My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Tugas Kelompok



Waktu terus silih berganti. Tanpa terasa semester baru di kampus Genta telah di mulai. Mata pelajaran kali ini, mengharuskan semua mahasiswa dan mahasiswi untuk melakukan tugas kelompok. Satu kelompok, terdiri dari empat orang.


Untuk menghindari diskriminasi sosial yang sering terjadi, Bu Fera sebagai dosen mereka sendiri yang membentuk tim kelompok. Terbentuklah lima kelompok dalam ruangan kelas itu. Genta masuk dalam tim dua. Terdiri dari dua perempuan, dan dua laki-laki.


Sayangnya, Genta tidak satu tim dengan Bagas. Genta harus bersabar dengan timnya kali ini. Pasalnya tiga orang dalam tim Genta, terlihat sangat akrab. Sementara Genta, hanya dekat dengan beberapa orang saja di kampusnya.


"Sekarang kita tentuin waktu untuk pengerjaan. Kapan kalian bisa?" tanya Genta selaku ketua timnya.


"Gue kapan saja bisa gen." seru Deny teman satu timnya.


"Kalian gimana?" tanya Genta pada dua gadis dalam kelompoknya itu.


"Lo saja dulu?! Waktu Lo kan gak se senggang kita. Kalau waktu Lo udah pas, baru kita ngikutin." ucap gadis berambut panjang itu dengan nada sinis.


"Iya Gen, Lo bisanya kapan?" tanya Hana, gadis satu lagi dengan senyum manisnya.


"Sabtu siang ini, atau hari Minggu. Waktu gue cuma ada di hari itu saja." tutur Genta. Genta merasa tak enak hati pada rekan-rekannya. Hanya dia yang sulit untuk mengatur waktu untuk kerja kelompok mereka.


"Gimana Cin?!" tanya Hana lagi


"Oke. Tapi di rumah gue ya. Hari Minggu saja. jam sembilan pagi. Biar panjang waktunya." terang gadis berambut panjang itu lagi. Setelahnya, ia melangkah pergi.


"Cindy, tungguin gue." panggil Hana. Gadis yang di panggil Cindy, hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh.


Genta dan Deny hanya menghela nafas kasar melihat rekan mereka.


••••••••••••••


Hari ini berlalu dengan cepat. Waktu sudah menunjukkan tengah malam saat ini. Genta dan karyawan lainnya mulai membersihkan cafe itu dan bersiap untuk tutup.


Sempat Genta merasa putus asa dalam menjalani rutinitasnya tanpa ke dua orang tua di sisinya. Rasa lelah yang menderanya, rindunya pada bapak dan ibunya, begitu membuatnya semakin ingin menyerah. Namun lagi dan lagi, membayangkan raut bangga dari wajah mereka kembali membangkitkan semangatnya. Ditambah senyuman Dewi yang terekam dalam benaknya, semakin meyakinkannya untuk tetap bertahan.


Genta kembali bersemangat menjalani hari-harinya. Ia yakin, bahwa semua jerih lelahnya, akan membuah kan hasil yang bisa ia banggakan.


Genta tiba di kos nya tepat pukul satu dini hari. Untungnya, saat istirahat kuliah tadi, ia sudah menyelesaikan tugas-tugas nya. Genta membersihkan tubuhnya dan merebahkan tubuhnya.


Rasa lelahnya sudah sangat menguasainya. Hingga tidak butuh waktu lama, Genta pun terlelap.


••••••••••••


Minggu pagi, Genta bangun lebih awal untuk berolahraga sebelum ia melakukan tugas kelompok seperti yang sudah ia sepakati dengan timnya.


Tiga puluh menit ia melakukan joging. Kali ini, Genta melakukan joging hanya di sekitar kosnya untuk menghemat waktu.


Tepat pukul tujuh lewat tiga puluh menit, Genta membersihkan tubuhnya dan sarapan. Genta memutuskan untuk sarapan bubur ayam yang berada di ujung jalan menuju kosnya. Ia harus menghemat pengeluarannya sampai saat gajian.


Usai sarapan, Genta mulai menuju lokasi rumah Cindy rekan satu kelompoknya. Cindy, sudah memberitahu Genta dan yang lainnya alamat tempat tinggalnya.


Genta memasuki area perumahan yang tidak jauh dari taman di dekat kampusnya. Ia menanyakan pada satpam yang berjaga di sana, alamat itu. Satpam itu pun menjelaskan. Setelah di rasa mengerti, Genta mengucapkan terima kasih dan melangkah. Baru saja ia berjalan beberapa langkah, ia mendengar namanya di panggil.


