
Tahun telah berganti. Genta kini sudah duduk di bangku SMA. Sementara Kiara dan Dewi duduk di bangku kelas lima SD.
Kiara dan Dewi menjadi sahabat baik. Dewi pun semakin dekat dengan Genta. Genta yang semula tertutup, kini terlihat lebih terbuka. Meskipun, hanya pada Dewi dan Kiara.
Awalnya, Genta sering mengajak mereka bermain. Meski lebih terlihat seperti seorang kakak yang mengawasi adik-adiknya bermain, namun terasa ada yang berbeda di hati Genta pada Dewi.
Ia yang belum mengerti apa itu cinta, menganggap itu hal biasa. Tidak hanya itu, ia berusaha tidak mengembangkan perasaannya pada Dewi.
Aku gak boleh sampai punya rasa suka sama Dewi. Aku ini 'kakaknya'. Begitulah ia menanamkan kata-kata itu terus menerus.
Jangan gila Gen, Dewi itu seumuran Kiara. Mana mungkin kamu suka sama anak kecil. Lagi ia menggemakannya di dalam pikirannya.
Oke, jangan terjebak sama perasaan yang belum jelas ini. Itu bukan cinta. Belum saatnya kamu mengenal cinta. Masih terlalu dini untukku. Genta terus berperang dengan batinnya.
Saat ini, Genta tengah berbaring di dalam kamarnya. Ia mulai berperang dengan batinnya, ketika bayangan dan senyum Dewi melintas dalam benaknya.
Genta masih mengingkari perasaan yang entah sejak kapan mulai tertanam dalam hatinya. Lima tahun mengenal gadis kecil itu, ia merasa ada yang berbeda dengan gadis kecil itu.
Di usia yang terbilang belia, ia mampu menjadi mandiri. Bahkan ia bisa mengerti perasaan mamanya dan menjadikannya kuat. Entah sebenarnya dia kuat atau tidak.
Tapi Genta sangat iri dengan hati yang dimiliki Dewi. Seberapa lapang kah hati gadis itu? Mengapa ia begitu mampu melewati semua hal yang membuat hatinya sakit?
Sungguh, jika Genta yang berada di posisi Dewi, ia tidak mungkin mampu melewati semua itu seperti Dewi.
Genta memang tidak mengenal keluarga Dewi yang lain selain mamanya dan mbok Narti. Pasalnya, setiap Dewi bertemu dengan papa dan kakak tiri serta ibu tirinya, tidak pernah di tempatnya tinggal. Selalu saja, Dewi dan mamanya yang datang.
Mereka pun terbilang jarang mengunjungi Dewi. Ketika mereka berkunjung, tidak pernah dalam waktu yang lama. Jadi Genta tidak pernah bertemu dengan mereka.
"Kak Gen.." suara gadis kecil memanggilnya dari balik pintu. Memutuskan lamunan Genta dan berbagai hal yang sedang di pikirkan nya.
"Masuk de." jawab Genta mempersilahkan Kiara untuk masuk. Ya, yang berada di balik pintu itu, adalah Kiara.
Pintu terbuka, Kiara masuk kedalam kamar kakaknya.
"Kenapa de?" kata pertama yang terucap dari Genta setelah Kiara masuk.
"Kok tumben, habis makan malam kakak gak ikut nonton tv?" tanya Kiara setelah ia duduk bersebelahan dengan Genta di pinggir ranjang.
"Gak apa apa. Emang ada yang salah ya de?"
"Gak ada sih." jawab Kiara seraya menunjukan senyumnya.
"Ya udah, ade mau ke kamar ya kak." pamit Kiara. Genta hanya menganggukkan kepala dan tersenyum.
•••••••••••
Pagi hari di kediaman Dewi.
"Ma, liburan nanti, Dewi boleh ke luar negeri bertemu kak Brian dan papa?" tanya Dewi pada Sofia.
"Dewi tahu ma."
"Terus?" tanya Sofia lagi.
"Semua itu kan harus di rencanakan dari sekarang ma. Mama kan harus mulai mencari waktu cuti." ucap Dewi.
