
Di desa tempat Dewi dan Sofi tinggal, Brian dan Genta baru saja tiba. Genta memilih pulang ke rumah orangtuanya lebih dulu setelah mengantarkan Brian ke rumah milik Sofia.
Brian mengetuk pintu. Tak lama, keluar wanita yang sudah cukup tua membukakan pintu. "Den Brian. Masuk den." Brian tersenyum dan melangkah masuk ke rumah itu.
Rumah itu terlihat sepi. Ia berbalik menghadap mbok Narti yang sudah membawa nampan berisi air minum dan toples camilan.
"Duduk den. Ini, silahkan diminum." mbok Narti mempersilahkan.
"Dewi sama mama kemana mbok? Mama liburkan?" tanyanya seraya menyesap teh yang di bawakan si mbok tadi.
"Ibu libur den. Tapi, ibu sedang membawa non Dewi, non Kiara dan non Puspa jalan-jalan. Belakangan ini, non Dewi murung terus. Non Kiara dan non Puspa sudah mencoba menghiburnya. Tapi non Dewi masih saja murung." Brian pun termenung mendengar cerita mbok Narti.
•••••••••••
Genta tiba di rumahnya. Ia mencari keberadaan ibu dan bapaknya yang kebetulan sedang ada di rumah. Bapaknya yang merasa tak enak badan, memutuskan tidak berjualan untuk hari ini.
"Pak, Bu." panggil Genta.
Terlihat ibunya yang baru saja keluar dari kamar. Membawa nampan berisi piring kosong dan gelas yang isinya pun telah habis. Sepertinya, bapak baru saja selesai makan.
Genta menghampiri ibunya dan mencium punggung tangannya. "Gimana kondisi bapak?" tanyanya.
"Bapak sudah lebih baik. Sudah berobat juga. Sekarang lagi istirahat nak." ibu tersenyum dan membawa nampan itu ke dapur.
"Kamu ke sini, ingin jenguk bapak atau melihat Dewi?" goda ibunya. Genta menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Dua-duanya Bu." ucapnya malu-malu.
"Kasihan Dewi. Sejak kecil tidak merasakan kasih sayang seorang ayah, sekarang malah harus menerima keputusan ibunya." ibu menghela nafas kasar.
"Tapi, kalau ibu ada di posisi Bu Sofi, ibu juga lebih memilih berpisah." Genta yang merebahkan kepalanya di pangkuan sang ibu, bisa melihat jelas simpati dari ibunya itu untuk Sofi.
"Sebenarnya masalahnya apa sih Bu?" tanya Genta yang merasa penasaran dengan masalah yang menimpa Sofi dan Bram.
"Jika memang belum bercerai, kenapa harus benar-benar bercerai?" tanyanya kemudian.
"Lebih baik, kamu tanyakan langsung pada Bu Sofi. Ibu tidak berhak menceritakan masalah itu pada mu."Genta menganggukkan kepala.
"Oh iya, Kiara kemana?" tanya Genta yang tak melihat kehadiran adiknya itu. Seharusnya, Kiara sudah tidak ada kegiatan sekolah lagi. Tapi, dimana adik kecilnya itu?
"Dia sedang menemani Dewi." tutur ibunya.
"Mereka kemana?" tanyanya lagi.
"Taman hiburan." Genta tersenyum.
"Aku ke sana ya Bu." wajah Genta terlihat sendu. Jujur saja, ia begitu mengkhawatirkan Dewi. Ibunya tersenyum dan mengangguk.
Setelah berpamitan, Genta bergegas menuju taman hiburan. Dengan langkah lebar dan pasti, Genta menuju taman hiburan. Ia hanya menggunakan kemeja putih yang lengannya di gulung sampai ke siku dan celana bahan berwarna navy.
Tiba di taman hiburan, ia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Mencari keberadaan pujaan hati. Banyak gadis yang tengah menghabiskan waktu mereka melihat ke arah Genta.
Mereka saling berbisik dan memandang kagum pada pria itu. Genta pun melihat keberadaan Dewi bersama Sofi, Puspa dan Kiara. Pria itu pun tersenyum dan berjalan cepat menuju gadisnya.