"Genta..." Genta menoleh pada suara yang memanggilnya. Genta tersenyum.


Mereka pun berjalan beriringan menuju rumah Cindy. Tidak sampai sepuluh menit, mereka tiba di depan alamat rumah yang di berikan Cindy. Rumah dua lantai, dengan halaman yang cukup luas.


Cindy yang memang sedang menunggu teman-temannya, membuka pintu pagar besi untuk mempersilahkan mereka masuk. Mereka duduk di ruang tamu dan bersiap mengerjakan tugas mereka.


"Sudah datang ya? Ini minuman dan camilannya." wanita paruh baya menghampiri mereka dan membawakan sirup serta camilan.


"Genta Tante." Genta menyalami mama Cindy dan memperkenalkan diri.


"Deny Tante." begitupun dengan Deny.


"Hana Tante." mama Cindy tersenyum melihat Hana.


"Sudah tahu." ujar mama Cindy. Cindy dan Hana tertawa. Mereka pun mulai mengerjakan tugas mereka.


Tepat jam dua belas siang, mereka selesai mengerjakan tugas mereka. Saat tengah membereskan meja yang di penuhi dengan berbagai buku dan alat tulis, ibu dari Cindy mengajak mereka makan siang bersama.


"Sudah selesai belajarnya?" tanya mama Cindy.


"Sudah ma." jawab Cindy.


"Kalau begitu, ayo kita makan siang dulu." ajak mama Cindy.


Deny dan Hana menganggukkan kepala, sedangkan Genta merasa sedikit sungkan.


"Maaf Tante, bukan maksud saya menolak, tapi saya harus bekerja sekarang." tutur Genta.


Bukannya masih ada waktu tiga jam lagi ya? Segitunya dia gak mau temenan sama kita-kita? batin Cindy.


Seakan mengerti isi hati Cindy, Deny mengatakan hal yang ingin di katakan ya. "Bukannya jam kerja Lo masih tiga jam lagi ya gen?" Genta menyikut lengan Deny hingga Deny mengaduh. "Apa sih gen?" Cindy hanya memperhatikan Genta.


Mama Cindy tersenyum. "Masih sempet kok. Sayang kalau kamu makan di luar. Uangnya bisa kamu simpan." ucap mama Cindy.


Genta tersenyum canggung. Ia tak bisa lagi mengelak. Pada akhirnya, ia ikut makan siang bersama teman-temannya.


Di meja makan, Cindy memperhatikan Genta. Hana menyenggol lengan Deny dan menunjuk pada Cindy dengan dagunya. Deny mengalihkan pandangannya pada Cindy. Deny dan Hana tersenyum melihatnya.


"Gimana masakan Tante, enak gak?" tanya mama Cindy.


"Seperti biasa Tante, enak pake banget." puji Hana.


"Kalau Hana yang muji, Tante mah sudah biasa. Tante tanya Deny dan Genta tahu?!" Mama Cindy menunjukan wajah merajuk. Hana tertawa.


"Enak kok Tan. Terimakasih ya Tan." ucap Genta tulus. Deny mengangguk setuju.


"Ah... Terimakasih..." Mama Cindy terlihat senang. "Oh iya, tadi kamu bilang kamu kerja ya?!" Mama Cindy menghampiri Genta.


"Iya Tante." Genta tersenyum.


"Hebat kamu, bisa kuliah sambil kerja. Tante salut sama kamu." Mama Cindy menepuk pundak Genta bangga. Genta tersipu malu.


"Cin, cari pacar itu kaya gini. Mama pasti gak bakal ngelarang kamu." wajah Cindy memerah malu. ia menundukkan kepalanya.


"Apaan sih mah." ucapnya.


Genta hanya tersenyum. Hana sudah melirik pada Cindy dengan seringai jahil. Begitupun dengan Deny. Cindy sudah menatap mereka berdua tajam.


•••••••••••••••


Hai semuanya. Terimakasih untuk kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca novelku. Terimakasih juga untuk kalian yang sudah me rate novel ini. Terlebih lagi, untuk kalian yang sudah me like, dan komen serta masih setia menanti kelanjutan novel ini. Aku sangat berterimakasih atas dukungan kalian.


Maaf karena terlalu lama untuk up. I Love you all💖💖💖🤗🤗🤗😘😘