
Genta memulai aksinya. Ia sudah mengetahui hotel yang akan di gunakan Daniel untuk menjebak Brian. Ia mulai memasang perangkap.
Selesai melakukannya di kamar hotel, Genta mulai menyiapkan perangkap lagi dalam sajian makan malam milik Jasmine dan Brian.
Genta melihat minuman yang sengaja di bubuhi obat perangsang. S**lnya, makanan itu masih di jaga oleh Rendy. Dia tak bisa gegabah.
Dia harus memikirkan cara lain. Sayangnya, ia kalah cepat dengan waktu. Genta mulai mengendap-endap melihat mereka mengantarkan makanan dan minuman itu.
S**lnya, minuman itu tepat di berikan pada Brian. Jantung Genta mulai berpacu dengan cepat. Ia tidak boleh kalah. Atau, semua akan sia-sia.
Makan malam selesai. Minuman milik Brian pun sudah tandas. Brian terlihat memejamkan matanya berkali-kali.
Tidak... tidak... tidak.... B***h kau Genta. Bagaimana bisa rencanamu gagal setelah sejauh ini? Genta memaki dirinya sendiri.
Tiba-tiba matanya berbinar. Sepertinya, ia sudah mendapatkan ide cemerlang. Segera ia tinggalkan restoran itu. Tepat saat Jasmine di bantu Rendy membawa Brian, lampu koridor yang menuju kamar milik Jasmine padam. Sedetik kemudian, ada orang yang menyerang Rendy hingga pingsan. Genta segera mendudukkan Brian di koridor lebih dulu.
Bagas ternyata sudah memonitoring dari jauh. CCTV di koridor ikut mati. Kemudian, Genta membuka pintu itu dan membawa Rendy masuk. CCTV belum di nyalakan, dan Genta membaringkannya di atas ranjang. sebelum keluar, Genta memberikan bubuk yang sama ke dalam mulut Rendy dan menuangkan air hingga bubuk itu tertelan.
Terlihat, Jasmine belum masuk. Segera Genta keluar dan membawa Brian ke kamar seberang yang sudah di sewanya. Ia membaringkan Brian di sana.
•••••••••
Rianti kembali ke ibukota dengan tergesa-gesa. Ada perasaan aneh yang membuatnya tak tenang. Ia tiba tepat tengah malam.
Rianti bergegas menuju kamar Brian. Pikirannya selalu saja terbayang akan Brian belakangan ini. Pintu terbuka, namun Brian tak ada. Ia segera menuju kamar suaminya. Terlihat Bram yang tengah tertidur pulas.
"Mas.... Mas bangun mas...." Rianti mengguncang tubuh Bram.
Bram mengerjapkan matanya. "Rianti, kapan kau pulang?" tanyanya dengan suara parau.
"Brian dimana mas?" Rianti tak menghiraukan pertanyaan Bram dan balik bertanya.
"Kenapa kau mencarinya di sini? Cari saja di kamarnya." Bram kembali memejamkan matanya.
"Kalau ada, aku tidak akan bertanya." ucapnya kesal.
Seketika, mata Bram terbuka lebar. Ia ingat, Brian ada jamuan makan malam dengan Jasmine malam ini. Ia bangkit dan mengambil ponselnya.
Ia mulai menghubungi Bagas. Sayangnya, Bagas tak menjawab. Kembali ia menghubungi Genta. Tak lama, Genta menjawabnya.
"Iya pak!?"
"Cari Brian sekarang dan hubungi aku." Bram langsung mematikan telepon.
Bram terlihat geram. Daniel, jika kau berani membuat putraku melakukan hal yang tidak-tidak, aku tidak akan segan-segan membunuhmu.
Emosi Bram memuncak. Wajahnya terlihat merah. Rianti menghampirinya.
"Mas, dimana Brian?" tanyanya kembali.
Bram tidak menjawab. Tangannya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia segera membasuh mukanya dan mengganti bajunya.
Tak sabar menunggu berita, ia menyuruh orang kepercayaannya bergerak. Satu jam berlalu tanpa kabar. Bram menyugar rambutnya. Rianti terus merengek menanyakan keberadaan Brian.
Bram frustasi dan membentak Rianti. "Kau bisa diam tidak." matanya sudah membola menatap Rianti.
Rianti terdiam seketika. Selama ini, Bram tidak pernah membentaknya. Ia terduduk di sofa dan menunduk dalam ia terisak. Hatinya perih mendapat perlakuan seperti ini.
