My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Rahasia #2



Bram merasa cemas tiba-tiba. Entah apa yang terjadi pada keluarganya. Sepertinya, ia pernah mengalami hal ini dulu. Namun ia juga tidak tahu pertanda apa ini.


Dave bahkan tak menjelaskan apapun saat menyeretnya. Bram menatap heran pada Dave. Ingin rasanya Bram bertanya. Namun ia urungkan.


"Putrimu dalam bahaya." ucap Dave seolah mengerti arti tatapan Bram tadi.


Bram membelalakan matanya. "Maksudmu putriku Dewi?" tanya Bram.


"Hmmm..." jawabnya singkat.


Mereka pun akhirnya terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Bram mengambil ponselnya dan menghubungi Genta. Cukup lama ia menunggu, namun tak juga Genta menjawabnya. Kali ini, ia mencari nomor Brian dan menghubunginya.


"S***" umpat Bram.


"Santai saja. Pras dan Sofia tidak akan lengah akan hal ini. Apa kau lupa, jika Sofia bisa melakukan apa pun?" Bram menghela nafas kasar.


"Aku meras tidak berguna sebagai ayah." lirih Bram.


Dave terkekeh. "Kau benar. Selain itu, kau juga seorang pecundang." ejeknya.


Bram menatap tajam Dave lewat ekor matanya. Sayangnya, ia tak bisa menyangkal ucapan Dave. Ayah mana yang memilih lari dari masalah yang dihadapinya alih-alih menyelesaikannya? Apalagi, ia mencoba membunuh dirinya sendiri. Memupuk dosa yang sudah menggunung.


"Iya, aku memang pecundang." akunya.


Bram membuang pandangannya ke arah jendela. "Boleh aku bertanya?"


Dave melirik Bram sekilas. Ia bisa melihat raut putus asa yang terpancar dari wajah Bram. Dave tidak mengerti, kenapa Bram terlihat sangat putus asa.


"Silahkan." jawabnya.


"Apa kau sungguh akan merebut hati Sofia?" Dave mengerutkan dahinya.


"Ya." jawabnya.


Bram menundukkan kepala dan memejamkan matanya.


"Kenapa? Kau sudah menyerah?" Bram menggelengkan kepalanya.


"Jadi?"


"Hanya tidak percaya diri." ucapnya.


"Selalu seperti itu."


"Sejak dulu, kau selalu tidak percaya diri." Bram tersenyum pahit.


******


Genta mengantarkan Dewi ke tempat yang di minta oleh orang yang menelponnya tadi. Mereka tak mengerti. Jika benar ibunya mengalami di culik, apa tujuan mereka?


"Dewi, ibumu ada di tanganku. Temui aku di jl Xxx. Jangan sampai ada yang mengikuti mu terutama Brian dan Kinanti. Jika tidak, aku akan menghabisi ibumu."


Telepon itupun mati. Jantung Dewi seakan melompat keluar dari tempatnya saat itu. Ia begitu menyayangi Sofia. Entah bagaimana jadinya jika ia hidup tanpa Sofia.


Bagi Dewi, Sofia adalah segalanya. Genta menggenggam jemari Dewi. Menyalurkan sedikit keberanian pada gadis itu. Genta sudah menyuruh beberapa anak buahnya termasuk Bagas untuk menjaga Brian. Rencananya pun sudah mulai berjalan sejak telepon itu terputus.


Genta yakin, Bagas mampu melakukan hal itu.


Mereka turun dari mobil. Baru saja mereka berdiri di depan rumah tua itu, ada orang yang membius mereka. Dengan cepat, mereka kehilangan kesadaran.


Entah berapa lama Genta tak sadarkan diri. Ketika ia sadar, Dewi sudah tidak ada bersamanya. Tangan dan kakinya terikat.


Oh Tuhan..... B**** kau Genta. Kenapa kau tidak memperkirakan hal ini akan terjadi? Dewi, ku mohon... bertahanlah sayang.... batinnya.


Dengan sekuat tenaga, ia berusaha melepaskan ikatan di tangannya. Usahanya terhenti saat ia mendengar tawa seseorang yang memenuhi ruangan itu.


"Hahaha... Kau perlu bantuan?" tanya Daniel.


"Tuan Daniel?" tanyanya bingung saat melihat Daniel ada di sana.


"Ya ini aku."


"Kau yang sudah mengacaukan rencana ku untuk membuat putriku bersama dengan Brian. Kali ini, Aku akan berhasil." Daniel menyeringai.


"Dimana Dewi?" tanya Genta.


"Oh, calon istri kecilmu itu?"


"Itu bukan urusanku."


"Aku bahkan tidak peduli, jika temanku ingin merusaknya, membuatnya cacat atau membunuhnya. Hahaha..." Genta menggigil menahan amarah.


"Jika itu terjadi, sampai ke neraka pun akan ku kejar kalian." terlihat wajah Genta yang memerah. Rahangnya mengeras.


Daniel tertawa dan pergi meninggalkan Genta sendiri. Sebelum ia melangkah keluar, ia melirik Genta dengan ekor matanya.


