My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Bramantio Wijaya #1



Aku Bram. Suami dari dua orang istri. Sofia dan Rianti. Aku menikah dengan Sofia sudah cukup lama. Empat tahun pernikahan, kami tak kunjung di percayakan momongan.


Segala cara sudah kami lakukan. Dari segala tes yang di jalani, kami berdua di nyatakan baik-baik saja. Mungkin memang Tuhan belum memberikan kepercayaan pada kami.


Dokter bilang, Sofia bisa hamil. Hanya saja, membutuhkan waktu jauh lebih lama dari wanita lain.


Di tahun ke empat, aku sudah benar-benar lelah. Aku sangat menginginkan kehadiran buah hati. Yang pasti, ia yang lahir dari diriku. Ku putuskan untuk menikah lagi. Aku membicarakannya pada Sofia.


Jujur, aku sangat mencintai Sofia. Dia adalah wanita yang selalu mendukungku. Bahkan, dia selalu menjadi penyemangat ku. Usahaku pun maju berkat dukungannya.


Sofia sangat sedih saat ku ucapkan ingin menikah lagi. Apalagi, setelah mendengar ku menuturkan alasan. Hatiku ikut sakit. Tapi egoku mengalahkan segalanya.


"Sayang, aku ingin menikah lagi." ku lihat wajahnya yang terkejut. Perlahan berubah menjadi sendu.


"Kenapa?" tanyanya. Air mata mulai membasahi pipinya.


Ku rengkuh ia dalam pelukku. Tangisnya pecah.


"Aku ingin memiliki anak." ia semakin terisak.


"Apa kau sudah tidak bisa bersabar lagi?" tanyanya terbata.


"Sampai kapan?" tanyaku. Di lepasnya pelukanku dan berlari. Aku tidak mengejarnya. Ku biarkan ia pergi.


Ku usap wajahku kasar. Ada penyesalan dalam hatiku.


Hingga satu Minggu kami tak juga bertemu setelah pembicaraan itu. Suatu malam, di perjalanan pulang dari kantor, ku lihat seorang wanita yang ganggu oleh pria-pria berpakaian preman.


Entah kenapa, aku turun dari mobil dan menolong wanita itu. Awalnya aku tak menyadari siapa wanita itu.


"Hei.... lepaskan dia." teriakku. Mereka menoleh.


"Gak ada urusan sama Lo. Pergi sana. Sebelum kami habisi Lo." ucap salah satu dari mereka. Wanita itu hanya diam.


"Kalian beraninya sama cewek. Lawan saya kalau berani." tantang ku.


Kami berkelahi. Beruntung aku memiliki ilmu bela diri yang mumpuni. Hingga dalam sepuluh menit, mereka lari meninggalkan wanita itu.


Wanita itu menghampiriku. "Terimakasih ya pak." aku terkejut mendengar suara itu. Aku menoleh cepat.


"Rianti?" ternyata ia sekertaris ku. Ia tersenyum lega.


Dia menceritakan kesulitannya dalam membayar hutang pada rentenir. Hingga mereka meminta rianti untuk menggantinya dengan dirinya. Dulu, ia terpaksa meminjam uang untuk biaya pengobatan ayahnya.


Aku merasa kasihan. Terbersit dalam benakku untuk membuatnya menjadi istri keduaku. Aku tahu, dia adalah wanita yang baik. Setelah aku mengutarakan keinginanku, Rianti tampak terkejut. Sedetik kemudian, ia mengatakan akan memikirkannya. Aku pun setuju.


Tiba di rumah, aku masuk ke dalam kamar tanpa menoleh kemanapun. Aku masuk ke dalam kamar mandi. Mengisi bath up dan membuka bajuku. Aku ingin berendam. Menghilangkan rasa lelah di tubuhku.


Selesai mandi, aku keluar. Aku di kejutkan dengan kehadiran Sofia.


"Apa aku sudah tidak berarti lagi untukmu?" tanyanya. Matanya menatapku tajam.


"Kenapa kau tidak pernah mencari keberadaan ku?" Sofia memang selalu mengatakan apa yang mengganjal di hatinya.


"Aku hanya tidak ingin bertengkar. Jika kau tidak ingin aku menikah lagi, katakan saja. Aku akan mencari jalan lain untuk mendapatkan keinginanku." ucapku tegas.


Sofia menghela nafas. Ku lihat raut wajahnya yang sedih. Ku bawa ia ke dalam pelukku. Aku merindukannya. Sangat merindukannya. Malam itu, kami habiskan dengan memadu kasih. Melepaskan kerinduan kami selama satu Minggu ini tak bertemu dan bersentuhan.


