
Mereka tiba di sebuah restoran bergaya barat. Setelah mereka duduk, seorang pelayan datang mencatat pesanan mereka.
Dave menceritakan masa lalunya bersama Sofia pada Dewi. Dewi hanya mendengarkannya. Awalnya, Dewi tidak menyukai Dave. Ia tak ingin mamanya kembali menjalin hubungan dengan seorang pria. Namun kini, Dewi ikut tertawa mendengar cerita Bram tentang Sofia. Masa lalu Sofia yang tidak pernah ia ketahui. Dari kejauhan, terlihat Bram dan Brian yang memperhatikan interaksi mereka.
Bram, merasakan kecemburuan meliputinya. Dewi tak pernah tertawa seperti itu padanya setelah beranjak dewasa. Tawa lepas dari Sofia pun, sudah lama menghilang dari wajah cantiknya.
Kini, melihat dua wanita tercintanya bisa tertawa dan tersenyum seperti itu dengan pria lain, membuatnya marah. Brian memperhatikan pria yang bersama Sofia.
Rasanya, ia mengenal pria itu. Ia menatapnya lekat-lekat dan mengingatnya. "Bukankah pria itu Dave Barata dari Barata Com.?" tanya Brian.
"Siapa?" tanya Bram yang tak fokus pada ucapan Brian tadi.
"CEO Barata Com. Dave Barata." Bram akhirnya ingat.
Jadi, dia mantan tunangan Sofia? ia terbelalak dengan ingatannya. Ia baru mengingat, jika Pras sudah memberitahunya tentang Dave yang akan kembali mengejar Sofia. Ia sempat melupakan itu.
"Papa kenapa?" tanya Brian ketika melihat ekspresi Bram yang terkejut.
"Tidak ada. Teruskan makan mu. Papa duluan." Bram pun melangkah meninggalkan restoran itu lebih dulu.
Sejujurnya, Brian merasa bingung dengan raut wajah Bram yang seketika berubah. Ingin dia menanyakannya, namun Bram lebih dulu berlalu.
Brian masih melihat interaksi mereka yang terlihat akrab. Hingga Bagas datang dan mengingatkannya bahwa mereka harus pergi sekarang untuk menghadiri rapat dewan direksi bulanan.
"Pak, kita harus kembali. Sebentar lagi waktunya rapat bulanan dengan dewan direksi." ucap Bagas.
"Ah.. iya. Aku hampir saja lupa. Ayo." Brian merapihkan pakaiannya dan meninggalkan restoran itu. Genta menunggu di luar.
"Gen, di dalam ada Dewi dan mama Sofia. Kamu awasi mereka." pinta Brian.
"Maaf pak, saya tidak bisa meninggalkan bapak. Saya perhatikan, ada yang sedang memperhatikan bapak beberapa hari ini." tolak Genta.
"Siapa?" Brian berbalik dan bertanya.
"Masih saya selidiki pak." ucap Genta.
Brian tampak ragu. Namun kemudian, ia mengikuti instruksi Genta yang menjaganya. Sofia dan Dewi di jaga oleh pengawal pribadi ibunya dari kejauhan. Jadi Genta tak perlu cemas.
Beruntung dirinya mengenal para pengawal Sofia. Mereka memang hanya berjaga dari jauh. Dan mereka akan bergerak ketika memang sudah waktunya. Itulah yang membuat Genta tak perlu khawatir, dan tetap mengawal Brian. Sudah tugasnya untuk menjaga keselamatan atasannya itu.
Beberapa kali Genta melihat kaca spion tengah dan sampingnya. Ia memperhatikan mobil yang mengikuti atasannya ini. Brian tidak menyadarinya dan masih fokus dengan iPad di tangannya.
Bagas yang duduk di samping Genta, ikut memperhatikan mobil itu. Genta dan Bagas pun saling pandang. Bagas yang mengerti maksud Genta, segera membuka laptopnya. Ia membuka kamera CCTV yang sengaja di pasang di bagian belakang mobil yang mereka tumpangi. Dan ia memperbesar gambar itu. Sayangnya, kaca mobil itu terlihat gelap.
Bagas menggelengkan kepala. Tepat saat itu, mereka tiba di gedung Wijaya Group. Bagas keluar bersamaan dengan Genta dan membukakan pintu untuk Brian.
