My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Penyesalan



"Boleh aku bertanya?" tanya Bram. Pria itu berdiri tepat di belakang Rianti. Rianti sendiri hanya diam tak berbicara.


Bram mulai bertanya pada Rianti mengenai pernyataan Sofia beberapa bulan yang lalu. Wajah Rianti semakin pucat. Beberapa kali ia meremas jemarinya. Sangat terlihat rasa takut di hatinya.


Bram terus meminta Rianti berbicara. Kali ini, Bram bahkan membentaknya. Tanpa mereka sadari, Brian dan Kinanti mendengar semua ucapan itu. Mereka masih di sana.


"Kenapa kau diam saja? Apa semua itu benar?" ucap Bram lirih.


Bram kehabisan cara untuk memaksa Rianti bicara. Wanita itu tetap saja diam membisu. Sedikitpun, Rianti tak menanggapi ucapan Bram. Bram menghela nafas kasar.


"Aku butuh kejujuran mu Rianti. Tolong beritahu aku." Rianti bergeming.


"Rianti, kau berubah. Aku tak lagi mengenalmu. Aku bahkan tidak tahu apa maksudmu melakukan itu." Bram berbalik meninggalkannya.


Brian dan Kinanti segera meninggalkan tempat itu segera setelah Bram berbalik. Mereka ikut merasa kecewa mendengar wanita yang melahirkan mereka melakukan itu pada seorang anak yang juga anak dari ayahnya.


Benarkah wanita itu ibu kandung mereka? Mengapa ia begitu tega?


"Kak, apa yang tadi itu benar?" tanya Kinanti. Airmatanya sudah mengalir membayangkan jika dirinya ada di posisi Dewi.


Brian memeluknya dan mengusap rambut sang adik. Sama seperti Kinanti, ia tak bisa membayangkan seperti apa hancurnya hati Dewi.


"Kakak gak tahu dek. Sebaiknya, kita bertanya pada mama, Dewi atau mana Sofi sendiri." lirih Brian.


Pada akhirnya, Kinanti dan Brian memilih bicara langsung pada Dewi. Mereka bertemu di cafe. Tempat dimana Genta dulu bekerja. Malam ini usai bekerja, mereka berjanji bertemu di sana.


****


Sudah beberapa hari ini, wajah Brian terlihat murung. Padahal akhir Minggu kemarin, Brian terlihat senang karena kedatangan adiknya Kinanti.


Genta ingin bertanya, namun ia urungkan. Ini bukanlah tugasnya. Ia yakin, jika Brian ingin bicara, maka ia akan bicara.


"Pak, saya sudah menyelidiki nona Patricia. Sepertinya, tujuan gadis itu adalah untuk balas dendam. Saya dengar, nona Patricia bahkan sudah membuat nona Jasmine mengalami kecelakaan tanpa tertangkap." jelas Genta.


Genta menoleh setelah beberapa menit yang lalu ia menerangkan penyelidikannya pada Brian. Tapi sayangnya, Brian tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Genta akhirnya hanya bisa menghela nafas lelah. Begitupun Bagas yang berada di mobil yang sama. Entah apa yang tengah di pikirkan Brian.


Tiba di gedung Wijaya Group, Brian tak seperti biasanya. Ia mengabaikan semua sapaan para pegawainya. Raut wajahnya bahkan berubah dingin. Saat menunggu lift, ia bahkan tak menoleh sedikitpun pada Cindy yang ada di sebelahnya. Ia sangat acuh.


Cindy merasa sedikit tenang saat melihat sikap Brian pagi ini.


Wah, gue selamat hari ini. Mudah-mudahan saja, dia gak ngajak gue makan siang bareng hari ini. doanya dalam hati.


Hingga sore menjelang, Brian tenggelam dalam pekerjaannya. Ia bahkan tak bernafsu makan.


Di kediaman Wijaya, kondisi serupa di alami oleh Kinanti. Kinanti tak beranjak dari kamarnya sedikitpun. Kamar yang tak pernah di kunci, kini terkunci seharian.


Rianti berusaha membujuknya. Namun Kinanti tak juga membuka pintu kamarnya. Ia tak tahu apa yang terjadi. Sejak Brian dan Kinanti kembali kemarin, mereka tak sedikitpun menyapa Rianti.


Jangan tanya bagaimana dengan Bram. Ia benar-benar menghindari Rianti. Berusaha untuk tak bertemu. Rianti merasa di acuhkan.