"Wah... ternyata anak mama sudah besar. Sudah mengerti kesibukan mama." ucap Sofia bangga. "Baiklah, kalau begitu. Mama akan mulai mencari waktu untuk mengambil cuti." ucap Sofia. Dewi pun tersenyum.
Dewi memang memiliki pemikiran jauh melebihi usianya saat ini. Caranya berfikir sudah seperti anak berusia tiga belas tahun lebih.
Mungkin, karena kesibukan Sofia, memaksanya harus mengerti dengan kondisi sang mama. Bukan karena Bram tidak memberikan tunjangan yang harus di dapat Dewi, namun Sofia tidak mungkin hanya mengandalkan Bram.
Bukan hanya itu, sebelum Bram mengetahui keberadaan Dewi, Sofia lebih dulu membuka lapangan pekerjaan bagi warga desanya. Itu pun menjadi pertimbangannya untuk berhenti bekerja. Bagaimana dengan nasib karyawannya?
Usai sarapan, Sofia mengantarkan Dewi ke sekolahnya. Di perjalanan, mereka bertemu dengan Genta dan Kiara. Sofia, mengajak mereka berangkat bersama. Genta dan Kiara pun masuk ke dalam mobil Sofia.
Tiba di sekolah, mereka bertiga pamit pada Sofia. Kebetulan, di sebelah sekolah Dewi dan Kiara, ada SMP dan SMA negeri. Jadi, sekolah mereka bersebelahan.
Dewi dan Kiara, memasuki gerbang sekolah mereka. Genta melanjutkan langkahnya menuju gerbang sekolahnya yang sudah tidak jauh lagi. Itulah mengapa mereka sering pergi sekolah bersama.
Jika pulang, Dewi hanya bersama Kiara dan Puspa sahabatnya.
••••••••••••
POV Dewi
Entah mengapa, saat bertemu dengan kak Genta, kakak dari Kiara, ada perasaan nyaman yang kurasakan. Meski awalnya ia terlihat cuek dan tak peduli, namun ia tetap memiliki sisi baik. Itu menurutku.
Kiara sendiri juga sering menceritakan kakaknya. Menurut cerita Kiara, kak Genta adalah sosok kakak yang baik dan penyayang. Aku yakin, Kiara tidak berbohong.
Jika di tanya apakah rasanya sama seperti ketika bersama kak Brian? Jawabannya, tentu saja berbeda. Aku tidak merasakan hal itu ketika bersama kak Genta. Entahlah, aku pun tak tahu perasaan itu.
Ya, ku pikir dia hanya akan menganggap ku sama seperti adiknya. Jika di tanya apa aku mencintainya? Jawabanku adalah aku tidak tahu. Jujur saja, aku belum mengerti apa itu cinta. Usia ku masih tergolong kecil.
Satu yang pasti. Aku merasa nyaman jika harus bercerita padanya. Dari setiap sahabatku dan teman-temanku, hanya dia yang tahu tentang keluarga ku. Aku tidak mengerti, kenapa jika bersamanya, seakan apa yang ingin aku tutupi tak bisa tertutupi.
Apa dia bisa melihat ap yang ku alami? Apa dia seorang peramal? Tapi, dia selalu ada ketika aku sedih dan butuh teman untuk berbagi. Aku tidak bisa berbagi cerita pada Kiara ataupun Puspa. Aku juga tak tahu kenapa.
Hmmm... Kenapa harus pada kak Genta? Kenapa tidak mbok Narti, yang sejak bayi menjagaku? Atau pada mamaku sendiri?
Jika aku tidak membagi kesedihanku tentang keluarga pada mama, itu adalah hal yang wajar. Karena aku tahu mama akan bersedih jika tahu aku sedih. Aku tidak ingin mama kembali pada papa karena terpaksa. Karena apa yang harus ku lakukan, adalah sesuatu yang di paksakan. Dan aku tahu bagaimana rasanya. Menyakitkan.
Aku juga masih bingung. Kenapa harus kak
Genta? Hati ku juga selalu berdebar jika sedang bersamanya. Hingga lima tahun sudah kami saling mengenal, perasaan berdebar itu tetap ada.
Tuhan, apakah ini yang di sebut cinta? Tapi aku masih kecil. Dan baru akan beranjak remaja. Apa aku sudah bisa merasakan cinta di luar keluargaku sendiri?