My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Kunjungan Dave



Rianti menatap langit malam di apartemen yang di tinggali nya bersama Kinanti di luar negeri. Ia bersedekap dan menikmati semilir angin yang menerpa tubuhnya.


Kinanti melihatnya dan menghampiri. Menatap wajah mamanya yang terlihat lembut. Rianti yang tengah tenggelam dalam pemikirannya, belum menyadari kehadiran Kinanti.


Kinanti tahu, mamanya tengah memikirkan sesuatu. Ia pun memeluk mamanya dengan manja. Rianti terkejut, sejurus kemudian membalas pelukan putrinya.


"Mama mikirin apa?" tanya Kinanti. Rianti tersenyum lembut dan membelai rambut panjang putrinya. Merapihkan anak rambutnya yang tertiup angin.


"Tidak ada sayang." ucapnya tanpa menghilangkan senyumnya.


Rianti menuntun langkah Kinanti untuk masuk. Ia menutup pintu balkon apartemen itu. "Tidurlah nak. Ini sudah malam." Rianti mengecup kening Kinanti lembut.


"Sungguh tidak ada yang mama pikirkan?" tanya Kinanti. Kinanti menatap penuh selidik pada Rianti.


Rianti menjentikkan jarinya di kening Kinan. Kinan mengaduh. "Aduh...." Kinan mengusap keningnya dan mengerucutkan bibirnya.


"Anak kecil, di larang ikut campur urusan orang dewasa. Rianti tersenyum dan mendorong Kinanti masuk ke kamarnya.


Rianti pun memasuki kamarnya dan melihat ponselnya. Terpampang wajah Bram di sana. Ia mengusap wajah itu. Wajah yang di rindukannya.


Entah sejak kapan ia mulai membenci Sofia dan menginginkan semua yang di miliki Sofia. Mas Bram, maafkan aku yang menjadi serakah. Maafkan aku yang tidak ingin kau lebih memperhatikan dia daripada diriku. Maaf karena aku sengaja menjauhkan mu dari putrimu sendiri.


••••••••••••


Seorang pria tampan dengan balutan jas mahal di tubuhnya menapakkan kaki tepat di pelataran gedung Hadinata Corp.. Ia mengancingkan jasnya dan melangkah pasti.


Meski terlihat garis halus di wajahnya, namun tak mengurangi kadar ketampanannya. Sangat terlihat jelas kharisma dari pria itu. Semua wanita terpana memandangnya. Bahkan mereka tak berkedip sedikitpun.


Pria itu menghampiri meja resepsionis. "Maaf, apa CEO perusahaan ini sedang di tempat?" tanyanya pada sang resepsionis.


Resepsionis itu tak bergeming memandang wajah tampan ciptaan Tuhan di hadapannya. Pria itu sudah beberapa kali mengibaskan tangannya untuk menyadarkan wanita yang berdiri di meja resepsionis, namun tak berguna.


"Mba, Ibu Sofia ada?" lamunannya pun terhenti saat mendengar suara Dewi.


Ya, Dewi tengah berdiri di meja resepsionis dan memastikan mamanya ada di ruangannya. Sofia belum memberitahu Dewi posisinya di perusahaan Hadinata Corp.. Dan ini, pertama kalinya ia berkunjung ke sana.


"Oh iya. Ada. Tapi, anda sudah membuat janji?" pria itu menatap Dewi. Ia terpana melihat wajah Dewi yang mirip seperti Sofia.


"Sudah." jawab Dewi singkat.


"Sebentar." resepsionis mengangkat telepon dan menekan nomor extension.


"Bagaimana dengan pertanyaan saya." sesaat sebelum resepsionis itu menekan tombol teleponnya, ia pun berhenti.


"Maafkan saya tuan. Apa tuan sudah membuat janji?" ucap resepsionis itu sopan.


"Katakan saja, CEO dari Barata Com. ingin bertemu." ucapnya.


"Baik."


Dewi memperhatikan pria di sampingnya dan tersenyum ramah. Pria itu menatap melalui ekor matanya.


Senyumnya, sama persis dengan Sofia. batin pria itu.


"Silahkan tuan, nona saya antarkan menaiki lift. Anda berdua sudah di tunggu." Dewi mengernyitkan dahinya bingung.


Tak lama, lift terbuka. Mereka pun masuk. Resepsionis menekankan angka yang mereka tuju. Setelahnya membungkuk hormat.


