
"Sorry Cin, gue gak bisa. Karena ada hati yang harus gue jaga." tolak Genta tanpa berbasa-basi.
Cindy terdiam. Ia tak bereaksi sedikit pun. Ada Rasa sakit yang menyusup jauh ke dalam hatinya. Sesak sekali yang di rasa. Namun air matanya terasa mengering.
Hana menghampirinya. Ia memeluk sahabatnya seakan menyalurkan kembali semangat yang sempat pudar. Cindy tetap tak bergerak.
"Sudah Cin, lupakan saja dia." Hana menuntun Cindy untuk pergi meninggalkan tempatnya berdiri saat ini.
Seakan Cindy kehilangan raganya, ia menuruti kemana pun Hana membawanya. Pikiran Cindy terasa kosong.
Sakit sekali. Kenapa terasa sangat sakit sekali? Apa ini? Cindy tak mengerti dengan hatinya.
"Han, kenapa rasanya berbeda?" Hana mengernyit.
"Maksud Lo?" tanya Hana.
"Sakit banget Han!?" Cindy memegang dadanya. Matanya menatap Hana.
"Bukannya Lo sudah sering di tolak cowok?" Hana merasa ada yang salah dengan hati sahabatnya.
"Jangan bilang Lo beneran jatuh cinta sama Genta?" tanyanya memastikan.
Hana kembali terdiam. Pikirannya kembali melayang. Ia sendiri belum tahu hatinya. Apa benar yang di katakan Hana? Cindy tak tahu jawabannya.
Wah ini mah Cindy beneran jatuh cinta. Secara selama ini, kalau dia di tolak gak se down ini. batin Hana.
Mereka menghela nafas. Jika Hana menghela nafas khawatir pada kondisi hati Cindy, maka Cindy menghela nafas karena putus asa. Entah apa yang terjadi dengan hatinya.
•••••••••••••••
Setelah mendengar pernyataan Cindy, Genta merasa harus menjauh darinya. Ia tidak ingin memberikan harapan pada gadis itu. Meski ada rasa khawatir sebagai teman, namun ia tak ingin menambah luka di hati Cindy.
Sorry Cin, gue gak ada maksud nyakitin hati Lo. Gue juga gak bisa punya hubungan sama Lo lebih dari sekedar teman. batin Genta.
Bagas yang melihat Genta melamun, menghampirinya.
"Woi, Lo kenapa?" tanyanya begitu duduk di samping Genta. Saat ini, mereka sedang berada di depan perpustakaan.
"Gak apa-apa." jawabnya. Genta berusaha tersenyum.
"Bohong..." ucap Bagas sengit.
"Bener gas." Genta meyakinkan Bagas.
"Ya sudah kalau Lo belum mau cerita."
Keesokan harinya, Genta dan Cindy tak sengaja bertemu dan hampir bertabrakan. Genta yang akan keluar kelas, dan Cindy masuk ke dalam kelas. Cindy menatap Genta intens.
"Sorry." Genta tersadar lebih dulu. Cindy pun bergeser dan memberinya jalan.
Setelah Genta keluar, Cindy masuk ke kelas dan duduk di samping Hana dengan lesu. Ia membenamkan wajahnya di atas meja.
"Belum bisa move on?" Cindy diam. "Fix, Lo beneran jatuh cinta." Hana menebak. Hana menghela nafas.
"Mending Lo kejar Genta. Sebelum janur kuning melengkung, Lo masih ada kesempatan." saran Hana setengah berbisik.
Cindy mengangkat wajahnya tanpa mengubah posisi duduknya. Ia menatap lekat wajah Hana. Hana tersenyum meyakinkan. Cindy membenarkan duduknya. Tiba-tiba senyumnya terbit. Hana yakin, kini semangat Cindy kembali.
••••••••••••••
Tanpa terasa, waktu terus berjalan. Hari ini, Dewi akan datang ke ibu kota. Tujuannya adalah untuk bertemu papanya. Sudah cukup lama ia tak bertemu papanya itu.
Saat ini, Dewi sedang dalam perjalanan menuju rumah papanya. Sofia menyuruh supir untuk mengantarkan Dewi. Ia tengah di sibukkan dengan pekerjaan.
Tiga jam sudah ia dalam perjalanan. Sebentar lagi, ia akan bertemu papanya. Tiba di kediaman Arthajaya, Dewi segera turun dan berlari.
Bram, Rianti dan Kinanti yang tengah duduk bersama di ruang keluarga, menyambut Dewi dengan tangan terbuka.