Ada sesuatu yang membuat d***nya terasa sesak. Jika Bram menjauhinya, ia bisa mengerti penyebabnya. Tapi dengan anak-anaknya, ia tak mengerti.


Rianti berdiam di kamarnya. Airmatanya mengalir mendapati kedua anak dan suaminya menjauhinya. Ia menangisi takdir yang harus di laluinya.


Sepertinya, mereka tengah membicarakan sesuatu yang begitu penting. Rianti sengaja bersembunyi di balik dinding dan mendengarkan semua pembicaraan mereka.


"Jadi, papa akan menceraikan mama?" tanya Kinanti. Gadis kecil itu tak kuasa menahan laju airmatanya. Ia terisak setelah mendengar pernyataan ayahnya.


"Maafkan papa nak. Tapi papa sudah tidak bisa bertahan lagi. Kasihan juga mamamu. Dia pasti tersiksa dengan kondisi ini." ucap Bram sendu.


Bram menarik Kinanti kedalam pelukannya. Ia mengecup puncak kepala Kinanti berkali-kali.


"Setelah itu, apa papa akan kembali pada mama Sofi dan mengganti semua waktu yang hilang pada mama Sofi dan Dewi?" tanya Brian. Matanya menatap tajam pada Bram.


Bram menarik nafas dalam. "Sejujurnya papa menginginkan hal itu. Tapi papa tahu, hal itu mustahil. Sekalipun mama Sofi mu sudah memaafkan papa, tapi dia tidak akan pernah mau kembali pada orang yang sudah membuatnya kecewa." tutur Bram.


"Jadi?" tanya Brian tak mengerti.


"Entahlah nak. Papa pun tak tahu."


"Kau benar mas. Semua ini salahku. Aku hanya bisa minta maaf pada kalian. Seharusnya, aku sadar, tidak seharusnya aku menjauhi mu dari Dewi. Seharusnya aku tahu bagaimana perasaan mbak Sofi dan Dewi." Rianti tersedak airmatanya.


"Tapi aku terlalu egois. Aku tak rela berbagi dirimu. Aku terpengaruh oleh ucapan almarhum ayahku. Dimana saat itu yang ku tahu kau sudah bercerai dari mbak Sofi. Maaf.. aku sungguh-sungguh minta maaf..." Kinanti bangkit dan memeluk Rianti. Ia menangis dan merasa bersalah sudah mendiamkan mamanya sejak kemarin malam.


Brian ikut meneteskan airmata. Begitupun Bram.


"Semua yang terjadi di keluarga ini, masih ada andilku. Jika bukan karena keegoisanku yang memandang pentingnya keturunan, aku tidak akan melukai kalian. Maafkan aku." ucap Bram sendu.


"Ya, semua salah papa. Papa adalah pria paling egois yang pernah ku kenal. Bagiku, sikap papa yang seperti ini adalah sikap seorang b*********." ucap Brian dengan mengetatkan rahangnya.


Bram menundukkan kepalanya bersalah. Ia merasa tak layak mendapatkan maaf dari keluarganya. Sudah terlalu banyak kesalahan yang di buat nya. Entah bagaimana caranya dia menebus semua kesalahan itu.


Bram pun meninggalkan kediamannya tanpa sepatah kata. Brian, Rianti dan Kinanti, hanya memandang punggung pria itu yang semakin menjauh.


*****


Sudah lebih dari satu bulan sejak kepergian Bram. Surat gugatan cerai pun sudah di terima Rianti. Namun, hingga kini Bram belum juga menginjakan kakinya di rumah itu. Bahkan, menampakan batang hidungnya pun tidak.


Pria itu menghilang begitu saja bak di telan bumi. Dewi sudah mendengar semua yang terjadi di rumah itu. Hati nya terasa sakit saat mengetahui hal itu. Sofia sendiri merasa jiwanya kosong. Rianti, merasa sedikit cemas pada Bram.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Hai-hai genks....


Maaf jika part ini feel-nya gak dapat ya. Beberapa hari ini juga gak sempat nulis.


Semoga bisa mengobati rindu kalian ya. Hari ini, babang Genta cuma numpang lewat saja.


Terimakasih buat kalian yang masih setia dengan novelku.....


Sehat-sehat buat kita semua. Jangan lupa likenya, dan komennya ya. votenya dan bunganya juga boleh.... #ngarep.com.


🀭🀭🀭🀭


Love you genks.....