
POV Dewi
Hari ini, aku punya janji temu dengan kak Brian di cafe. Cafe itu sangat ku kenal. Karena dili, aku pernah ke sana bersama Kinanti. Cafe tempat kak Genta bekerja dulu. Setelah kemarin kak Genta memberiku cincin, aku merasa perlu bicara pada kak Brian.
Aku terus berpikir, bagaimana caranya aku memperkenalkan Genta pada kak Brian? Aku benar-benar tidak tahu. Sebenarnya, aku lebih merasa takut saat Genta ku perkenalkan pada papa daripada kakak.
Setelah kak Genta pergi mengantar bapak dan ibu, aku segera bersiap-siap untuk bertemu kak Brian. Aku berpamitan pada mama dan kedua sahabatku. Aku mendatangi kamar mama yang terbuka. Ku ketuk pintunya.
Tok... Tok... Tok.... Mama melihat ku dan tersenyum. Aku melangkah masuk.
"Ma, aku pergi ketemu kak brian dulu ya." pamit ku.
"Iya sayang. Sudah janjian?" tanya mama.
"Sudah ma." jawabku. Aku pun mencium punggung tangan mama dan menemui kedua sahabatku.
Aku duduk di samping Kiara. Kiara yang melihat ku berpakaian rapih pun bertanya.
"Kamu mau kemana wi? Kok gak ngajak kita?" tanya Kiara.
"Aku mau ketemu kakak aku." Kiara dan Puspa saling pandang.
"Kenalin dong ke kita." pinta Puspa. Aku tersenyum.
"Mau ikut?" mereka mengangguk.
"Ayo." Puspa dan Kiara segera berlari ke kamar dan bersiap-siap.
Setelahnya, mereka pun berpamitan pada mama. Kami pun berangkat bersama. Ku lihat raut wajah bahagia mereka.
"Kakak kamu cewek app cowok wi?" tanya Kiara.
"Cowok." kulihat wajah mereka terlihat bersemangat dan senang.
"Ganteng gak?" tanya Puspa. Aku hanya mengangguk.
Kiara dan Puspa sudah terlihat senang. Sepanjang perjalanan mereka terlihat antusias untuk bertemu kak Brian.
Tiba di sana, Kiara dan Puspa tidak jadi mengikutiku. Sepertinya ada yang menarik perhatian mereka.
"Wi, kita gak jadi ikut ketemu kakak kamu ya. Aku sama Kiara mau ke sana. Nanti kalau sudah selesai, telepon ya." ucap Puspa. Aku hanya mengangguk.
Aku sempat heran dengan keputusan mereka. Hingga ku lihat arah yang mereka tuju. Rupanya ada jumpa fans dengan artis ternama di mall yang tidak jauh dari cafe ini. Kebetulan, Puspa dan Kiara adalah penggemar dari artis itu. Pantas saja mereka lebih memilih ke sana di bandingkan bertemu kakakku.
Biarlah. Biar mereka senang. Aku melangkah masuk dan memilih duduk di meja dekat jalan. Aku memesan ice coffe dan tiramisu cake kesukaanku.
Ku buka ponselku dan mengirimkan pesan pada kakakku, bahwa aku sudah sampai. Setelahnya, ku kirim pesan pada Puspa dan Kiara, agar mereka menungguku di mall itu. Urusan mengirim pesan selesai.
Tak lama, kak Brian tiba. Ia meminta maaf atas keterlambatannya dan memesan untuk dirinya. Sambil menikmati pesanan kami, kami saling menanyakan kabar. Aku menanyakan papa, Kinanti dam juga mama Rianti. Begitupun kak Brian yang bertanya tentang kondisi mama.
Kak Brian yang sudah tahu kami sedang di ibu kota meminta alamat kami. Namun, aku tak berani memberitahunya.
"Kamu sama mama tinggal dimana kalau lagi ke sini?" tanya kak Brian.
"Aku gak bisa kasih tahu kakak. K
Lebih baik kakak bertanya pada mama saja." dia menghela nafas.
"Masa kakak gak boleh tahu sih?" ku lihat wajahnya terlihat sedih dan memelas. Tapi aku sungguh tak bisa memberitahunya.
