh teman bicara. Tapi siapa? Brian memijat pelipisnya.


Suara pintu di ketuk, kini kembali terdengar. "Masuk." perintah Brian.


Rupanya Jenny yang membawa setumpuk berkas. Brian benar-benar stress melihat pekerjaan yang menumpuk. Keberadaan Genta saat ini, sangat ia butuhkan.


Sayangnya, ego mengalahkan segalanya. Akhirnya, Brian mencoba kembali fokus dengan pekerjaan.


"Ini berkas yang perlu anda tanda tangani pak." ucap Jenny seraya menyerahkan berkas-berkas itu.


"Hah... Letakkan saja Jen." kembali Brian memijat pelipisnya.


"Apa Genta masih cuti?" Brian menatap Jenny.


"I-iya." jawab Brian gugup. Brian memang tak mengatakan yang sebenarnya pada pihak HRD dan sekretarisnya.


Setelah mendengar jawaban Brian, Jenny meninggalkan ruangan Brian.


Aneh sekali. Genta tidak pernah seperti ini. Baru satu Minggu, pekerjaan sudah menumpuk seperti ini. Apa lagi jika lebih? Hah Genta, ternyata kehadiranmu sangat di butuhkan. batin Jenny.


Jenny mengambil ponselnya dan mencari nama Genta. Ia memilih mengirimkan pesan dari pada menelponnya.


Jenny;


Kenapa Lo cuti tiba-tiba? Ada masalah? Perlu bantuan gak? Kapan kembali? Kerjaan sudah numpuk banget nih!!!


Genta masih mengawasi gedung Wijaya Group dari cafe seberang gedung. Saat ponselnya berdenting. Rupanya pesan dari Jenny. Genta tersenyum mendapat perhatian dari rekan kerjanya.


Genta;


Gak ada masalah kok. Semangat kerja ya.


Ia tak menjawab setiap pertanyaan Jenny. Jenny yang membaca pesannya hanya menggelengkan kepala. Jenny kembali fokus dengan pekerjaannya.


Perhatiannya teralih saat ia melihat Brian keluar dari ruangannya dan menghampirinya.


"Jen, saya ingin keluar sebentar. Bisa gila saya menghadapi pekerjaan ini semua." ucap Brian. Terlihat sekali wajah lelah Brian. Jenny pun menanggapinya dengan senyum.


"Iya pak. Saran saya, lebih baik bapak suruh Genta untuk kembali." Brian langsung menatap tajam pada Jenny. Jenny hanya tersenyum.


Brian pun berlalu. Ia perlu menyegarkan pikirannya. Ia menuju lift dan menekan lantai dasar.


Genta yang tengah menyesap kopinya melihat Brian menuju cafe tempatnya berada. Ia segera berdiri dan mendekati Brian. Genta mencoba menawarkan bantuan pada atasannya itu.


"Ada yang bisa saya bantu pak?" Brian yang berjalan tanpa tujuan, tersadar saat mendengar suara Genta.


"Kau.... Tidak ada. Pergilah." wajah Brian masih tidak bersahabat. Brian berbalik dan kembali ke gedung Wijaya Group.


Genta memperhatikan setiap langkah Brian hingga pria itu menghilang dari pandangannya.


••••••


Brian menyugar rambutnya kebelakang. Ia merasa frustasi dengan pekerjaannya.


Seandainya ada Genta. Aarrrrgggghh apa aku benar-benar sudah salah menilainya? Sudah hampir dua Minggu ini pekerjaan ku tidak ada yang beres.


Brian terkejut saat pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan. Pria itu membelalakkan matanya saat melihat Bram papanya masuk.


"Brian, bagaimana caramu mengendalikan perusahaan? Kenapa ada banyak pekerjaan yang tertunda?" Bram memberondong banyak pertanyaan pada Brian.


"Maafkan Brian pa." ucap Brian.


"Hah... Mana Genta, kenapa papa tak melihatnya?" Brian menundukkan kepalanya.


"Brian?" panggil Bram setelah beberapa waktu Brian terdiam.


"Aku pindahkan posisinya menjadi pengawal pribadiku pa." ucap Brian.


Brian terdiam tak menjawab. Dia tahu, jika dirinya memang salah mengambil langkah. Bram menghela nafas lelah melihat putranya ini.


"Panggil di kemari." Brian menatap mata papanya.


