
Kiara saat ini benar-benar badmood. Dewi dan Genta hanya saling pandang dan mengendikkan bahu mereka. Bahkan, beberapa kali mereka bicara dengan isyarat mata.
Mereka di kejutkan dengan tawa Kiara. Genta mengernyitkan dahi, dan Dewi membelalakkan mata tak percaya. Dewi menghampiri Kiara dan memegang dahinya. Seakan sedang mengecek suhu tubuh Kiara.
Kiara tersadar dan menggenggam tangan Dewi. Berusaha meredakan tawanya dan menghapus air mata yang mengalir di sudut matanya akibat tertawa.
"Aduh.... Puas banget aku ngerjain mereka." tutur Kiara. Dewi semakin membelalakkan matanya tak percaya.
"Wah, jiwa iseng kamu muncul di waktu yang tepat dek." puji Genta. Dewi memukul pelan lengan Genta.
Ternyata, sepanjang percakapan di resto tadi, Kiara sudah mulai berakting. Kiara tahu, jika salah satu dari perempuan yang duduk bersama mereka menaruh hati pada Genta. Terutama, perempuan yang bernama Cindy. Kiara tidak menyukai Cindy. Menurut Kiara, Cindy sangat agresif.
"Bukannya di marahin adiknya, malah di puji." kesal Dewi.
"Biar saja wi. Mereka sengaja ikutin kita." Dewi mendesah pasrah.
"Apalagi yang namanya Cindy. Terlihat agresif."
"Dia pernah bilang suka ke kakak." aku Genta. Dewi dan Kiara menatap Genta.
"Aku tolak kok. Enggak usah serem gitu deh lihatnya." Genta merasa takut di tatap Kiara dan Dewi dengan tajam seperti itu.
"Wah pantesan saja dia ngejar kakak terus. Kia rasa, dia ke kampung kita itu ngikutin kakak deh."pikir Kiara.
"Jangan kasih kesempatan wi, kamu harus nempel terus sama kak Gen." usul Kiara.
"Emangnya perangko nempel terus." Dewi yang merasa malu, memilih jalan lebih dulu dari Genta dan Kiara. Kiara terkekeh melihatnya.
"Jangan godain Dewi terus. Kakak sama Dewi, belum resmi pacaran." bisik Genta. Kiara terkejut.
"Emang kakak belum bilang cinta ke Dewi?" mereka berjalan mengikuti langkah Dewi.
"Sudah." jawab Genta singkat.
"Terus?" Kiara semakin penasaran.
"Kakak suruh Dewi jawab, saat kakak sudah dapat pekerjaan yang lebih baik." Kiara menggelengkan kepalanya.
•••••••••
Cindy merasa frustasi menghadapi kenyataan. Kenyataan, jika adik Genta sama sulitnya untuk di dekati. Berkali-kali Cindy menghela nafas. Hana hanya bisa mengusap punggung Cindy perlahan.
"Huaaaa...." Cindy menelungkup kan wajahnya di atas meja.
"Kalau Lo mau nangis, kita pulang saja yuk. Malu di sini." ucap Hana perlahan.
Mereka berjalan ke kasir dan membayar makanan mereka. Setelahnya, mereka pulang ke rumah.
Cindy merasa tak lagi semangat mengisi liburannya dengan mengejar cinta Genta seperti sebelumnya. Ia merasa ingin kembali ke ibu kota saja malam ini juga.
Ia tak menyangka, di tolak di depan gadis ingusan yang di sukai Genta, malah jauh lebih menyakitkan. Hana berkali-kali melirik pada sahabatnya itu.
"Kit balik saja yuk." ajak Hana. Cindy menoleh dan mengangguk.
"Gue telepon mama dulu. Biar mama kirim supir besok pagi." semangat Cindy, sudah benar-benar hilang saat ini.
Hana menghela nafas kasar. Merasa tak mengerti bagaimana caranya membuat sahabatnya kembali bersemangat.
Tiba di rumah, Cindy segera menelungkup kan wajahnya di atas bantal. Rasa semangat yang tadinya membara, terhempas begitu melihat cara Genta memperlakukan gadis kecil yang di cintai Genta.
Sepertinya Genta memberitahunya, jika tidak ada lagi tempat bagi orang lain di hatinya. Apalagi sikap Kiara yang ketus padanya.