"Maaf." hanya kata itu yang terucap.
Aku masih menata banyak kata dalam pikiranku untuk menyampaikan tentang kak Genta pada kak Brian. Dia seperti membaca pikiranku.
"Kak, pacar aku ingin melamar ku." ia tampak terkejut.
"Dia sudah mengatakannya pada mama. Dan kami akan bertunangan setelah aku lulus SMA." lanjut ku.
Ia melipat tangannya di dada. Menatapku intens dan membuatku merasa salah tingkah. Aku hanya tersenyum menunggu jawabannya. Entah apa yang dipikirkannya.
"Papa sudah tahu?" aku hanya menggeleng.
"Kenapa kamu kasih tahu kakak dulu?" aku diam tak bisa menjawab.
"Pria itu sudah bekerja?" aku mengangguk
"Kerja apa?" kembali aku menggeleng. Dia menghela nafas ku dengar.
"Kalau begitu, kenalkan pada kakak. Setelah kakak kenal, baru kita beritahu papa. Tinggal satu tahun lagi kamu lulus SMA." aku tersenyum
"Iya kak." kami melanjutkan perbincangan.
Setelah puas mengobrol, kak Brian berpamitan. Aku pun mengiyakan. Tak lama, kak Brian pergi. Setelah kakak pergi, aku pun menyusul sahabat ku ke mall tadi. Aku berjalan sambil mengirim pesan pada mereka.
Rupanya mereka masih asyik melihat artis-artis itu. Aku tiba di sana saat acara sudah memasuki penutupan.
"Telat kamu wi. Acaranya sudah selesai." aku hanya tersenyum mendengar ucapan Puspa.
"Ya ampun wi, liat tuh ganteng banget kan..." Kiara terlihat sangat senang melihat mereka.
"Kamu lihat deh Iqbal ramadhan. Cakep mana sama di tv?" aku melihat artis yang di tunjukkan Puspa.
"Sama saja. Gak ada bedanya." jawabku asal. Terlihat wajah mereka sangat tidak suka dengan jawabanku.
"Itukan menurut aku. Kalau kalian suka, ya sudah. Buat aku, gantengan kak Genta kemana-mana."
Seketika mereka menoyorku bersamaan. "Aduh...." teriakku.
"Dulu saja malu-malu, sekarang gak tahu malu." aku tertawa mendengar ucapan Kiara.
"Sekarang aku kan sudah bisa pamer sama kalian. Kalian mana bisa pamer sama aku." mereka mengalihkan perhatiannya pada artis-artis itu lagi.
Rupanya, mereka tak punya balasan untukku. Atau mungkin, sedang memikirkan cara membalas ku. Acara pun usai. Kami segera kembali.
Tiba di apartemen, kami segera menuju unit milik mamaku. Saat kami keluar lift, ku lihat kak Genta baru keluar dari unit kami tinggal.
Kami berpapasan dan saling melemparkan senyum. Hingga ia menghadang ku dan menyuruh Puspa serta Kiara masuk lebih dulu.
Waktu yang tepat. Aku pun ingin menyampaikan pesan kak Brian yang ingin bertemu dengannya. Kami menuju cafe yang ada di lantai bawah.
Di dalam lift, tidak ada satu pun di antara kami yang bicara. Aku sebenarnya ingin bertanya, namun ku urungkan. Ku tatap wajah kak Genta dari dinding lift. Terlihat tenang namun seperti ingin bertanya.
Kami masuk ke dalam cafe dan mencari tempat untuk bicara. Kak Genta memilih tempat paling ujung. Jauh dari pandangan orang, dan terasa tersembunyi.
Beberapa saat kami hanya diam. Aku tak tahan. Akhirnya aku memulai bicara lebih dulu.
"Ada apa kak? Sepertinya, ada yang ingin kakak bicarakan." tanyaku lebih dulu. Ia menatapku.
Kemudian, kak Genta mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah gambar padaku. Aku terkejut. Darimana dia mendapat fotoku dan kak Brian?
Kami saling menatap. Aku tahu, dia pasti ingin tahu hubunganku dengan kak Brian.
"Apa yang ingin kakak tahu?"