My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Extra part: Mengunjungi



Matahari bersinar cerah pagi itu. Dua insan manusia, masih bergelung di bawah selimut. Lelah akibat pergulatan yang terjadi hingga tengah malam tadi, membuat mereka masih di buai mimpi.


Hingga mereka di kejutkan dengan gedoran pintu dan suara cempreng Kiara.


"Kakak.... Kakak ipar.... Cepat bangun ini sudah siang...." teriaknya dari balik pintu.


Dewi mulai mengerjakan kedua matanya. Mereka memang sudah kembali ke rumah Genta. Semalam, adalah malam pertama bagi mereka berdua tidur di rumah itu.


"Kak.... Ayo bangun. Sudah siang rupanya." Dewi membangunkan Genta dengan lembut.


"Jam berapa sayang?" tanya Genta masih dengan mata tertutup.


"Jam delapan." jawab Dewi.


"Gak apa-apa. Masih cuti ini." ucap Genta seraya menarik Dewi dalam pelukannya.


"Ih.... Aku sudah lapar kak." protes Dewi.


"Hemm... Oke." dengan perasaan tak rela pun, Genta melepaskan Dewi. Ia tak tega membiarkan istrinya itu kelaparan.


Dewi memunguti pakaian mereka yang berserakan di lantai. Untung saja, ada bathrobe yang tersampir di kursi meja rias. Dewi menutupi tubuhnya dengan itu. Maklum saja, dirinya masih merasa risih jika tak berpakaian meski di depan suaminya sendiri. Apalagi, mereka baru menikah dalam hitungan hari.


Dewi sudah selesai membersihkan diri saat Genta terlihat masih setia dengan mimpinya. Ia menghela nafas dan menggelengkan kepala.


"Kak..." panggil Dewi lembut.


"Hemm..." Genta hanya berdeham.


"Ayo bangun. Katanya kita mau ketempat mama..." Dewi mengguncang tubuh suaminya.


Genta memiringkan tubuhnya dan memeluk pinggang istrinya itu. Setelah itu, Dewi menyerahkan celana boxer untuk Genta pakai.


"Ini, pakai dulu." Genta terkekeh.


"Masih malu ya?" Genta sudah tertawa melihat wajah Dewi yang memerah. Ia sudah tahu apa jawaban dari istrinya itu.


Setelah memakainya, Genta turun dan melangkah menuju bathroom untuk membersihkan diri. Setelah selesai, mereka keluar bersama. Terlihat Kiara yang tengah duduk di ruang makan dan tengah memakan camilan yang tersedia di atas meja.


"Wuih... Pengantin baru..." ledek Kiara.


"Kia..." ucap ibu. Kiara hanya tersenyum.


"Dapat berapa ronde semalam sampe bangun siang banget?" bisik Kiara saat Dewi sudah duduk di sampingnya.


Wajah Dewi merona malu mendengar ucapan Kiara. Tanpa menjawab pertanyaan adik iparnya itu, Dewi memilih beranjak ke dapur dan membantu ibu menyiapkan sarapan.


Kiara terkekeh melihat ekspresi yang di tunjukkan Dewi. Wajahnya yang memerah malu, menjadi keasyikan tersendiri baginya.


"Bapak di mana Bu?" tanya Dewi pada ibu.


"Ada di belakang nak."


"Tumben kamu kesiangan?" tanya ibu.


"Kecapean Bu." jawab Dewi setengah meringis. Jujur saja, ia merasa tak enak hati.


"Gak usah gak enak begitu. Ibu ngerti kok." ibu mengusap punggung Dewi dan menampilkan senyum menenangkan.


*****


Bram tiba di apartemen di mana Sofia tinggal. Tiba-tiba saja, ia merasa jantungnya berdegup sangat kencang.


Kenapa aku merasa seperti anak muda saja? Tapi, aku ingat rasa ini. Dulu pun seperti ini rasanya. Bram bermonolog dengan dirinya sendiri.


Ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Seharusnya, Sofi sudah turun saat ini. Kenapa tidak terlihat?


Bram mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Pras. Tak lama kemudian, terdengar suara Pras di seberang sana.


"Halo."


"Pras, apa Sofi sudah tiba di kantor?" tanyanya tanpa basa-basi.


"Mana ku tahu. Aku sudah bukan asistennya lagi."


Ah... Benar juga. Kenapa aku lupa? Bram menekan pangkal hidungnya.


