My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Keraguan Genta



Genta terdiam melihat ekspresi tenang dari Dewi. Tak terlihat rasa bersalah sedikit pun. Ia semakin mengernyitkan dahinya.


Dewi menghela nafas perlahan. "Tanyakan saja. Aku pasti akan jawab dengan jujur."


Genta berdeham untuk melegakan tenggorokannya. "Ekhmm.. Kamu mengenal pak Brian?"


"Pak Brian? Kakak memanggil pria ini 'pak'?" Dewi menunjuk foto Brian. Genta mengangguk.


"Kenapa?"


"Kok kamu malah balik bertanya?" Dewi melempar pandangnya ke arah lain.


"Maaf kak."


"Dia itu.... kakakku." lirihnya. Genta menatap manik mata Dewi, saat mata Dewi juga menatapnya.


Mereka saling menatap. Tak ada yang bicara. Genta melihat kejujuran dari mata gadis itu.


Benarkah itu? Kakak? Oh my God. Saat pak Brian tahu adiknya dan aku berhubungan, apa aku akan kehilangan pekerjaan? Bagaimana dengan keluarga ku? Tidak-tidak. Aku tidak bisa menyerah hanya karena masalah perbedaan sosial seperti ini. Sekalipun pak Brian menolak ku, aku harus bisa meyakinkannya jika aku adalah yang terbaik untuk adik tercintanya.


Genta mencoba membangun rasa percaya dirinya sendiri sebelum memberitahu Dewi, bahwa dia bekerja sebagai pengawal pribadi sekaligus asisten pribadi kakaknya itu.


Bagaimana reaksi Dewi saat tahu aku ini bawahan kakaknya? Apa dia akan menyuruhku mencari pekerjaan lain? Ya ampun, pikiranku sudah terlalu jauh. Kenapa tidak berpikir positif saja sih? batinnya lagi.


Dewi sudah beberapa kali mengibaskan tangannya guna menyadarkan Genta dari lamunannya. Namun, Genta masih sibuk dengan pemikirannya sendiri.


"Kak.." Dewi akhirnya mengguncang tangan Genta yang ada di atas meja. Membuat Genta terjingkat dan kembali dari lamunannya tadi.


"Kok melamun sih? Ada masalah?" tanya Dewi masih memegang tangan Genta.


Genta menatap cincin yang terpasang di jari manis sebelah kiri Dewi. Cincin yang ia berikan kemarin. Genta tersenyum dan menggenggam kedua jemari gadis itu.


"Maaf, aku sempat berpikiran jelek tentang kamu." lirih Genta. Genta merasa bersalah. Ia mencium jemari Dewi. Kata-kata yang akan terucap tentang profesinya, kembali tertelan.


"Gak apa kak. Kakak gak salah." Dewi tersenyum.


"Kak Brian bilang, dia ingin bertemu kakak."


Wajah Genta pias mendengar jika atasannya ingin bertemu dengannya sebagai kekasih dari Dewi. Dewi melihat perubahan wajah kekasihnya dan menenangkannya.


"Kakak tenang saja. Aku akan mendukung kakak." Dewi menepuk tangan Genta dan menggenggamnya erat. Seakan menyalurkan semangat.


Senyum pun terlihat di wajah tampan Genta.


"Kapan kakakmu ingin bertemu denganku?" tanya Genta kemudian.


"Secepatnya. Kapan kakak bisa?" jantung Genta berdegup cepat mendengar kata 'secepatnya'.


"Kapanpun aku bisa." ucap Genta. Dewi bisa merasakan tangan Genta yang semakin dingin.


"Oke. Akan aku sampaikan. Tapi... Kenapa tangan kakak dingin sekali?" Genta hanya tersenyum kaku tanpa menanggapinya.


•••••••••••


Keesokkan harinya, Genta kembali pada rutinitas pekerjaannya. Ia mencoba melupakan sejenak persoalan akan bertemu Brian sebagai 'calon kakak ipar' nya.


Pagi tadi, saat menjemput Brian di kediamannya, entah kenapa membuat jantung Genta terus berdegup kencang. Saat mengantarkan dokumen ke ruangan Brian, tangan Genta bergetar dan jantungnya, kembali berdetak lebih cepat.


Hal itu membuat Brian heran. Hingga akhirnya, memanggil Genta dan menanyakannya langsung.