Di peluknya Dewi dengan erat. Rasa rindu di hatinya seakan meluap ketika bertemu putri yang sangat jarang bertemu dengannya itu. Matanya memancarkan kasih sayang sekaligus kerinduan yang mendalam
"Apa kabar sayang? Papa kangen banget." lirih Bram dengan mata berkaca-kaca. Di kecup nya puncak kepala Dewi berulang kali.
"Baik pa. Dewi juga kangen sama papa." Dewi menangis di pelukan Bram.
Rianti dan Kinanti, terharu melihatnya. Dewi melepaskan pelukannya dari Bram dan beralih pada Rianti.
"Mama..." Rianti balas memeluknya dan mencium puncak kepala Dewi. Sama dengan Bram, Rianti pun meluapkan kerinduannya.
Apakah Kinanti cemburu? Tidak. Karena baik Bram, Rianti, maupun Brian, memperlakukan Dewi dan Kinanti sama. Hanya saja, saat ini Kinanti tidak cemburu sama sekali. Ia paham sudah berapa lama mereka tak bertemu.
Kali ini, Dewi mengalihkan pelukannya pada Kinanti.
"Kinan... kangen..." Kinanti memeluk Dewi.
"Aku juga kak.."
Mereka pun saling bersenda gurau bersama. Makan siang dan malam bersama. Khusus hari ini, Dewi di perbolehkan menginap di kediaman Arthajaya papanya.
Dewi memilih tidur bersama Kinanti di bandingkan kamar yang di siapkan khusus untuknya di rumah itu. Beruntung, esok adalah hari libur. Jadi mereka ingin menghabiskan waktu bersama.
Keesokkan harinya, Kinanti mengajak Dewi berjalan-jalan. Dewi pun menyetujuinya. Setelah puas, mereka mampir ke sebuah cafe. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore.
Sangat kebetulan, cafe yang di datangi Dewi dan Kinanti, adalah tempat Genta bekerja. Genta mengantarkan pesanan di dekat meja Dewi, dan melihat keberadaan Dewi.
Genta menatap Dewi dengan penuh kerinduan. Dewi sendiri, belum menyadari keberadaan Genta. Melihat senyum dan tawa Dewi yang lepas, membuat Genta tersenyum.
Dialihkannya tatapannya pada gadis di sebelah Dewi. Ia ingat pernah melihat gadis itu. Entah dimana. Ia putuskan menghampiri meja Dewi dan gadis itu.
"Selamat sore, silahkan menunya." sapa Genta.
Dewi mendengar suara suara pria yang begitu ia rindukan. Cepat ia mengalihkan pandangannya dari buku menu.
"Kak Gen.." wajahnya penuh keterkejutan. Genta tersenyum dengan sangat manis.
Kinanti melihat pria yang terlihat di kenal kakaknya itu. Ada pertanyaan dalam benaknya.
"Kinan, kenalin. Dia kak Genta, kakaknya Kiara." Dewi memperkenalkan Genta pada Kinanti. Kinanti dan Genta berjabatan tangan dan memperkenalkan diri.
"Kayanya, aku pernah ketemu kamu?" tanya Genta yang merasa penasaran.
"Aku kan pelanggan cafe ini." jelas Kinanti. Genta menganggukkan kepalanya.
Dewi dan Kinanti pun memesan camilan dan es kopi. Saat mengantarkan pesanan Dewi, Genta meminta izin untuk bertemu seorang yang di kenalnya dan kebetulan, sedang ada di cafe itu.
Setelah mendapat izin, Genta bergabung dengan Dewi dan Kinanti. Mereka bertukar cerita dan bersenda gurau. Dewi dan Genta melepas sedikit kerinduan mereka. Bagi Genta, pertemuannya dengan Dewi kali ini, menjadi penyemangat nya.
Setelah setengah jam, Dewi dan Kinanti pun berpamitan. Dewi pun mengucapkan bahwa, libur semester ini, ia akan ada di ibu kota lagi. Genta sangat menantikan kedatangan Dewi berikutnya.
•••••••••••
Hai teman-teman semua. Mohon maaf karena up ku jadi sedikit molor dari waktunya. Karena kondisi kesehatan yang sedang memburuk, aku sedikit kesulitan konsentrasi dalam menulis bab ini.
Bila ada typo maaf ya. Doakan aku agar tetap sehat selalu.🙏🙏☺️
Terimakasih untuk dukungan kalian semua....
Love you all😘💖🙏😇