"Kau tahu, setelah gadis kecil itu ku bereskan, selanjutnya adalah bos mu sendiri." Daniel segera berlalu.


****


"Mama kenapa?" tanya Brian saat dirinya mendengar suara Rianti yang panik.


"Ada orang yang mengejar mama. Sekarang mama sedang bersembunyi di sebuah bangunan tua. Tapi mama tidak tahu sampai kapan bisa bersembunyi." ucapnya.


"Kalau begitu, mama share lokasi ke Brian. Brian segera ke sana." Brian mematikan telepon.


Tanpa kata, Brian meninggalkan apartemen. Ia berlari menuju mobilnya. Meski ia membenci Rianti karena menjauhkan Bram dari Dewi, ia tetap menyayanginya karena Rianti, adalah ibu kandungnya.


Bagas dan yang lainnya sempat kebingungan. Kemudian, Bagas menyuruh dua orang tetap berjaga di apartemen. Ia tak ingin mengambil resiko Kinanti ikut menghilang. Bagas pun segera mengikuti GPS yang terpasang di mobil Brian. Ia pun segera memberitahu Genta.


****


Kesadaran Dewi mulai kembali. Ia menyesuaikan pandangannya dengan cahaya di ruangan itu. Ia melihat Rianti tak jauh dari tempatnya di baringkan.


"Tante..." lirihnya. Ia teringat dengan telepon misterius yang memberitahunya tentang penculikan ibunya.


"Mama..." ucapnya.


Rianti memutar tubuhnya dan mendekati Dewi. Ia menampilkan raut wajah bak malaikat di hadapan Dewi.


"Kamu tenang dulu. Kamu baru saja sadar." ucapnya lembut.


"Gak bisa Tante. Mama dalam bahaya." raut wajah Dewi terlihat khawatir.


"Mamamu baik-baik saja sayang..." Rianti membelai rambut panjang Dewi.


Dewi mengernyit. Kemudian ia sadar, ini hanyalah jebakan. Ia ingat, tadi ia pergi bersama Genta. Lalu, dimana pria itu?


"Kak Genta..." lirihnya.


"Oh, tunangan mu itu?" Rianti bangkit berdiri.


"Dia selamat. Jika...." Rianti menggantung ucapannya.


"Jika apa?" tanya Dewi.


"Kau mau menandatangani surat-surat ini." Rianti melemparkan sebuah map berisi beberapa surat.


Dewi mengambilnya dan membuka isinya. Rupanya, itu adalah surat pengalihan aset atas namanya yang di berikan Bram dulu. Seingatnya, ia sudah menolak semua aset itu. Bahkan, ia mengembalikannya pada Bram.


Lalu, bagaimana semua itu berpindah tangan pada Rianti? Bukankah Rianti adalah orang yang baik? Itu adalah penilaian Dewi selama ini. Bahkan, ia tak pernah melihat Rianti marah sedikitpun.


"Kenapa surat-surat ini ada pada Tante?" tanyanya heran.


"Itu bukan masalah yang sulit untukku."


"Aku sudah menyusupkan orang-orang ku di kantor pengacara si**** itu." ucapnya santai.


Jadi karena harta? Hah.... gumam Dewi dalam hati.


"Ambil jika Tante menginginkannya." ucap Dewi.


"Wah.... Mudah sekali membujuk mu."


"Kalau begitu, tanda tangani." Rianti menyerahkan pulpen pada Dewi.


Dewi lelah berurusan dengan orang yang gila harta seperti wanita di hadapannya. Ia bahkan rela menjauhkan seorang putri dari ayah kandungnya. Ia pun membubuhkan tanda tangannya.


Selesai dengan semua surat-surat itu, Dewi bangkit berdiri dan ingin pergi.


"Mau kemana gadis kecil?" Dewi berhenti. Tiba-tiba saja, hatinya menjadi resah. Rianti mendekati Dewi.


"Kau adalah anak yang tidak pernah di harapkan oleh Bram ayahmu." seketika hati Dewi terasa sakit. Entah mengapa, airmatanya mulai menggenang di pelupuk mata.


"Bohong..." ucapnya dengan nada bergetar.


"Kau tahu, jika dia menginginkanmu, dia akan tetap menunggu tanpa menikahi ku dan meminta aku melahirkan anak untuk nya." Dewi tak kuasa menahan laju airmatanya.


"Tidak mungkin. Mama bilang bukan seperti itu." lirihnya.


"Terserah padamu mau percaya atau tidak. Ini adalah rahasia besar Bram. Hanya aku yang tahu tentang ini."


"Kasihan sekali nasibmu. Tidak di inginkan oleh ayah kandungnya sendiri." desis Rianti di telinga Dewi.


💐💐💐💐💐


Ya ampun..... ternyata aku salah ketik tanggal update.... Pantesan saja blm nongol notifnya.... harus ganti tanggal DECH....


Maaf ya genks..... pantes dari semalam kok gak ada²...


Padahal statusnya udah berhasil di review.... setelah cek n ricek, aku salah bikin bulan rilisnya....🤭🤭🤭🤭


Maafkeun diriku ya genks.... selamat menikmati.....