My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Kabar Mengejutkan



Di negara lain.


Bram duduk termenung menatap pemandangan di hadapannya. Melihat bunga-bunga yang beraneka warna dan rupa, mengingatkan dirinya pada Sofia.


Entah mengapa, jantungnya berdegup cepat hanya dengan mengingat wajah Sofia. Bram memegang dadanya. Merasai setiap detakan yang timbul. Senyumnya terbit tepat ketika Rianti menghampirinya.


"Mas kenapa senyum-senyum?" hening. Rianti mengibas tangannya ke hadapan Bram.


Rianti mengernyit heran. Dalam hati ia bertanya, apa yang tengah di pikirkan suaminya itu. Bram benar-benar tenggelam dalam lamunannya.


Wajah Sofia, tawanya, dan senyumnya terlintas dalam benak Bram. Entah mengapa, masa lalu yang pernah di jalaninya bersama Sofia kembali berputar. Masa lalu yang begitu indah dan penuh cinta.


Rianti pun membiarkannya. Wanita itu belum pernah melihat wajah Bram seperti saat ini. Wajah yang tiba-tiba berbinar dan memancarkan kebahagiaan. Selama ia mendampingi Bram, tak pernah sekalipun rona wajah Bram yang seperti itu terlihat.


Rianti tak berburuk sangka sedikitpun. Justru ia ikut senang melihat wajah itu. Rianti memandangi wajah itu beberapa saat. Mereka tenggelam dalam lamunan masing-masing.


Hingga lamunan mereka terpecah saat mendengar suara Kinanti.


"Mama.... Papa...." panggil Kinanti dengan sedikit berteriak.


Rianti pun segera berdiri menghampiri putri kecilnya. Bram terbangun dari lamunannya dan sempat melihat rona wajah Rianti yang terlihat malu-malu. Bram mengangkat kedua alisnya.


Saat Kinanti menghampirinya, Bram tersenyum dan kembali pada sikapnya yang biasa. Rianti yang melihat perubahan itu merasakan keanehan. Ingin sekali Rianti menanyakannya.


"Kamu senang banget de. Ada apa?" akhirnya, Rianti menahan rasa penasarannya. Ia mengubah wajahnya dan tersenyum.


"Minggu depan sudah masuk masa liburan. Kita kembali ya." Bram tampak berpikir.


"Kamu libur itu kan tidak lama nak. Nanti saja saat kelulusan. Lebih panjang liburnya." ucap Rianti seraya memeluk Kinanti dan mengusap rambut panjang putrinya.


"Oke. Sekalian papa mau melihat kerja kakakmu. Jangan sampai kejadian beberapa bulan lalu terulang kembali." ucap Bram dengan rahang mengetat.


"Mas, mungkin saat itu Brian sedang banyak pikiran." bela Rianti.


"Apa tidak nanti saja mas kita kembali?"


"Pikiran apa. Kau tahu, putramu itu menurunkan jabatan Genta. Aku tak mengerti jalan pikirannya." Bram mengurut dahinya.


"Tidak apa. Mungkin Kinan merindukan Brian. Mereka sudah lama tak bertemu. Brian juga sangat sibuk dan tak bisa mengajukan cuti sembarangan." tutur Bram.


"Benar ya pa kita pulang?!" Bram mengangguk. Kinanti melompat kegirangan.


Maaf Rianti. Sebenarnya aku ingin kembali karena merindukan Sofia. Bukan karena keinginan Kinan. Hah.... Apa aku harus memaksanya kembali padaku? Atau kukatakan saja yang sebenarnya, jika kami belum bercerai? batin Bram.


Bram pun berencana akan menemui Sofia saat kembali nanti.


•••••••••


Hari yang di tunggu pun tiba. Bram, Rianti dan Kinan segera bertolak kembali ke negara sendiri. Lebih dari sepuluh jam waktu mereka tempuh.


Hingga keesokkan harinya, mereka tiba di tanah air. Supir pribadi Bram sudah menanti kedatangan mereka. Setelah mereka masuk ke dalam mobil, mobil segera melaju meninggalkan bandara dan menuju kediaman Wijaya.


Saat mobil mereka memasuki gerbang, terlihat Brian dan Genta yang juga baru tiba. Brian dan Genta menoleh pada mobil milik Bram.


Bram, Rianti dan Kinanti segera turun. Kinanti berlari memeluk kakaknya. "Kinan kangen kakak." Brian balas memeluk Kinanti.