"Maaf. Aku lupa." tanpa menunggu jawaban Pras, Bram memutuskan sambungan telepon dan turun dari mobil. Ia memutuskan menemui Sofi ke unitnya.


Dewi:


Pa, hari ini Dewi dan Genta ingin mengadakan makan bersama. Papa datang ya. Di rumah Genta jam tujuh malam. Kak Brian, Kinan dan mama sudah Dewi beritahu.


Bram tersenyum membacanya. Kemudian, jemarinya mulai menari dengan indah mengetikkan kata demi kata.


Bram:


Oke. Papa akan datang. Apa, papa perlu membawa buah?


Jawaban yang masuk, tak butuh waktu lama.


Dewi:


Tidak usah pa. Papa datang saja, Dewi sudah senang.☺️


Bram tak membalas lagi, karena lift yang di masukinya sudah berhenti di lantai yang ia tuju. Dengan langkah lebar, ia menuju unit yang di tempati Sofia. Ia pun menekan bel.


Tak lama, terlihat mbok Narti yang membuka pintu. Wanita yang usianya lebih tua beberapa tahun dari Sofia dan Bram itu tersenyum.


"Silahkan masuk tuan." mbok Narti membuka pintu lebar.


Bram balas tersenyum dan melangkah masuk. "Sofi ada mbok?" tanya Bram saat ia sudah duduk di sofa.


"Ada. Tunggu sebentar, biar si mbok panggilkan." mbok Narti segera melangkah menuju kamar Sofi.


Tak lama, Sofi keluar dengan cara terpincang-pincang. Bram mengernyitkan dahinya kala melihat itu. Refleks, Bram berdiri dan membantu Sofi berjalan.


"Ada apa dengan kakimu?" tanyanya setelah membantu Sofi duduk.


"Hanya keseleo." jawab Sofia.


"Sudah panggil tukang urut?" Sofi mengangguk.


Entah mengapa, tangan Bram mengangkat kaki Sofi yang sakit ke atas. Kemudian, ia menarik celana panjang yang di gunakan Sofia sampai betis.


"Kamu mau ngapain mas?" tanya Sofia heran


Bram tak menggubrisnya. Ia mulai memijit pergelangan kaki Sofi yang terlihat bengkak dan memerah.


"Sudah di kompres?" tanyanya.


"Sudah tadi malam." jawabnya dengan menahan sakit karena Bram sudah mulai menekan bagian pergelangan kakinya yang membengkak.


"Mbok, tolong bawakan es untuk mengompres." teriak Bram.


Kemudian, Bram tak lagi memperhatikan Sofia dan hanya fokus pada pergelangan kakinya yang bengkak. Tak lama, mbok Narti membawa apa tadi minta Bram tadi.


Kenapa kau jadi perhatian begini mas? gumam Sofi dalam hati.


Bram terus mengompres dan sesekali memijitnya. Hingga kemudian, bengkak di pergelangan kaki Sofia pun mulai mengempis.


"Bagaimana?" tanya Bram.


"Sudah lebih baik. Terimakasih mas." ucap Sofia.


"Oh iya, ada apa kau kemari?" tanya Sofia ketika ia teringat pertanyaan 6ang sebelumnya muncul dalam benaknya.


"Tidak ada. Hanya mampir saja." jawab Bram.


"Bagaimana, jika kita pergi bersama ke rumah Genta?" tanya Bram.


Sofia mengerutkan keningnya bingung. Tak lama kemudian, ia ingat pesan yang di kirim Dewi padanya pagi tadi.


"Oh... Tidak perlu mas. Kau pergi bersama Kinan dan Brian saja. Aku bisa sendiri." jawab Sofia.


Ada perasaan kecewa saat Sofia menolak ajakannya. Sofia bisa melihatnya dari sorot nata Bram. Karena itu, Sofia langsung membuang pandangannya.


Baiklah. Ini masih awal Bram jika kau ingin menyerah. Semangat lah Bram. Jangan berkecil hati. gumamnya menyemangati dirinya sendiri.


"Oke. Tidak apa. Kalau begitu, aku pergi dulu." Bram bangkit berdiri dan menatap Sofia dengan senyum sebelum ia meninggalkannya.


Sofia menghembuskan nafas kasar setelah Bram tak lagi terlihat. Ia seperti sudah menahan nafas sejak tadi. Berada satu ruangan dengan Bram, membuatnya sedikit tak nyaman.