Brian melangkah memasuki lobi bersama Bagas. Genta memarkirkan mobil lebih dulu. Setelahnya, ia mulai membuka ponselnya dan melihat CCTV tersembunyi yang sudah dirinya dan Bagas pasang untuk memastikan tidak ada orang yang membahayakan Brian.
Terlihat mobil yang mengikuti mereka berhenti di pinggir jalan depan gedung Wijaya Group. Pintu kaca mobil di turunkan. Genta mengernyit melihat seorang gadis yang tak pernah di lihatnya mengintai Brian.
Cukup lama gadis itu berada di sana. Hingga akhirnya dia memutuskan pergi dari sana. Genta bernafas lega. Dari raut wajah gadis itu terlihat kerinduan yang menggebu saat melihat Brian.
Genta tak ingin gegabah. Ia harus memastikan siapa gadis itu. Siapa gadis itu? Aku tak pernah mengenalnya. Sudahlah. Belum ada kepastian. batinnya.
Baru saja Genta memasukkan ponselnya ke dalam saku, ponsel itu kembali berdering. Genta pun mengambilnya kembali dan tersenyum melihat nama Dewi yang terpampang di layar ponselnya.
"Halo.." ucapnya dengan senyum yang masih terkembang.
"Kak, nanti bisa jemput aku di kantor mama?"
"Jam berapa sayang?" tanyanya.
"Aku tidak bisa janji sayang. Karena kakakmu sedang di intai seseorang." lirih Genta.
"Hmmm... Ya sudahlah. Bagaimana lagi. Sudah profesi kakak yang mengharuskan kakak memprioritaskan kakakku."
"Maaf ya." ucapnya sendu.
"Tidak apa. Itu resiko ku. Aku mengerti kok. Kalau begitu, semangat ya kerjanya."
"Terimakasih sayang. Muach." Dewi terkikik dari seberang sana.
"Kalau jauh berani, kalau dekat gak berani begitu." ledek Dewi.
"Jangan mulai meledek ya. Nanti kalau aku cium beneran kaget loh." ucapnya. Dewi tertawa dan memutus sambungan telepon itu.
"Hmmm.. Coba kalau sudah jadi istri. Paling tidak, kalau malam pasti bertemu. Jadi kangen." ucap Genta seraya menatap ponselnya.
Benar saja dugaan Genta. Rupanya, Brian baru selesai bekerja tepat pukul enam sore. Saat keluar dari gedung Wijaya Group pun, mobil siang tadi masih mengikuti.
Beruntung siang tadi Bagas memberikan CCTV baru dan meminta Genta memasangkannya di bagian belakang, menggantikan CCTV itu.
"*Ganti dengan yang ini. Ini sudah ku modifikasi." ucap Bagas.
"Oke. Bisa saja Lo." kekeh Genta.
"Bisa lah. Ini biar lebih gampang."
"Sebenarnya siang tadi gue sudah liat. Pengemudi itu seorang gadis. Tapi gue gak kenal." tutur Genta.
"Siapa?"
"Mana gue tahu? Kalau gue tahu, sudah gue laporin ke bos." Bagas hanya menganggukkan kepala*.
Bagas mulai mengaktifkan CCTV itu melalui laptopnya. Benar saja, CCTV itu bisa menembus kaca mobil yang gelap itu. Bagas memandang Genta. Genta mengendikkan bahunya tak tahu.
Brian tak sengaja menangkap interaksi aneh dari Bagas dan Genta. "Kalian kenapa?" tanyanya.
"Gak ada pak." jawab Bagas terbata-bata.
"Gen..." Genta menarik nafas dalam.
"Mobil di belakang mengikuti kita terus pak selama beberapa hari ini." ucap Genta.
Brian memutar tubuhnya dan melihat mobil yang di tunjuk Genta. Ia tak bisa melihat kedalam mobil itu karena kacanya yang gelap.
"Gak kelihatan." ucap Brian.
"Itu dia masalahnya pak. Saya hanya tahu, pengemudinya seorang wanita." Brian mengernyitkan dahi.
"Masih muda." lanjutnya.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanyanya.
"Siang tadi dia sempat membuka kaca mobilnya." jelas Genta.
"Kenapa tidak kau tanyakan?" Genta terdiam kaku.
"Maafkan saya pak." Brian mendesah.
Brian pun tak ambil pusing pada wanita itu. Jika memang berbahaya, Genta pasti akan segera bertindak. Tapi jika tidak, Genta tahu apa yang harus di lakukan nya.