"Ya, pak. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Genta masih dengan kegugupan yang terlihat jelas di wajahnya.


"Kamu itu kenapa sih? Sejak pagi saya perhatikan sangat gugup. Apa yang membuatmu gugup seperti itu?" tanya Brian.


Itu karena anda pak. Anda adalah calon kakak ipar saya yang membuat saya gugup setengah mati seperti ini.


"Gen.... kok kamu malah bengong?" tanya Brian saat Genta hanya terdiam.


"Tidak apa pak. Saya..." ketukan pintu menyelamatkan Genta.


Tok... Tok... Tok... "Masuk." perintah Brian.


Jenny melangkah masuk dan mengingatkan jadwal rapat yang harus di hadiri oleh Brian dan Genta. Brian pun menutup berkas di tangannya dan memakai jasnya. Kemudian, Brian dan Genta melangkah bersama menuju ruang rapat.


Genta bisa bernafas lega. Tapi entah untuk lain kali.


"Oh iya, tolong kosongkan jadwal saya Sabtu ini ya Jen. Saya ada pertemuan keluarga." Jenny mengangguk.


Deg... ternyata Dewi sudah mengaturnya.


Genta terus meyakinkan dirinya jika Brian akan merestui hubungannya dengan Dewi. Meski lagi dan lagi, keraguan menghampirinya.


Apa yang salah, gue pintar, cerdas, cekatan. Apa yang kurang dari diri gue? Pak Brian pasti bisa terima gue. Uang bisa di cari, tapi pria setia seperti gue, akan susah dia dapat. Gue cukup pantas bersanding dengan adiknya. batin Genta membanggakan dirinya sendiri.


Tunggu dulu, berarti pak Bram adalah calon ayah mertua gue? Oh my God. Gue baru sadar. Dia itu adalah orang yang benar-benar gue kagumi dalam membangun bisnis. Meski untuk kehidupan rumah tangganya, gue gak suka. Kasihan mama dan Dewi. Gue janji, gue akan bahagiakan Dewi, dan menerima dia apa adanya. Seperti dia menerima segala kekurangan dan kelebihan gue.


Genta teringat dengan masa lalu Dewi yang pernah Dewi ceritakan. Ada rasa pilu yang menyayat hatinya. Dewi dan Sofia pernah mengalami masa sulit. Masa dimana, setiap anak perempuan ingin berada di dekat sang ayah dan bermanja-manja namun kenyataan, sang ayah tak ada di sampingnya. Hingga ia harus mendapatkan nya dari pak Gunawan ayah dari Genta dan Kiara.


Keluargaku, sudah menyayangi Dewi. Begitupula dengan mama. Mama Sofi juga sudah menyayangiku dan Kiara. Aku, tidak akan membuat Dewi dan mama Sofi kecewa. Akan aku buktikan, bahwa cintaku hanya untuk Dewi seorang.


Genta berjanji pada dirinya sendiri. Dan ia akan berjuang sekuat tenaga, untuk mendapatkan restu dari Bram selaku ayah kandung Dewi, dan Brian, kakak tiri Dewi.


Genta tak menyimak rapat dengan baik. Konsentrasinya terpecah. Hingga rapat berakhir, hanya raga Genta yang berada di tempat.


Siang berganti sore. Waktu pulang pun tiba. Genta mengantarkan kembali atasannya ke kediaman nya. Dalam perjalanan, Genta hanya diam.


"Jadi, apa masalah yang tengah kau hadapi Gen?" tanya Brian.


"Restu dari keluarga pacar." lirihnya. Genta tak sadar, jika ia baru saja mengatakan kegundahannya pada Brian yang adalah kakak Dewi.


"Restu? Apa mereka menolak mu?" tanya Brian lagi. Pria itu mulai penasaran dengan permasalahan Genta. Pasalnya, Genta tak pernah terlihat kacau seperti ini.


"Justru hal itu yang di takutkan. Di tolak." Genta masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Hingga mobil berhenti di kediaman Wijaya, baru Genta menyadari, jika ia masih bersama Brian.


Aduh, jadi tadi yang tanya pak Brian? Gue ngomong apa saja ya? Gak yang aneh-aneh kan? Genta bermonolog dengan dirinya sendiri.


"Saya yakin, mereka akan merestui hubungan mu dengan kekasihmu. Kamu harus percaya diri." Brian menepuk pundak Genta.