"Kok gak bilang kakak kamu pulang? Kan bisa di jemput kakak." Brian merapihkan anak rambut Kinan yang berantakan.


Genta tersenyum melihat gadis yang pernah ditemuinya bersama Dewi di cafe. Kinanti menoleh dan melihat Genta. Gadis itu terkejut melihat keberadaan Genta di rumahnya.


"Loh kak Genta kok di sini?" Brian menatap Kinanti dan Genta bergantian. Bram dan Rianti menghampiri mereka.


"Saya bekerja dengan kakakmu sekarang." Bram dan Rianti saling pandang.


"Iya ma. Kak Dewi yang kenalin aku sama kak Genta." jawabnya.


"Dewi?" ucap Bram dan Rianti bersamaan. Brian menepuk dahinya. Ia lupa belum memberitahu papa dan mamanya tentang hubungan Dewi dan Genta.


"Aku lupa kasih tahu papa dan mama." lirihnya.


"Kasih tahu apa?" selidik Rianti.


"Kakak sudah tahu ya." Brian mengangguk.


"Kalian ngomongin apa sih? Papa dan mama tidak mengerti. Coba bicara yang jelas." pinta Bram.


"Papa, kak Genta ini pacarnya kak Dewi." tutur Kinanti.


"APA??" Bram dan Rianti membelalakkan kedua matanya tak percaya.


"Mereka bahkan akan segera bertunangan saat Dewi lulus SMA nanti." imbuh Brian. Bram dan Rianti semakin terkejut, sementara Kinan terlihat senang.


"Benarkah?" Genta tersenyum dan mengangguk.


"Wah... Selamat ya kak." Kinanti mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan Genta. Genta pun menjabatnya.


"Hah.... Di anggap apa aku oleh kalian? Kenapa baru sekarang aku di beritahu." geram Bram.


Bram menatap tajam pada Brian dan Genta. Mereka hanya bisa menundukkan kepala merasa bersalah.


"Maafkan saya pak." ucap Genta tulus.


"Maaf kamu bilang? Saya ini ayah kandung Dewi. Tapi apa kamu pernah membicarakan hal ini pada saya? Saya tidak terima di perlakukan seperti ini." wajah Bram memerah menahan amarah.


Bram meninggalkan mereka yang masih terdiam membeku. Tak percaya dengan pendengaran mereka. Rianti tersadar lebih dulu dan segera menyusul suaminya.


Brian menghela nafas. Kinanti menatap iba pada Genta. Genta sendiri menatap kosong. Ia tak percaya di tolak oleh Bram. Salahnya memang yang tak memberitahu Bram lebih dulu. Tapi ia benar-benar lupa saat itu.


Ia begitu fokus dengan permasalahan yang terjadi dengan Brian. Hingga ia lupa untuk meminta restu dari Bram. Ia merutuki dirinya sendiri.


Brian menepuk pundak Genta. "Sabar bro. Gue yakin Lo bisa meyakinkan papa. Santai saja. Kalau papa gak merestui, mama Sofi pasti akan bertindak." ucap Brian.


Seketika Genta kembali ke dunia nyata."Terimakasih pak." ucap Genta.


"Sabar ya kak. Aku yakin papa hanya merasa terkejut. Papa pasti akan setuju." Kinanti memberi semangat. Genta tersenyum pada Kinanti.


Genta yang sempat merasa down, kini kembali bersemangat dan meyakinkan dirinya sendiri, jika Bram, akan merestui hubungannya dengan Dewi.


Ya dia yakin. Cinta Genta pada Dewi yang tulus, akan membuat Bram menerimanya. Sekali lagi Brian menepuk pundak Genta dan berlalu meninggalkannya bersama Kinanti.


Sesekali, Kinanti menoleh ke belakang saat berjalan bersama Brian. Genta pun berusaha kembali ke dunia nyata dan menyemangati dirinya lagi dan lagi.


Genta memilih pulang alih-alih bicara pada Bram. Pria itu merasa, ini bukan saat yang tepat. Saat ini, amarah Bram tengah meledak-ledak. Berkali-kali Genta mengusap d**anya. Meminta hatinya untuk bersabar dalam ujian cintanya.


🌼🌼🌼🌼🌼


Akhirnya Bram tahu juga.... Apa yang terjadi selanjutnya?


Jangan lupa like, komen dan votenya ya sayang²ku. Biar aku semakin semangat.


Maaf baru up. Kemarin seharian sibuk.


Love you so much😘