Tidak bisa pa. Dia belum bisa membuktikan apapun padaku seperti ucapannya. Brian hanya mengatakannya dalam hati.


"Kenapa diam? Cepat." perintah Bram.


"Tidak bisa." jawab Brian singkat.


"Apa alasanmu?" tanya Bram.


Brian tak menjawab. Ia hanya bisa diam seribu bahasa. Bram kehilangan kesabaran dan akhirnya mengambil ponselnya dan menghubungi Genta sendiri.


Tak berselang lama, panggilan itu di jawab.


"Genta, temui saya di ruangan Brian sekarang." Bram mematikan sambungan itu. Brian hanya membuang pandangannya.


Ada yang aneh disini. Apa yang terjadi saat aku tak ada? Hingga begitu banyak pekerjaan yang menumpuk seperti ini. batin Bram.


Tak lama, pintu ruangan itu di ketuk.


"Masuk." perintah Bram. Genta masuk dan berdiri di hadapan Bram.


"Bapak memanggil saya?"


"Hem.. Kembalilah menjadi asisten Brian. Entah apa yang membuat anak ini menjadi bodoh." Bram menatap tajam pada Brian.


"Maaf pak, saya tidak bisa. Karena ada masalah pribadi dengan pak Brian." ucap Genta.


"Boleh saya tahu masalahnya?" tanya Bram pada Genta.


Genta memandang Brian. Seakan bertanya padanya. Bram menatap Genta dan Brian bergantian.


"Apa aku harus mencaritahu sendiri?" Genta mengalihkan tatapannya pada Bram.


"Ini berhubungan dengan Dewi." lirih Genta. Brian menatap tajam pada Genta. Sementara Bram mengernyitkan dahinya.


"Kenapa dengan Dewi?" tanya Bram yang masih bingung. Brian masih menatap tajam Genta.


"Apa papa tidak akan marah, jika Dewi punya hubungan dengan pria yang tak sederajat dengan kita?" tanya Brian tanpa mengalihkan pandangannya dari Genta.


Jantung Genta berdegup kencang saat Brian mengatakan itu pada Bram. Sejujurnya, ia takut Bram pun menolaknya seperti Brian sudah menolaknya.


"Apa maksudmu Brian? Belum waktunya bagi Dewi untuk memiliki hubungan lebih dari sekedar teman. Papa harus bertemu Dewi atau mama Sofia mu." Bram bangkit berdiri dan keluar dari ruangan Brian.


Brian yang melihat papanya keluar segera menyusul. Begitu pun dengan Genta. Namun sayangnya, mereka terlambat. Mobil yang di tumpangi papanya sudah melaju.


"Genta, cepat ambil mobil. Kita susul papa." Brian melemparkan kunci mobil. Genta menangkapnya dan menatap Brian.


"Cepat. Aku tidak ingin papa bertemu dengan mama Sofi saat ini. Atau mereka akan bertengkar." ucap Brian.


Dengan segera, Genta berlari ke arah parkiran dan melajukan mobil ke tempat Brian menunggu. Saat mobil tiba di lobi, Brian segera membuka pintu samping pengemudi dan menutupnya.


Genta segera melajukan mobil itu untuk mengejar Bram. Dalam sepuluh menit, Genta dan Brian dapat menemukan mobil milik Bram.


Genta berusaha mendekati, namun sayangnya mereka terjebak lampu merah. Mau tidak mau, mereka harus menunggu lampu berganti. Tak lama, lampu pun berganti menjadi hijau.


Genta menginjak pedal gas dan berusaha mengejar mobil Bram kembali. "Pak Brian tak bisa melacak mobil pak Bram? Agar kita lebih mudah mencari arah." saran Genta. Fokusnya masih tetap pada jalan di depannya.


"Biar ku lihat." Brian mulai mengecek ponselnya.


"Tidak bisa rupanya. Sebaiknya ku hubungi mamaku lebih dulu. Siapa tahu papa pulang ke rumah."


Tanpa pikir panjang, Brian menghubungi Rianti. Namun, sudah lebih dari tiga kali panggilan Rianti tak menjawab. Brian mengumpat kesal. Ia menghubungi nomor papanya. Sama sekali tak di angkat. Rasa kesal kini menguasainya. Beberapa kali Brian mengumpat kesal.


"Jadi kita susul pak Bram kemana pak?"