"Maafkan aku." ucapnya padaku. Ku eratkan dekapanku.


"Aku yang minta maaf." ucapku. Ku kecup keningnya.


"Aku mengizinkannya." ucapnya lirih. Aku terpaku. Sedikit tak percaya dengan yang ku dengar. Tapi aku yakin, dia membicarakan masalah beberapa waktu lalu.


Aku mendekapnya semakin erat. Bukan rasa bahagia yang menghampiri, justru hatiku terasa sangat sakit. Aku tahu, ini bukan keputusan yang mudah baginya.


Beberapa Minggu kemudian, Rianti menyetujui permintaanku. Ku pertemukan ia dengan Sofia. Setelahnya, mereka justru semakin dekat. Bahkan, Sofia yang menentukan kapan pernikahan berlangsung.


Dua bulan kemudian, sesuai kesepakatan antara aku, Sofia dan Rianti, hari ini akan berlangsung pernikahanku dan Rianti. Sesuai permintaan Rianti juga, pernikahan ini di lakukan secara tertutup tanpa resepsi.


Beberapa jam setelah menikah, Rianti ikut bersama kami ke rumah yang ku tempati bersama Sofia. Awalnya, Sofia meminta Rianti menempati kamar utama bersamaku. Namun, dengan tegas di tolak oleh Rianti. Pada akhirnya, kamar utama tetap di tempati Sofia. Aku yang akan mengunjungi mereka.


Belum genap aku menikahi Rianti dua bulan, dia sudah menunjukkan gejala kehamilan. Sofia membantunya. Wanita lembut itu. Entah terbuat dari apa hatinya itu. Ia sangat memperhatikan Rianti.


Rianti tengah mengandung anakku. Bukan aku tak tahu jika Sofia merasa iri. Iri, karena masih di tahun awal pernikahan, Rianti sudah di percayakan dengan kehadiran buah hati. Sementara dirinya, belum juga terlihat tanda-tanda kehamilan.


Sampai anak itu lahir, Sofia ikut membantu. Bahkan, Sofia juga menyayangi anak itu. Brian, nama anakku dan Rianti. Aku semakin merasa bersalah pada Sofia. Aku tahu, dia mengalami tekanan batin yang hebat karena hal ini.


Sepuluh tahun sudah pernikahan kami. Rasa bersalahku semakin menggunung terhadapnya. Saat ini, dia sedang tidak enak badan. Aku sudah berkali-kali memikirkannya. Aku akan melepaskannya. Dia berhak bahagia. Dia tak mungkin terus mengalami siksaan batin karena hal ini.


Ku datangi kamarnya dan ku berikan surat gugatan cerai. Dia menangis. Aku tak tega. Dia tak ingin bercerai. Terlebih aku yang tak ingin kehilangannya. Tapi aku juga tak ingin menyiksa batinnya. Ku tinggalkan dia.


Dalam pekerjaan pun, aku tak bisa berkonsentrasi. Pikiranku terpecah pada Sofia. Apakah aku salah mengambil keputusan? Apakah aku sudah keterlaluan? Aku sadar, aku sudah menyakiti hati wanitaku. Wanita yang paling sabar, lembut, baik hati dan penyayang itu. Tapi aku tak ingin semakin menyakitinya.


Esok hari, Sofia mendatangi kantorku. Sejak semalam, ia tak ingin melihatku. Aku pun tak ingin menemuinya. Aku takut, hatiku semakin goyah. Tapi hari ini, dia menemui ku.


Wajahnya masih pucat. "Ada apa Sofia, apa tunjangan yang kuberikan ada yang kurang?" tanyaku tanpa melihat ke arahnya.


"Lihat aku mas. Katakan kau sudah tak mencintaiku lagi." ucapnya dengan nada bergetar menahan tangis.


"Hem... Rasa cintaku padamu sudah tak ada. Sekarang pergi lah." ucapku. Ku tatap matanya untuk meyakinkannya.


Maafkan aku Sofi, sejujurnya aku masih sangat mencintaimu. Tapi aku tahu kau terluka karena belum bisa mewujudkan keinginanku dari dirimu sendiri. Maaf. aku hanya bisa mengucapkannya dalam hati.


"Kalau begitu, aku hanya ingin membawa mbok Narti bersamaku. Aku tidak butuh yang lainnya. Aku akan segera meninggalkan rumah itu. Aku pergi." ucapnya dengan meneteskan air matanya.


"Kemana kau akan pergi?" tanyaku.


"Kau tidak perlu mengetahuinya. Aku tidak akan datang ke sidang perceraian kita. Apa pun keputusan hakim, aku akan menerimanya." Sofi segera berlalu meninggalkanku.