Bram tersadar sudah melakukan kesalahan. Pria itu mengusap wajahnya kasar. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membentak mu." ucapnya lirih.
Mereka akhirnya diam tanpa kata hingga matahari menampakkan cahayanya. Rianti mengabaikan tubuh lelahnya dan segera keluar begitu pagi menyambut.
Bram melihatnya dan mengejarnya. "Kau mau kemana?" tanyanya.
"Lepaskan aku." ucap Rianti tanpa memandangnya.
"Mencari anakku." Bram melepaskan Rianti.
Rianti segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan Bram dalam keadaan linglung.
Bram tak percaya Rianti bisa memiliki tatapan penuh intimidasi seperti itu. Saat ia masih termenung, ponselnya berbunyi. Ia segera menjawabnya.
"Kenapa lama sekali?" ujarnya.
"Maaf pak, saya tidak bisa menemukan pak Brian." ucap orang kepercayaannya.
Bram mengumpat kesal mendengar kabar itu. Kemana perginya putranya itu? Tak lama, sebuah mobil memasuki area rumahnya.
Bram mengenal mobil itu. Itu adalah mobil milik Brian. Bram menghela nafas. Sedikit kelegaan bisa melihat putranya kembali.
Bram menghampiri mobil itu. Genta keluar dan membantu Brian berjalan. Wajah Brian terlihat pucat. Bagas pun keluar dari pintu pengemudi dan membantu Genta membawa Brian.
Bram termangu melihat kondisi Brian. "Apa yang terjadi?" tanya Bram.
"Nanti kami jelaskan pak. Sekarang, kita harus membawa pak Brian ke kamarnya." ucap Genta.
Mereka segera membawa Brian menuju kamarnya dan membaringkannya di atas ranjang.
"Terimakasih Genta. Kau ternyata sudah menyiapkan semuanya dengan matang." lirih Brian.
"Istirahatlah. Kau butuh istirahat sekarang." ucap Genta.
Mereka keluar dari kamar Brian dan membiarkannya beristirahat. Bram kembali mencecar Genta dengan banyak pertanyaan.
"Sekarang jelaskan padaku." pinta Bram.
Genta pun menceritakan semua awal rencananya hingga jebakan yang ia buat. Tidak ada yang terlewati. Bahkan, video pergulatan Jasmine dan Rendy pun, sudah ia serahkan pada Bram jika seandainya Jasmine menuntut Brian.
Semua sudah diperhitungkan dengan baik oleh Genta dan Bagas. Misi melepaskan Brian dari Jasmine pun selesai.
Bram bangga pada Genta. Calon menantunya ini cukup cerdik dalam menghadapi musuh. Ia sendiri tidak pernah berpikir sampai sana.
"Bagus Genta. Dengan ini, aku percaya kau mampu menjaga putriku Dewi. Jika kau mampu menjaga kakaknya dari ancaman musuh, kau pasti mampu menjaga putriku dari bahaya." Bram menepuk pundak Genta.
Genta dan Bagas pun pamit. Bagas, kembali ke perusahaan dan bekerja seakan tidak ada yang terjadi. Genta masih mengawasi Jasmine dan Daniel serta Rendy.
••••••••••
Rendy dan Jasmine membuka bersamaan. Jasmine terkejut melihat Rendy di sampingnya.
"Kau.... Kenapa kau disini?" geram Jasmine.
"Maaf nona, sepertinya ada kesalahan saat menjalankan tugas." Rendy menundukkan kepalanya.
Ia tersadar, dirinya tak lagi berpakaian..Ia mengalihkan pandangannya dan melihat pakaian yang berserakan.
S**l.... kenapa jadi aku yang melakukan hubungan itu? Rendy menutup wajahnya.
Jasmine menyadari dirinya sudah melakukan keb***han. Ia segera berlari menuju bathroom dan membersihkan dirinya.
Ahhh.... aku b***h sekali. Semalam aku bahkan menikmati permainannya. Ku pikir dia Brian. S**l.... Bagaimana ini? Ayah pasti akan membunuhku. B***h kau Jasmine..... Jasmine mengumpat dirinya sendiri.
•••••
Gimana ya reaksi Daniel? Apa dia akan menuntut Brian? atau dia akan mundur?
Tugas pengawalan yang berat berakhir.....