Dewi yang sesekali tersenyum meski terpaksa, terkejut mendapati sebuah pelukan yang sangat ia rindukan. Aroma parfum maskulin pria ini sangat di kenalnya. Tangan yang melingkari bahunya dari belakang pun, sangat di kenalnya.
Sofi, Puspa dan Kiara yang melihat hal itu pun tersenyum dan memberi ruang bagi dua sejoli itu. Mereka memilih pulang dan mempercayakan segalanya pada Genta.
Genta mengusap sayang punggung Dewi. Ia biarkan Dewi menenggelamkan wajahnya di sana. Bahu Dewi mulai terlihat berguncang.
Genta sadar, kekasihnya tengah menangis. Ia menuntun langkah Dewi menuju taman. Kian lama, pelukan Dewi terasa semakin erat. Genta masih belum bersuara. Berkali-kali ia mengecup puncak kepala Dewi.
Isak tangispun terdengar. "Lanjutkan saja. Sampai kamu merasa lebih baik. Aku ada di sini bersamamu. Tapi setelah ini, aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi." uca Genta.
Selama sepuluh menit, Dewi terus menangis. Setelah itu, ia menatap wajah Genta. Pancaran matanya, mengatakan terimakasih. Genta menghapus sisa airmata yang membasahi pipi gadisnya itu. Serta mengecup dahinya.
Dewi tersenyum. Kekasihnya ini, sangat tahu apa yang tengah di butuhkan dirinya. Genta balas tersenyum padanya. Terlihat Dewi masih sesenggukan setelah menangis tadi.
"Sudah ya. Jangan menangis lagi." kembali Genta menarik Dewi ke dalam pelukannya.
"Terimakasih ya kak. Aku sekarang sudah lebih baik." ucap Dewi.
"Setelah ini, apapun yang kamu alami, datanglah padaku. Aku bersedia menjadi tempatmu mencurahkan airmata." Dewi mengangguk.
Genta pun mengajak Dewi berkeliling taman hiburan. Mereka menaiki semua wahana di sana. Saat malam hampir tiba, Dewi dan Genta segera pulang. Genta mengaitkan jemarinya dengan jemari Dewi.
Saat tiba di depan rumah, terlihat wajah Brian yang memerah menahan amarah. Dewi dan Genta saling pandang.
"Di tungguin, dari tadi rupanya kalian malah pacaran." ucapnya kesal.
"Sorry kakak ipar. Lupa kalau ada kakak ipar di sini." Brian mendelik kesal.
"Jangan panggil gue kakak ipar." matanya melotot kesal.
Dewi hanya tersenyum. Genta dan Dewi pun memasuki rumah di ikuti Brian. Mereka duduk di ruang tamu. Tak lama, Sofi pun ikut bergabung.
"Bagaimana perasaan kamu sayang?" tanya Sofi pada Dewi.
"Maafkan mama ya nak." ucapnya sendu.atanya terlihat berkaca-kaca menatap Dewi.
Brian dan Genta ikut bersedih melihatnya. Kembali Dewi menangis mendengar ucapan mamanya. Ia memaksakan sebuah senyum di bibirnya.
Genta menggenggam jemari Dewi menguatkan. Mendapati dukungan Genta, Dewi menganggukkan kepala tanpa berucap. Sofia, melihat ada luka dari mata Dewi.
Ia merasa bersalah. Tepatkah sudah keputusannya? Salahkah dirinya melangkah? Sofi menjadi bimbang.
Brian berjalan menghampiri Sofi dan memeluk wanita rapuh itu. Airmata Sofi segera membasahi pipinya melihat Dewi yang terluka karenanya.
"Ingat apa yang ku katakan?" ucap Genta seraya menarik Dewi ke dalam pelukannya. Dewi mengangguk dan menghapus airmata yang sempat menetes.
Meski hatinya terluka, tapi ia yakin mamanya jauh lebih terluka darinya. Gadis itu mencoba memahami perasaan sang mama.
Brian melihat, bagaimana Genta membuat Dewi tenang. Pria itu diam-diam tersenyum. Dalam hati dia yakin, Genta mampu membuat adiknya bahagia.
🌼🌼🌼🌼🌼
Malam sayang-sayang aku..... Happy reading....
Terimakasih buat kalian yang masih terus mendukungku
love you so much😘