My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Extra part: Pertunangan Brian dan Cindy



Beberapa hari kemudian, Kiara sudah di perbolehkan pulang. Untuk sementara, Kiara dan Randy tinggal di kediaman orangtua Randy. Sebenarnya, ibu dan Dewi tidak keberatan jika Kiara tinggal bersama di rumah yang ditinggali Dewi dan Genta juga.


Tepat di hari kepulangan Kiara, adalah hari pertama Genta dan Dewi kembali bekerja. Jadi malam itu, bapak dan ibu memutuskan menginap di kediaman besannya itu.


Sejak itu pula, Bram selalu mengirimkan buket bunga pada Sofia. Bukan hanya itu, Bram juga selalu mengirimkan pesan romantis ke ponsel Sofia. Sofia merasa ke masa awal bertemu Bram. Namun ia segera menepiskan pikiran itu.


Bram, berhenti mengirimi ku buket bunga dan pesan romantis seperti ini. Kita bukan hidup di usia dua puluhan lagi. Apa kau tidak merasa geli?


Sofia mengirimkan pesan itu pada Bram. Tak lama kemudian Bram membalas pesannya.


Tidak. Jika kau tidak suka, akan ku ganti dengan setangkai mawar. Dan akan ku kirim setiap jam padamu.


Sofia memijit pelipisnya lelah. Ia lelah menghadapi sifat kekanakan Bram. Juga keras kepala mantan suaminya itu. Di saat itu, pintu ruangannya di ketuk. Ia pun menyuruh orang yang mengetuk ya masuk.


"Dave..." seru Sofia.


Dave tersenyum. Menampilkan jajaran giginya yang rapih dan putih bersih.


"Sibuk?" tanyanya. Sofia menggeleng.


"Ada apa dengan wajahmu?" tanyanya saat melihat wajah Sofia tang terlihat kesal sekaligus lelah.


Sofia terdiam. Tidak mungkin dirinya menceritakan segala sesuatu pada Dave bukan? Meskipun mereka sudah sepakat menjadi teman tujuh tahun yang lalu.


"Ayolah. Berbagi tidak akan merugikan mu. Mungkin aku bisa bantu." ucap Dave.


"Tidak terimakasih."


"Apa ini tentang Bram?" tanyanya setelah menelisik ruangan Sofia dan menemukan buket bunga yang berjajar di meja yang ada di sudut ruangan.


Sofia masih diam tak menjawab. Sulit sekali rasanya menyembunyikan sesuatu dari Dave. Pria di depannya ini, sudah seperti peramal.


"Kau mau buka toko bunga?" ejeknya pada Sofia.


Sofia mengernyitkan dahinya bingung. Sampai Dave menunjuk meja di ujung ruangannya, baru Sofia mendesah lelah. Dave menahan senyumnya.


"Itu karena Bram yang mengirimnya." lirih Sofia.


"Kau tidak suka?" Sofia menatap Dave sengit.


"Kau pikir aku ABG?" Dave pun terkekeh mendengar jawaban Sofia.


"Harusnya, Bram mengirimkan bunga bank padamu. Ku jamin, wajahmu pasti akan tersenyum bahagia." Sofia kembali menatap tajam lawan bicaranya itu.


Sepertinya, baik Bram maupun Dave, sama menyebabkannya.


"Oh iya, aku lupa. Uang mu jauh lebih banyak darinya." ucapnya seraya menepuk dahinya.


"Keluar dari ruangan ku sekarang." usir Sofia. Jari telunjuknya sudah menunjukkan letak pintu.


Dave mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Sebelum benar-benar keluar, Dave mengucapkan sesuatu yang membuat Sofia semakin geram.


"Kalau kau ingin Bram berhenti, terima lagi saja dia." Dave segera keluar dengan cepat dengan tawa yang terbahak.


Ingin rasanya Sofia melemparkan sesuatu ke kepala Dave. Rasanya harinya semakin buruk saja. Ia mengambil ponsel dan menghubungi Pras. Tak lama, Pras mengangkat ponselnya.


"Kau mengganggu waktu kebersamaan ku dengan cucuku." ucapnya to the point.


"Maaf. Bagaimana cucumu? Apa dia sehat?"


"Galak sekali..." di seberang sana, Pras segera terbahak mendengar gumaman Sofia.


"Baiklah... Katakan ada apa?" ucap Pras melembut.