"Kalau Lo masih mau usaha, gue akan tetap jadi pendukung Lo. Satu yang harus Lo ingat, apapun keputusan Lo, gue akan jadi pendukung setia Lo. Yang penting, Lo gak salah arah. Begitu Lo salah arah, gue akan jadi alarm buat Lo." Hana tersenyum.
Cindy terharu mendengar penuturan sahabat baiknya itu. Matanya terlihat berkaca-kaca.
"Thank you... Lo emang sahabat terbaik gue. Makasih ya, Lo selalu ada buat gue." air mata Cindy kini sudah mengalir.
"Saat gue terpuruk dulu, Lo juga selalu ada buat gue. Bukankah ini gunanya sahabat? Kita saling berbagi suka dan duka. Saling mendukung, dan saling mengingatkan." Cindy memeluk Hana.
Hana begitu menyayangi Cindy. Bagi Hana, Cindy sudah seperti saudaranya sendiri.
Pagi hari, Cindy bangun lebih dulu. Namun, matanya yang bengkak menghalangi pandangannya. Hana yang melihat itu, segera menuju dapur dan mengambil handuk kecil dan es batu dari kulkas. Setelahnya, Hana kembali ke kamar dan membantu Cindy mengompres matanya yang bengkak.
Setelah dirasa lebih baik, mereka membereskan barang dan bersiap kembali ke ibu kota. Supir yang di kirim mamanya sudah berada dalam perjalanan.
"Sarapan dulu yuk." ajak Hana. Cindy hanya mengangguk.
Semangatnya benar-benar terlihat redup kali ini.
••••••
Jika sebelumnya Genta pergi bersama Kiara dan Dewi, kali ini Genta hanya mengajak Dewi. Ia ingin menghabiskan waktu berdua dengan Dewi.
Kali ini, Dewi lebih memilih taman bacaan yang baru di bangun di dekat sekolahnya. Kebetulan, hobi Genta dan Dewi sama. Jadi Genta tidak keberatan.
"Sebentar lagi kakak akan magang ya?" tanya Dewi seraya mencari buku yang ingin di bacanya.
"Hemmm.." jawabnya.
"Berapa lama kak?"
"Doakan saja, semoga dengan magang ini, kakak justru di terima bekerja. Jadi, saat lulus nanti, tidak sulit mencari pekerjaan." Dewi mengangguk mengerti.
"Berarti, sebentar lagi kuliah kakak selesai ya." Dewi tersenyum manis.
Kini mereka melangkah mencari tempat duduk. Karena di dalam cukup ramai dan penuh, mereka memilih duduk di taman depan. Di sana mereka bisa sekalian menghirup udara segar.
Duduk di bawah pohon yang cukup rindang, menjadi pilihan mereka.
"Kak.." panggil Dewi.
"Hemmm.." Genta hanya menjawab dengan berdeham.
"Pertanyaan kakak waktu itu, apa sudah bisa ku jawab?" ucap Dewi tanpa memandang Genta.
Genta menatap Dewi terkejut. Mendengar ucapan Dewi, sontak membuat jantung Genta berdetak semakin cepat. Pikirannya mulai melayang-layang.
Apakah Dewi akan menerimanya, atau menolaknya. Apakah jika Dewi menolak, akan tetap menjadi temannya, atau menjauh. Itulah yang di pikirkan Genta. Namun Genta berharap, Dewi menerimanya.
"Apa kamu sudah yakin." Genta menatap Dewi. Dewi membalas tatapan mata Genta.
Tatapan mereka berdua, menyiratkan perasaan mereka selama ini. Dengan menatap mata Dewi, Genta sudah yakin, jika Dewi akan menjawab 'Ya'. Namun ia ingin mendengarnya langsung dari bibir Dewi.
Sementara Dewi, melihat tatapan penuh harap dari Genta. Tidak hanya itu, tatapan cinta Genta ketika menyatakan perasaannya pun belum hilang dari mata itu. Masih tetap sama.
Waktu terasa berhenti saat ini. Jantung Genta semakin berdegup kencang begitupun dengan Dewi. Tatapan mereka belum beralih sedikitpun.
"Ya, aku mau jadi pacar kakak." rona bahagia, terpancar dari wajah keduanya.