Pria ini kan ingin bertemu CEO perusahaan ini, sementara aku ingin bertemu mama. Apa mama bekerja di lantai yang sama dengan CEO perusahaan ini? tanyanya dalam hati.


"Selamat datang Tuan Silahkan." pria itu keluar.


"Silahkan nona, ibu sudah menunggu." Dewi pun ikut keluar.


Merry, sekertaris Sofia segera menuntun langkah mereka menuju ruangan Sofia. Semenjak kembali ke ibukota, Sofia kembali menduduki posisi CEO yang selama ini kosong.


Selama ini, Prasetyo sebagai asistennya yang menggantikannya. Baik dalam rapat internal, maupun rapat eksternal. Loyalitas Prasetyo, sudah tak di ragukan. Bahkan, kinerjanya pun sangat memuaskan.


Dewi terkejut begitu mereka tiba di depan pintu bertuliskan CEO Sofia Hadinata. Pria itu, tersenyum. Merry mengetuk pintu. Tak lama terdengar perintah masuk dari dalam. Merry mendorong pintu itu perlahan dan mempersilahkan kedua orang itu masuk bersama.


Dewi tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sofia menghampiri Dewi lebih dulu dan memeluknya.


"Kenapa? Kaget ya?" Dewi mengangguk.


"Ini semua, warisan dari kakekmu. Papi nya mama. Nanti, kita ziarah bersama ke makam kakek ya."


"Duduklah. Mama selesaikan urusan pekerjaan dulu." Dewi duduk di sofa set dalam ruangan Sofia.


Gadis itu tak menyangka, jika mamanya ternyata berada di luar dugaannya. Tak pernah sedikitpun terbayang dalam benaknya tentang status Sofia yang sebenarnya. Matanya berhenti pada pria yang masuk bersamanya tadi.


"Duduk Dave." pria yang di panggil Dave, duduk di hadapan Sofia.


"Ku pikir kau tidak akan kembali." nada suara pria itu terdengar lembut di telinga Dewi.


Dewi memperhatikan Sofia yang terlihat salah tingkah. Siapa pria ini? Kenapa terlihat akrab dengan mama?


"Tidak mungkin aku mengecewakan papi. Cukup dulu aku mengecewakannya dengan memilih mas Bram daripada dirimu." lirihnya.


"Apa maksud mama?" Sofia lupa akan kehadiran Dewi sesaat. Dave hanya melirik melalui ekor matanya.


"Siapa pria ini?" tanya Dewi tajam.


"Di-dia..." Sofia gugup.


"Perkenalkan, saya Dave mantan tunangan ibumu." Dave berdiri dan mengulurkan tangannya pada Dewi yang kini berdiri di dekatnya.


Dewi menatap tajam pria itu. "Oh... Saya harap, anda menjaga jarak dari mama saya. Saya tidak menginginkan ayah baru." ucapnya.


Dave terkekeh. "Aku hanya merindukan ibumu. Aku tidak menginginkannya. Itu hanya masa lalu. Bagaimanapun juga, dulu kami berteman baik." tutur Dave.


"Dewi, kau tidak boleh seperti itu nak. Mama tidak pernah mengajarimu bersikap kasar pada orang lain." ucap Sofia lembut.


"Maafkan saya. Tidak seharusnya saya bersikap kasar seperti ini pada anda." Dewi menundukkan kepalanya.


Ia sadar, tidak seharusnya ia terbawa emosi melihat kedekatan ibunya dengan pria lain. Dia sendiri tidak tahu hubungan yang terjalin antara mereka. Yang dia dengar, mereka hanyalah mantan tunangan.


"Tidak apa. Aku mengerti perasaanmu. Maaf juga karena aku menemui ibumu. Aku hanya sudah lama tak bertemu dengan ibumu." ucap Dave.


"Dave, kita baru bertemu sekitar empat bulan yang lalu. Kenapa kau bicara seakan tak bertemu denganku bertahun-tahun?" protes Sofia.


"Oke, baiklah aku salah. Kalau begitu, aku ucapkan selamat datang kembali di dunia bisnis." Dave mengulurkan tangannya pada Sofia dan tersenyum.


"Terimakasih Dave." Sofia membalas senyum Dave dan menyambut uluran tangan pria itu.


"Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" tawar Dave pada Sofia dan Dewi.


Sofia dan Dewi saling pandang. Sedetik kemudian Dewi mengangguk tanda setuju. Mereka pun keluar bersama.