Sofia pun menceritakan kejadian Bram yang mengiriminya bunga dan pesan romantis. Serta ucapan Dave padanya.


"Ku rasa Dave benar. Kau harus memberikan kepastian padanya. Jika kau ingin kembali, katakan saja. Namun jika tidak, kau pun harus melakukannya. Atau dia akan terus meneror mu seperti itu."


Sofia pun mulai memikirkan ucapan Pras. Memang, selama ini hanya Pras yang selalu mendukung keputusannya tanpa harus menyalahkannya jika pada akhirnya, keputusan itu menyakitinya.


*****


Tiga bulan kemudian, Brian dan Cindy mengadakan lamaran. Sama halnya seperti Dewi dan Genta dulu, mereka pun mengadakan pertunangan di ballroom hotel.


Sofia pun harus ikut karena permintaan dari Brian. Sofia memang belum memutuskan akan menerima atau menolak Bram. Selain kendala pekerjaan, Sofia pun sempat melupakan kejadian itu.


Malam ini, Sofia terlihat anggun dengan balutan gaun panjang berwarna krem dan bahu tertutup. Wajahnya yang memang sudah terlihat cantik, tak lagi di poles secara berlebihan. Meski usianya sudah menginjak lima puluh tahun, namun tak terlihat menua.


Bram mendekatinya dan berbisik di telinganya. "Kamu cantik malam ini." pujinya.


"Bintang malam ini bukan aku. Tapi Cindy. Jadi tidak perlu berlebihan." ucap Sofia lirih.


"Tapi, kau bintang di hatiku." Sofia menatap jengah. Ia segera menyingkir ke tempat lain.


Di tempat yang sama, Dewi tengah berbincang dengan Cindy, dan Kiara. Sepertinya, Dewi tidak terlalu memperhatikan obrolan dan banyak diam.


Sejak pagi, perutnya selalu bergejolak, namun tak bisa ia muntah kan. Kepalanya mendadak pusing. Sekuat tenaga ia menahannya. Ia sengaja merias wajahnya lebih tebal dari biasanya, untuk menutupi wajah pucat nya.


Tak lama, acara tukar cincin pun di mulai. Brian dan Cindy pun segera melakukan prosesi itu dengan rona wajah bahagia.


Genta menghampiri Dewi dan memeluk pinggang istrinya itu. Dewi tersenyum menatap Genta.


"Kami sakit?" tanya Genta saat melihat wajah Dewi terlihat berbeda. Dewi hanya menggeleng pelan.


Jujur saja, dirinya masih berusaha bertahan. Meski tungkainya sudah terasa lemas.


"Istirahat di sana ya." ajak Genta. Dewi mengangguk.


Mereka menuju kursi terdekat dari tempat mereka berdiri. Sofia berdiri di dekat Brian dan Bram. Sementara Kinanti bergabung dengan Kiara dan yang lainnya.


Kiara melihat ke arah Dewi dan Genta. "Seperti nya Dewi sakit." ucap Kiara. Serempak, Kiara dan Randy melihat ke arah yang sama dengan Kiara.


"Iya kak. Apa perlu kita beritahu mama Sofi?" tanya Kinanti.


"Kita ke sana dulu. Jangan merusak acara kak Brian dan kak Cindy." ucap Kiara.


Mereka pun melangkah mendekati Genta dan Dewi. Genta mengambil segelas air putih dan meminta Dewi meminumnya. Dewi menolaknya. Tubuhnya terasa semakin lemas dan tak bertenaga.


Terdengar riuh tepuk tangan setelah Brian menyematkan cincin ke jari Cindy. Bertepatan dengan itu, Kiara, Randy dan kinanti tiba di hadapan Dewi dan Genta.


Sayangnya, Dewi pun kehilangan kesadarannya. Genta segera memegangnya.


"Tolong kakak. Jangan sampai terjadi ribut-ribut dulu. Kakak gak enak sama kak Brian dan Cindy. Biar kakak saja yang membawa Dewi ke rumah sakit." ucap Genta pada mereka bertiga.


Untung saja, baik Kiara maupun Kinanti tak berteriak. Mereka pun menyetujui permintaan Genta. Genta segera membawa Dewi ke rumah sakit.


Saat Genta membawa Dewi, semua orang tengah fokus pada Brian dan Cindy. Beruntungnya, mereka duduk disudut ruangan dan dekat dengan pintu keluar. Sehingga mempermudah Genta keluar dengan cepat.